Tautan-tautan Akses

Surabaya Peringati Tahun Baru Jawa dengan Upacara Greget Sura


Prosesi penyucian sesaji pada Upacara Greget Sura di Surabaya (5/11). (VOA/Petrus Riski)
Prosesi penyucian sesaji pada Upacara Greget Sura di Surabaya (5/11). (VOA/Petrus Riski)

Upacara Greget Sura menjadi ajang pelestarian budaya, sekaligus penyucian diri dan permohonan keselamatan.

Upacara Greget Sura yang digelar Padepokan Seni Budaya Kampoeng Ilmu di Surabaya, Selasa (5/11), tidak hanya memperingati tahun baru penanggalan Jawa 1947 Saka, melainkan juga sebagai momentum mengingatkan kembali hakekat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Iringan doa dan nyanyian dalam bahasa Jawa dibawakan oleh pemimpin upacara yang diikuti ratusan orang dari berbagai elemen masyarakat lintas agama dan budaya, termasuk penganut Keyakinan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua panitia Upacara Greget Sura, Wardhani Musban Ali mengatakan, berbagai sesaji berupa nasi tumpeng beserta kelengkapannya dari hasil bumi, dihadirkan bersama doa-doa yang memohon keselamatan serta kesucian diri bagi warga dan bangsa Indonesia.

“Secara umum, acara yang kami tampilkan itu diantara upacara Greget Sura ini adalah sesaji Sura, dan dalam menyambut tahun baru Jawa. Secara khusus kami mengambil tema mawas diri untuk mengembangkan kebersihan jiwa,” ujarnya.

Greget Sura, menurut Wardhani, didasari pada keyakinan akan adanya perubahan yang lebih baik dalam kehidupan berbangsa, yang ditandai mulai munculnya orang-orang yang berani bersuara dan bertindak atas dasar kebenaran.

“Gereget itu artinya gemerutuknya gigi, sedangkan suro, sura itu artinya berani. Jadi sebenarnya saat ini sudah banyak pemberani-pemberani, yang sudah mengeluarkan suara gemerutuknya gigi itu untuk segera berbuat dan bertindak,” ujarnya.

Perhelatan Upacara Greget Sura ini, menurut penanggung jawab Kampoeng Ilmu Budi Santoso, merupakan upaya pelestarian budaya lokal Jawa.

“Ini budaya Jawa, budaya Jawa itu adalah apa, warisan nenek moyang kita yang asli. Jadi selama ini apa yang kita anut dan apa yang kita kerjakan itu justru itu kan warisan kiriman, bukan budaya asli kita, jadi budaya itu adalah budaya impor,” ujarnya.

“Ini cukup ironis sampai hari ini sehingga banyak dari masyarakat kita justru cenderung mengabaikan apa yang menjadi kebanggaan bangsa kita. Jadi kewajiban bagi kita semua untuk melestarikan apa yang menjadi warisan dari nenek moyang kita.”

Upacara Greget Sura ini juga menarik perhatian mahasiswa asing, salah satunya Mohammad Husaif bin Ramli dari Universitas Brunei Darussalam, yang mengatakan kagum akan adat dan kebudayaan Jawa yang sarat nilai dan filosofi bagi seluruh manusia.

“Ini cukup menarik untuk didalami atau diikuti perkembangannya, karena acara ini, upacara ini memang khusus bagi orang Jawa, dan cukup menarik,” ujarnya.

Recommended

XS
SM
MD
LG