Tautan-tautan Akses

Pertemuan Peneliti RI-Australia Bahas Inovasi untuk Atasi Masalah Perkotaan

  • Petrus Riski

Walikota Surabaya Tri Rismaharini (kedua dari kiri) menjadi salah satu pembicara pada pembukaan Indonesia-Australia Research Summit di Universitas Airlangga Surabaya, Senin 22/8 (foto VOA/Petrus Riski)

Walikota Surabaya Tri Rismaharini (kedua dari kiri) menjadi salah satu pembicara pada pembukaan Indonesia-Australia Research Summit di Universitas Airlangga Surabaya, Senin 22/8 (foto VOA/Petrus Riski)

Universitas Airlangga Surabaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan KTT Riset Indonesia-Australia ke 3, yang mengambil tema Berinovasi Bersama: Bermula Lokal, Menjangkau Global, tanggal 22-23 Agustus 2016. Pertemuan peneliti Indonesia dan Australia ini diharapkan dapat menghasilkan inovasi untuk menunjang pembangunan di kedua negara.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini menyambut baik penyelenggaraan KTT Riset Indonesia-Australia ke 3 kalinya di Surabaya, yang memungkinkan para peneliti Australia dan Indonesia melakukan penelitian bersama untuk menghasilkan inovasi yang menunjang pembangunan.

Risma mengatakan, pertemuan para peneliti ini diharapkan membawa manfaat bagi kota Surabaya, khususnya di bidang energi terbarukan, sistem transportasi, dan pengembangan sumber daya manusia yang lebih baik.

"Renewable energy, kemudian transport system yang saya minta, kemudian sama (pengembangan) sumber daya manusia. Ya bagaimana kemudian pengelolaan air limbah digunakan bisa untuk energi listrik, pengelolaan sampah juga bisa diubah jadi energi listrik, terus penggunaan air bisa di recycle lagi,” harap Risma.

Persoalan lingkungan menjadi perhatian Tri Rismaharini, karena disadari bahwa masalah yang terkait dengan lingkungan akan mempengaruhi pembangunan, bila tidak segera dicarikan solusi. Pengelolaan sampah dan ketersediaan air bersih, masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Pemerintah kota Surabaya.

“Kalau Surabaya penanganan sampahnya tidak segera tertangani juga akan punya masalah, karena lahannya sangat terbatas, jadi itu harus cepat gitu untuk penanganan sampah, kemudian juga air bersih. Ini kebetulan hujan Surabaya gak kerasa, begitu kena kemarau seperti tiga tahun, kalau gak salah tiga tahun yang lalu itu sudah agak repot air kan untuk PDAM,” tambahnya.

Manajer Proyek dan Program, Australia-Indonesia Centre, Megan Power mengatakan, pertemuan peneliti kali ini akan saling belajar mengenai bagaimana menciptakan inovasi dalam bidang kebijakan dan implementasinya, terutama dalam mengatasi persoalan perkotaan yakni kemiskinan dan transportasi.

“Penelitian di bidang air perkotaan dan infrastruktur, untuk mencari penyelesaian masalah kemiskinan kota yang menunjang pembangunan. Melihat pula persoalan konektifitas, transportasi berbasis kereta api. Perihal sistem air perkotaan akan dibuat program berkelanjutan untuk mengaturnya,” tutur Megan.

Rektor Universitas Airlangga Surabaya, Mohammad Nasih mengatakan, kerjasama yang selama ini terjalin antara Universitas Airlangga dengan universitas-universitas di Australia akan terus ditingkatkan, terutama penelitian di bidang kesehatan yang menjadi fokus pengembangan yang dilakukan Universitas Airlangga.

“Kesehatan kita banyak ya, di beberapa disiplin (ilmu) terkait dengan penyakit tropis dan lain-lain kita bekerjasama terus, untuk research dan lain-lain. Jadi kita melibatkan peneliti Australia bekerja bersama-sama untuk ada temuan-temuan termasuk pengembangan obat-obatan. Ya kawan-kawan di LPT (Laboratorium Penyakit Tropis) sudah mencoba untuk mengembangkan berbagai macam vaksin yang kita coba hasilkan dari dalam negeri sendiri, ada vaksin termasuk di obat-obatan herbal kita juga sedang dorong,” demikian papar Nasih. [pr/ab]

XS
SM
MD
LG