Tautan-tautan Akses

Transisi Politik Vietnam Perbaiki Hubungan dengan China

  • Shannon Van Sant

Presiden Vietnam Truong Tan Sang, baris depan, kiri, Perdana Menteri Nguyen Tan Dung, baris depan ketiga dari kiri, dan Sekjen Partai Komunis Nguyen Phu Trong, baris depan ketiga dari kanan, berpose untuk grup foto bersama para Jenderal AD setelah pemilihan Komite Pusat baru di Hanoi, Vietnam, Selasa, 26 Januari 2016.

Presiden Vietnam Truong Tan Sang, baris depan, kiri, Perdana Menteri Nguyen Tan Dung, baris depan ketiga dari kiri, dan Sekjen Partai Komunis Nguyen Phu Trong, baris depan ketiga dari kanan, berpose untuk grup foto bersama para Jenderal AD setelah pemilihan Komite Pusat baru di Hanoi, Vietnam, Selasa, 26 Januari 2016.

Para pengamat China mencermati dengan seksama transisi kepemimpinan politik di Vietnam minggu ini, dan dampaknya bagi hubungan China-Vietnam di masa depan.

Kongres Nasional ke-12 di Vietnam diadakan minggu ini guna memilih pemimpin untuk lima tahun ke depan.

Perdana Menteri Vietnam Nguyen Tan Dung secara efektif telah mundur dari pencalonan untuk menjadi Sekretaris Jenderal Partai Komunis itu setelah namanya dikeluarkan dari daftar resmi kandidat untuk jabatan dalam Komite Sentral. Saingannya yang pro-Beijing, Nguyen Phu Trong, akan tetap menjadi Sekjen, posisi puncak dalam pimpinan di Vietnam.

Sebagian analis mengatakan proses pemilihan tahun ini menunjukkan pentingnya hubungan China-Vietnam. Xiaohe Cheng, Profesor Hubungan Internasional di Renmin University, China, mengatakan, "Para pemimpin yang disebut pro-Beijing akan memerintah negara itu, dan menurut saya, itu adalah pertanda baik dari perspektif China."

Analis lain berpendapat, pemilu itu mengungkapkan kuatnya cengkeraman China di wilayah tersebut, dan tekanannya terhadap, Vietnam.

Anggota Majelis Umum Vietnam berkunjung ke Beijing Desember lalu, di mana sebagian pengamat menduga China menyampaikan keprihatinannya atas hubungan pemerintah Vietnam dengan Amerika.

Dung dianggap sebagai pendukung hubungan Vietnam yang lebih erat dengan Amerika, sedangkan saingannya Trong, mendorong peningkatan hubungan dengan China.

Transisi kepemimpinan itu terjadi pada waktu yang peka bagi hubungan China-Vietnam. Pekan lalu, Vietnam mengatakan China menempatkan anjungan minyak di Laut Cina Selatan yang disengketakan, yang mungkin dimaksudkan untuk memperingatkan Vietnam yang sedang mengadakan kongres nasional itu.

Kapal China mengejar kapal Vietnam, tidak terlihat di foto, setelah mendekati kilang minyak China di Laut China Selatan, 15 Juli 2014.

Kapal China mengejar kapal Vietnam, tidak terlihat di foto, setelah mendekati kilang minyak China di Laut China Selatan, 15 Juli 2014.

Carl Thayer, Profesor Emeritus pada National Defense Academy Australia, mengatakan penindasan atas suara-suara yang kritis terhadap China tampaknya akan meningkat setelah transisi kepemimpinan.

"Jadi sebisa mungkin itu tidak akan menjadi serangan bagi China. Menerima campur tangan China atas kedaulatan Vietnam dengan harapan ada ikatan sosialisme atau Marxis-Leninisme yang menyatukan kedua negara, berarti Vietnam akan keluar dari masalah itu," ujarnya.

Vietnam adalah salah satu negara komunis yang masih tersisa di dunia. Hubungannya dengan China berkisar antara hubungan yang lebih erat demi alasan ideologi dan ekonomi, dan kekhawatiran akan kemungkinan campur tangan China atas kedaulatan politik dan wilayah Vietnam. [ka/ii]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG