Tautan-tautan Akses

Aktivis Lingkungan Gelar Upacara Bendera di Muara Sungai Surabaya

  • Petrus Riski

Aktivis lingkungan menyerukan kemerdekaan bagi lingkungan dan menggelar upacara bendera di muara sungai Wonorejo, ekosistem hutan mangrove dalam peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-71. (Foto: VOA/Petrus Riski).

Aktivis lingkungan menyerukan kemerdekaan bagi lingkungan dan menggelar upacara bendera di muara sungai Wonorejo, ekosistem hutan mangrove dalam peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia ke-71. (Foto: VOA/Petrus Riski).

Puluhan aktivis lingkungan dan nelayan di Surabaya, merayakan hari kemerdekaan ke-71 Indonesia dengan menggelar upacara bendera di atas perahu di tengah muara sungai di Surabaya dan hutan mangrove Wonorejo.

Bendera Merah Putih dikerek secara perlahan pada sebuah tiang yang berdiri tegak pada bagian tengah perahu nelayan tambak Truno Djoyo, di muara sungai Wonorejo, pantai timur Surabaya. Puluhan orang memberikan hormat sambil menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Upacara bendera secara sederhana ini menandai 71 tahun kemerdekaan Indonesia.

Iwan Londo dari komunitas Burung Pantai Indonesia mengatakan, upacara bendera di atas perahu yang berada di tengah sungai ini, ingin mengajak semua orang untuk mewujudkan kemerdekaan melalui kepedulian terhadap lingkungan.

“Semoga dengan upacara kali ini, semakin banyak pemuda, yang di sisi lain kita timbulkan jiwa nasionalis, sisi lain juga semakin cinta sama lingkungan,” kata Iwan Londo, Pengamat Burung dari Burung Pantai Indonesia.

Iwan yang merupakan aktivis dan pengamat burung migran ini menambahkan, dipilihnya ekosistem hutan mangrove di muara sungai pantai timur Surabaya, adalah untuk mengingatkan pemerintah dan masyarakat, agar hutan mangrove yang menjadi tempat hidup satwa liar ini dibebaskan dari berbagai ancaman yang dapat merusaknya.

“Ancaman terbesar untuk yang kalau saya bilang burung migran, ancaman terbesarnya adalah alih fungsi lahan yang cukup rawan, ya sangat mengancam, karena kalau sudah jadi perumahan sudah tidak singgah di sini lagi. Jadi saya rasa ya, mangrovenya yang sudah ada mungkin bisa kita tambahi lagi, lokasi ini kita biarkan seperti ini, karena saya pikir dari tahun 2000 awal saya survey dari Gunung Anyar sampai ke Tambak Wedi, menurut saya lokasi ini yang paling ideal,” lanjut Iwan Londo.

Koordinator Komunitas Nol Sampah, Hermawan Some mengungkapkan, tingginya pencemaran air di Sungai Surabaya yang dapat berdampak pada ikan dan makhluk hidup lainnya, harus menjadi perhatian serius pemerintah untuk segera diatasi. Seluruh elemen masyarakat diajak untuk menjaga lingkungan, serta memastikan kemerdekaan lingkungan dari penjajahan ekonomi.

“Pantai timur Surabaya khususnya Wonorejo, itu potensi besar untuk melindungi Kota Surabaya, namun faktanya banyak hal yang harus dibenahi di sini. Pertama, kualitas airnya tercemar terutama oleh limbah-limbah rumah tangga, limbah domestik. Terus yang kedua, hutannya, hutan mangrovenya cenderung perlu diperbaiki, karena masih banyak hutan yang bolong dan kosong,” jelas Hermawan Some.

Kemudian yang ketiga, disini ada ratusan jenis burung, ribuan ekor yang tumbuh (ada) di sini, dan beberapa jenis satwa liar, mereka juga butuh perlindungan kita, bagaimana supaya merdeka. Dan itu yang harus kita jaga sebenarnya, karena itu potensi-potensi nasional untuk kita," lanjutnya.

Ketua Komunitas peduli Surabaya, Rek Ayo Rek, Herman Rivai menambahkan, dukungan untuk menjaga kelestarian lingkungan harus terus diberikan, termasuk dengan cara upacara bendera yang dilakukan di kawasan hutan mangrove pantai timur Surabaya.

“Jadi kita mengadakan sendiri, yaitu berlatarbelakang mangrove, artinya kita memberi semangat kepada teman-teman yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan,” kata Herman Rivai. [pr/uh]

XS
SM
MD
LG