Tautan-tautan Akses

Turki Tingkatkan 'Pembersihan' terhadap Pendukung Kudeta


Polisi Turki mencegah massa menyerang seorang hakim di kota Erzurum, yang diduga pendukung aksi kudeta, Selasa (19/7).

Polisi Turki mencegah massa menyerang seorang hakim di kota Erzurum, yang diduga pendukung aksi kudeta, Selasa (19/7).

Turki meningkatkan pembersihan hari Selasa (19/7) terhadap para guru dan pegawai negeri sipil yang dicurigai terlibat dalam kudeta yang gagal pekan lalu, memecat lebih dari 24.000 orang.

Pemerintah Turki juga mengirim berkas-berkas dokumen ke Washington DC tentang bukti keterlibatan seorang ulama Islam yang dituduh berada di balik kudeta tersebut.

Media Turki melaporkan bahwa kementerian pendidikan memecat 15.200 guru di seluruh negara itu, sementara kementerian dalam negeri memecat hampir 9.000 pekerja. 257 pegawai lain di kantor perdana menteri juga dipecat, serta 492 di kantor urusan direktorat agama. Dewan pendidikan tinggi di negara itu menuntut pengunduran diri 1.577 dekan universitas.

Pemecatan terjadi setelah sekitar 9.000 orang ditahan di Ankara karena dicurigai terlibat dalam usaha penggulingan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Perdana Menteri Binali Yildirim mengatakan, Turki telah mengirim empat arsip ke Amerika tentang Fethullah Gulen, seorang ulama yang telah tinggal di pengasingan di Amerika sejak tahun 1999. Turki menuduh bahwa Gulen berusia 75 tahun, mendalangi upaya kudeta dari Amerika, Jumat lalu, mengeluarkan perintah dari rumahnya di Pegunungan Pocono di timur laut negara bagian Pennsylvania. Tuduhan itu dibantah oleh Gulen.

Turki tidak memberikan rincian isi berkas-berkas itu, tetapi perdana menteri Yildirim mendesak Washington supaya jangan “melindungi teroris ini” lagi. Dia bukan lagi manusia yang berguna, ia tidak bermanfaat untuk Islam," katanya. Tapi Turki belum secara resmi meminta ekstradisi Gulen.

Menteri Luar Negeri AS, John Kerry mengatakan hari Senin, AS akan mempertimbangkan ekstradisi Gulen, tetapi hanya jika Turki mengirimkan "bukti, bukan tuduhan."

Di tengah kritik AS dan Barat atas tindakan keras Turki dan pemecatan massal para pegawai, perdana menteri Yildirim hari Selasa memperingatkan orang-orang supaya jangan membalas dendam atas kudeta yang gagal itu. [ps/ii]

XS
SM
MD
LG