Tautan-tautan Akses

OECD: Imigran Sering Tidak Terasimilasi Baik di Negara Baru


Para imigran melakukan unjuk rasa di negara bagian Arizona, AS menentang undang-undang imigrasi baru (foto: dok).

Para imigran melakukan unjuk rasa di negara bagian Arizona, AS menentang undang-undang imigrasi baru (foto: dok).

Sebuah laporan baru OECD menyimpulkan bahwa negara-negara paling maju sering gagal dalam mengasimilasi para imigran.

Organisasi Kerjasama dan Pembangunan (OECD) yang berkantor di Paris mengatakan dalam satu dekade ini, imigran merupakan 70 persen pertumbuhan pasar tenaga kerja di Eropa dan 47 persen di Amerika.

Tetapi OECD mengatakan integrasi imigran dalam budaya nasional, sistem pendidikan dan pasar buruh tetap menjadi tantangan utama ke-34 negara anggotanya, terutama di Eropa. OECD mengatakan prospek pekerjaan yang buruk di Eropa membuat imigran “beresiko terpinggirkan.” Angka pengangguran di ke-17 negara pengguna mata uang euro telah mencapai angka rekor selagi kawasan itu kembali jatuh ke dalam resesi.

OECD mengatakan sebagai dampak kemerosotan ekonomi global tahun 2008 dan 2009, laju migrasi internasional turun selama tiga tahun berturut-turut hingga 2010 tetapi kini naik lagi.

OECD mengatakan beberapa negara berhasil menarik imigran dengan keterampilan tinggi, termasuk Australia, Kanada, Denmark, Jerman, Belanda dan Inggris. Tetapi Irlandia dan sejumlah negara di Eropa selatan mengalami kemunduran dalam menarik imigran berpendidikan tinggi.
XS
SM
MD
LG