Tautan-tautan Akses

Presiden Jokowi Luncurkan Program '35 Ribu MW Listrik untuk Indonesia'

  • Munarsih Sahana

Presiden Jokowi menekan tombol menandai peresmian peluncuran program "35 Ribu MW untuk Indonesia", di Yogyakarta (4/5). Nampak mendapmingi Presiden, dari kiri ke kanan: Direktur PLN Sofyan Basir, Menteri BUMN Rini Sumarno, Menteri ESDM Sudirman Said dan Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X.

Presiden Jokowi menekan tombol menandai peresmian peluncuran program "35 Ribu MW untuk Indonesia", di Yogyakarta (4/5). Nampak mendapmingi Presiden, dari kiri ke kanan: Direktur PLN Sofyan Basir, Menteri BUMN Rini Sumarno, Menteri ESDM Sudirman Said dan Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X.

Program "35.000 Mega Watt Listrik untuk Indonesia" merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menciptakan kemandirian energi dengan memanfaatkan secara optimal sumber-sumber energi terbarukan.

Presiden Joko Widodo meresmikan peluncuran program "35.000 Mega Watt Listrik untuk Indonesia" untuk lima tahun ke depan, Senin siang (4/5). Peluncuran program tersebut dipusatkan di Goa Cemara kawasan pantai Samas di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, .

Presiden Joko Widodo menyatakan optimis, program pembangunan listrik selama lima tahun kedepan dengan investasi sekitar 110 triliun rupiah itu akan tercapai guna mewujudkan kemandirian energi di Indonesia.

"(Selama) 70 tahun Indonesia merdeka hanya membangun 50.000 MW. Ini lima tahun, 35.000 MW. Kenapa saya optimis dan saya meyakini ini bisa dilakukan, karena memang regulasinya dulu banyak yang ruwet. Yang kedua, manajemen yang ada di PLN ini juga sudah diperbaiki, disederhanakan. Kemudian perijinan juga sudah dilakukan. Pembebasan lahan jika ada masalah, saya sampaikan tolong lapor ke gubernur selesaikan,” kata Presiden Jokowi.

Menurut Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Sudirman Said, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi lima tahun ke depan rata-rata antara lima hingga enam persen per-tahun, kebutuhan listrik di Indonesia mencapai sekitar 35.000 Mega Watt.

Ia mengatakan, program 35.000 MW listrik tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menciptakan kemandirian energi dengan memanfaatkan secara optimal sumber-sumber energi terbarukan. Sebab, diperkirakan cadangan minyak bumi Indonesia akan habis dalam 12 tahun, gas habis dalam waktu 30 tahun dan batu bara habis dalam 60 tahun.

Program pembangunan listrik itu juga akan memberikan dampak ekonomi yg besar, memberikan peluang kepada 620 ribu tenaga kerja secara langsung dan 3 juta tenaga kerja secara tidak langsung, tersebar di seluruh Indonesia.

“Sebaran lokasi 59 lokasi di Sumatra, 34 lokasi di Pulau Jawa, 49 lokasi di Sulawesi, Kalimantan 34 lokasi dan Indonesia Timur 34 lokasi. Program ini akan membuka peluang bagi pembangunan 75 ribu set tower, memanfaatkan 300 ribu kilometer konduktor aluminium, membangun 1.382 unit gardu induk, menggunakan 2.600 set travo dan menyerap 3,5 juta ton baja profil dan pipa bukan pembangkit,” jelas Menteri Sudirman Said.

Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan kontrak kerjasama sejumlah perusahaan swasta nasional dan internasional yang ikut dalam merealisasi proyek listrik 35.000 MW itu dengan PT PLN, termasuk UPC Renewables dari Amerika Serikat yang akan membangun kincir angin di sepanjang pantai selatan Yogyakarta dan di Sulawesi Selatan.

Brian Caffyn, CEO UPC Renewables mengatakan, UPC akan menjual 50 Mega Watt listrik kepada PLN selama 30 tahun untuk proyek di Yogyakarta.

“Kami akan menjual seluruh listrik yang kami hasilkan dari kincir angin di pantai selatan ini, melalui kontrak 30 tahun dengan PLN dengan harga sedikit mahal pada paroh pertama tetapi jauh lebih murah pada paruh kedua”, kata Brian Caffyn.

Erwin Jahja, presiden direktur PT UPC Yogyakarta Bio Energi yang merupakan rekanan UPC Renewables mengatakan, ia akan membangun infrastruktur tahun 2016 dan diharapkan mulai produksi awal tahun 2017.

Sekitar 70 lahan yang digunakan untuk proyek senilai 150 juta Dollar Amerika itu merupakan Sultan’s Ground atau milik kasultanan Yogyakarta dan sisanya milik pemerintah desa.

“Kita akan membuka lahan dulu untuk transmisi, karena PLN tidak membangun transmisi sehingga saya yang membangun transmisi. Kawasan proyek itu mencakup dari Samas hingga ke Wates sekitar 25 kilometer. Tetapi setelah kita bangun nanti akan kita serahkan ke PLN, dan nanti PLN masuk kedalam saja harganya ke dia dan mungkin untuk local content bisa 40 sampai 50 persen,” kata Erwin Jahja.

Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Robert O’Blake, yang hadir pada pencanangan pembangunan listrik tersebut mengatakan kepada VOA, ia gembira perusahaan Amerika Serikjat bisa berkontribusi pada penyediaan energy terbarukan yang bersih di Indonesia.

“Kami berharap perusahaan Amerika lainnya seperti General Electric juga akan terlibat dalam proyek-proyek terkait lainnya. Misalnya untuk menyediakan turbin yang menjadi andalan mereka. Meskipun mereka belum mengumumkan, tetapi saya yakin mereka akan bisa berperan banyak untuk mewujudkan listrik 35 ribu Mega Watt itu,” kata Dubes O’Blake.​

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG