Tautan-tautan Akses

Mahasiswa Surabaya Buat Alat Pengeringan Krupuk dan Produk Makanan Olahan

  • Petrus Riski

Fandri Christanto, Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menunjukkan alat pengering krupuk buatannya (Foto: VOA/Petrus Riski).

Cuaca tidak menentu akhir-akhir ini menyebabkan usaha pembuatan produk makanan olahan menjadi terganggu. Termasuk usaha kecil masyarakat dalam pembuatan krupuk, ikan asin, hingga usaha pencucian dan pengeringan baju yang merasakan dampaknya ketika matahari tidak bersinar dengan terik.

Seorang mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Fandri Christanto, merancang sebuah alat pengering krupuk yang mampu mempercepat waktu pengeringan dan menampung cukup banyak jumlah produksi krupuk yang akan dikeringkan. Fandri mengatakan, ide pembuatan alat pengering krupuk ini didasari usaha orang tuanya di Mojokerto yang memproduksi aneka produk krupuk. Namun karena cuaca yang tidak menentu dan matahari yang tidak bersinar secara maksimal, seringkali produksi krupuk terkendala proses pengeringan yang cukup lama.

“Saya melihat orang tua saya itu kalau musin hujan susah untuk mengeringkan krupuk, dan lagian kalau kita pakai energi konvensional, matahari, itu pasti akan membutuhkan waktu yang lama dan tempat yang luas. Nah maka dari Karena itu, saya dan beberapa dosen pendamping berinovasi untuk membuat alat pengering ini,” ungkapnya.

Alat pengeringan krupuk itu berukuran 120 x 260 cm, dengan tinggi sekitar 240 cm. Alat ini dirancang untuk mampu menampung sekitar 50 kilogram bahan krupuk basah, untuk satu kali pengeringan. Penggunaan alat ini bisa menggantikan panas matahari, dengan waktu pengeringan yang cukup singkat dan tidak memerlukan lahan luas seperti saat menjemur di bawah sinar matahari.

“Pengeringan ini dilakukan menggunakan bahan bakar LPG untuk pemanasnya, sedangkan listrik digunakan untuk menyalakan sebuah blower dan sistem otomasinya saja. Listrik ini memakan daya sebesar 72 watt saja. Mengeringkan krupuk 50 kilogram dengan jangka waktu hanya 90 menit saja. sehingga cepat. Untuk LPG asumsi 3 kilogram, kita bisa pakai selama untuk tiga 3 kali pengeringan, 1 tabung LPG kurang lebih menghasilkan (memanaskan) 150 kilogram krupuk,” tambahnya.

Dosen pembimbing dari Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Andrew Joewono mengatakan, metode pengeringan memanfaatkan angin panas dipastikan tidak memakan energi yang besar, baik listrik maupun bahan bakar LPG.

“Mesin ini ada tiga bagian, ada rak pengeringan, ada rak pengarahnya, ada angin panasnya. Jadi metode yang kita pakai itu, metode pengeringan dengan menggunakan angin panas, nah angin panasnya itu yang diputarkan kembali untuk dimasukkan kembali mengeringkan, sehingga tidak ada angin panas yang terbuang, sehingga bisa diputar lagi, sehingga sistem ini menjadi lebih hemat,” ulasnya.

Andrew Joewono mengatakan, desain sederhana serta pengoperasian yang mudah, membuat alat pengeringan ini dapat dimanfaatkan oleh para pelaku pemilik usaha kecil. Terutama Pembuatan alat ini tidak memerlukan biaya terlalu tinggi, karena memanfaatkan bahan yang sudah tidak terpakai.

“Memang mesin ini didesain untuk bisa membantu banyak UMKM, kelompok-kelompok mikro kecil, untuk usaha-usaha yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.

Tidak hanya dapat digunakan untuk pengeringan bahan krupuk, alat pengering ini mampu dimanfaatkan oleh masyarakat yang memiliki usaha pembuatan ikan asin, serta usaha lain yang memerlukan sistem pengeringan cepat.

“Karena media alat ini merupakan menggunakan pengeringan dengan angin panas, berarti yang bisa dilakukan digunakan mulai dari penjemuran ikan, kalau mauuntuk dijadikan ikan asin, atau kripik, lalu model krupuk, sampai kita pernah uji coba dengan model laundry. Jadi kalau kondisi matahari tidak bagus, setelah cuci, masukkan 15 sampai 20 menit kita dapat hasil yang kering,” kata Andrew. [pr/ii]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG