Tautan-tautan Akses

Presiden SBY Minta Para Pengungsi Merapi Bersabar

  • Munarsih Sahana

Tentara Indonesia membantu evakuasi para warga di Cangkringan, Yogyakarta setelah Merapi meletus lagi, 3 November 2010.

Tentara Indonesia membantu evakuasi para warga di Cangkringan, Yogyakarta setelah Merapi meletus lagi, 3 November 2010.

Presiden juga mengharapkan agar mereka baru kembali ke rumah jika situasinya sudah aman dan kondisi Merapi sudah stabil.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Rabu pagi mengunjungi pengungsi korban letusan Gunung Merapi dan meminta kepada para pengungsi agar bersabar. Presiden juga mengharapkan agar mereka baru kembali ke rumah mereka jika situasinya sudah benar-benar aman dan kondisi Merapi sudah stabil.

Presiden Yudhoyono beserta rombongan tiba di barak pengungsian Purwobinangun, Sleman, Yogyakarta hanya beberapa menit setelah Merapi kembali menyemburkan awan panas.

Kepada para pengungsi di Purwobinangun yang mayoritas para lanjut usia, Presiden Yudhoyono mengatakan:

“Yang kita lakukan adalah langkah-langkah rehabilitasi, rekonstruksi, pembangunan kembali, supaya bisa tinggal pada saatnya nanti pencahariannya pun bisa dipulihkan. Itu kewajiban pemerintah, kewajiban kami. Keamanan, dan keselamatan saudara semua langkah-langkah penanganan sementara di tempat ini dan kemudian pada saatnya kembali ke tempatnya masing-masing”.

Presiden Yudhoyono tiba di barak pengungsi Merapi di Sleman, hanya beberapa menit setelah Merapi menyemburkan awan panas 3 November 2010.

Presiden Yudhoyono tiba di barak pengungsi Merapi di Sleman, hanya beberapa menit setelah Merapi menyemburkan awan panas 3 November 2010.

Menurut Kapala Badan Geologi Nasional, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, Sukhyar, letusan Merapi mulai hari ini sudah tidak lagi eksplosif.

“Sampai tadi pagi, tingkat eksplosifitas nya itu menurun, fluida magma itu keluar, membentuk kubah lava di puncak lalu gugur membentuk awan panas guguran. Bagi pengamat itu lebih mudah karena dia (magma) akan keluar pada posisi yang sama, kemudian keluar pada sector yang sama kan, nah jumlahnya makin banyak, 26 tapi kan kecil-kecil, itu yang kita harapkan”.

Bagi para pengungsi, berada di pengungsian dan harus meninggalkan ternak serta lahan pertanian yang subur di lereng Merapi bukan perkara mudah, seperti dialami Ponidi, 38 tahun, petani asal dusun Ngepring, 8 kilometer dibawah kaki Merapi.

Ponidi mengatakan: “ Memang kalau warga di saat-saat ini jenuh dan menyakitkan, karena ya nggak bebas…kalau di rumah kan enak, meski di rumah tidak punya apa-apa karena situasi seperti ini seluruh warga itu disuruh mengungsi demi keselamatan, kita mengikuti, sebagai rakyat kecil kita harus patuh”.

Sementara bagi Sutiwiyono, 73 tahun asal desa Turgo, lereng Merapi adalah tempat tinggal yang menjanjikan kemakmuran. Tidaklah mudah meninggalkan hampir 300 ekor sapi perah dalam satu dusun, untuk mengungsi.

Menurut Sutiwiyono (dalam bahasa Jawa, red.): "Yang pasti, jika kami harus mengungsi, akan sulit untuk mencarikan biaya bagi anak-anak yang sekolah. Begitu juga bagi peternak harus mondar-mandir, akan mahal biaya untuk membeli bensin". Demikian penjelasan Sutiwiyono yang sudah berpengalaman sebagai pengungsi Merapi sejak letusan Merapi pada tahun 1954.

Pada rapat koordinasi di Posko utama di Pakem Yogyakarta, Presiden Yudhoyono minta agar pemerintah daerah mempersiapkan dengan baik jika akan melakukan relokasi pemukiman warga lereng Merapi ke wilayah yang lebih aman. Presiden sebelumnya telah mengunjungi pengungsi di Magelang, selanjutnya ke Klaten dan Boyolali Jawa Tengah.

XS
SM
MD
LG