Tautan-tautan Akses

Reformasi Sektor Garmen Diharapkan Berdayakan Perempuan Bangladesh

  • Anjana Parischa

Tenaga kerja perempuan mendominasi pekerja sektor garmen di Bangladesh, namun kondisi dan keselamatan kerjanya belum diperhatikan (foto: dok).

Tenaga kerja perempuan mendominasi pekerja sektor garmen di Bangladesh, namun kondisi dan keselamatan kerjanya belum diperhatikan (foto: dok).

Banyak yang berharap perhatian yang difokuskan pada industri garmen Bangladesh akan meningkatkan standar keselamatan kerja dan juga keselamatan tenaga kerja perempuan yang mendominasi sektor ini.

Di Bangladesh, tewasnya lebih dari 1. 100 pekerja garmen baru-baru ini akibat runtuhnya bangunan pabrik mereka telah memusatkan perhatian global akan kondisi kerja yang tidak aman di negara dengan industri garmen yang terus meningkat itu.

Runa yang berusia 23 tahun adalah satu di antara puluhan ribu perempuan yang bekerja dengan mesin jahit di Dhaka dan sekitarnya, membuat pakaian untuk para pengecer Barat.

Keluarga Runa pindah ke ibukota Bangladesh satu dekade lalu dari desa di mana mereka hanya mencari nafkah dengan bertani di sebidang tanah milik mereka. Runa mengatakan ia senang di Dhaka.

Ia mengatakan ada kepuasan dengan bekerja. Ia bekerja pada siang hari dan memasak pada malam hari.

Jam kerjanya panjang dan Runa merindukan kehidupan yang nyaman di desanya. Tetapi upah bulanan sebesar $75 dolar adalah gaji yang besar.

Dengan gaji suaminya yang juga bekerja di sektor garmen, suami istri itu menghasilkan cukup uang untuk membeli makanan dan sebuah rumah kecil, dan memiliki sedikit tabungan di bank. Runa juga bisa mengirim uang untuk mertua perempuannya di desa.

Dengan meningkatnya industri garmen di Bangladesh selama 15 tahun terakhir, arus perempuan seperti Runa bermigrasi dari desa-desa ke Dhaka untuk mencari pekerjaan. Delapan puluh persen tenaga kerja dalam industri tersebut adalah perempuan, kebanyakan dari mereka berusia antara 18 dan 25 tahun.

Bagi para perempuan muda ini, sektor garmen yang berkembang merupakan satu-satunya pilihan daripada bekerja di ladang, bekerja sebagai pembantu atau bekerja di kontruksi bangunan.

Direktur Pusat Dialog Kebijakan di Dhaka, Mustafizur Rahman, mengatakan industry garmen telah memainkan peranan penting dalam memberdayakan perempuan secara sosial dan ekonomi.

Rahman mengatakan, “Banyak perempuan ini adalah generasi pekerja yang pertama. Banyak dari gadis-gadis ini dulunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga untuk keluarga-keluarga tingkat menengah atau tingkat atas di Dhaka dan wilayah-wilayah metropolitan. Sekarang mereka mengambil pekerjaan industri yang memberikan mereka kebebasan, kesempatan untuk menghasilkan uang sendiri, dan membantu keluarga mereka. Jadi sekarang mereka adalah orang yang mendapatkan penghasilan dan mereka mendapatkan kebebasan."

Sayangnya, pemberdayaan adalah hanya satu aspek dari industri garmen itu, yang kini merupakan yang kedua terbesar di dunia sesudah China. Aspek yang lainnya adalah eksploitasi.
XS
SM
MD
LG