Tautan-tautan Akses

AS

Obama tentang Perjanjian Nuklir Iran: Pilih Diplomasi daripada Perang


Presiden AS Barack Obama berbicara mengenai perjanjian nuklir dengan Iran di American University di Washington (5/8). (AP/Carolyn Kaster)

Presiden AS Barack Obama berbicara mengenai perjanjian nuklir dengan Iran di American University di Washington (5/8). (AP/Carolyn Kaster)

Obama mengatakan mereka yang yakin bahwa AS dapat keluar dari perjanjian itu dan dapat menekan Iran lewat sanksi-sanksi yang berlanjut sebagai "menjual fantasi."

Ia berdiri di universitas yang sama dimana lebih dari 50 tahun yang lalu, presiden saat itu John F. Kennedy menggunakan pidato kelulusan untuk mengeluarkan seruan pertama untuk pelucutan senjata dan traktat larangan ujicoba nuklir dengan Uni Soviet.

Seruan bersejarah dari Kennedy tidak luput dari perhatian Presiden AS Barack Obama hari Rabu (5/8).

"Ia (Kennedy) menolak sikap yang ada saat itu di antara lingkaran kebijakan luar negeri yang menyamakan keamanan dengan perang. Sebaliknya, ia menjanjikan kepemimpinan Amerika yang kuat dan berprinsip atas nama apa yang ia sebut perdamaian praktis dan dapat dicapai," ujar Obama di American University di Washington.

Menyebut perjanjian nuklir Iran "debat paling konsekuensial" yang telah dibuat Amerika Serikat sejak keputusan tahun 2002 untuk menginvasi Irak, Obama memperingatkan para pembuat undang-undang di AS melawan penghadangan atas apa yang ia sebut "perjanjian yang sangat bagus."

"Kita harus jujur. Penolakan Kongres atas perjanjian ini membuat pemerintah AS manapun yang sangat berkomitmen untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir dengan satu opsi: perang lain di Timur Tengah," ujar Obama.

Diplomasi daripada Perang

Dalam pidato hampir satu jam, Obama menjelaskan penolakan keras terhadap para pengkritik perjanjian nuklir yang dicapai bulan Juli antara Iran dan negara-negara P5+1 -- Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia, China dan Jerman. Ia mengatakan para pembuat undang-undang AS memiliki pilihan jelas "antara diplomasi atau sejenis perang." Pilihan kedua, ujarnya, akan jauh lebih tidak efektif dalam mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir.

"Hal itu kemungkinan besar akan menjamin para inspektur ditendang dari Iran. Mungkin hal itu akan mendorong program Iran jauh ke bawah tanah. Yang jelas akan menghancurkan persatuan internasional yang telah kita bangun bertahun-tahun," ujar Obama kepada para hadirin yang termasuk duta besar dari negara-negara P5+1.

Ia menekankan bahwa orang-orang yang sama yang melawan perjanjian Iran mendukung perang Irak, sebuah konflik yang menewaskan ribuan nyawa dan menghabiskan hampir US$1 triliun.

Para pembuat undang-undang di AS memiliki waktu sampai 17 September untuk menyetujui atau menolak perjanjian tersebut. Presiden dapat mem-veto penolakan, namun ia memerlukan dukungan sesama anggota Partai Demokrat untuk menjamin vetonya tidak ditimpa (overriden) dan perjanjian terus berjalan.

Beberapa jam sebelum pidatonya, Pemimpin Mayoritas Republik di Senat, Mitch McConnell menyerukan debat serius mengenai perjanjian tersebut bulan September, mengemukakan kekhawatiran yang "meluas, beralasan dan bipartisan."

"Jelas bahwa perjanjian ini membuat para anggota kedua partai tidak nyaman, dan dengan alasan yang jelas. Peran Amerika di dunia, komitmennya terhadap persekutuan global, dan masa depan macam apa yang akan kita tinggalkan untuk anak-anak kita semua terkait dengan isu ini," ujar senator dari Kentucky tersebut.

Berbicara di lantai Senat, McConnell mengutip kekhawatiran yang dikemukakan oleh para legislator Demokrat bahwa perjanjian tersebut kurang penjaminan yang layak, dapat mengarah pada kompetisi senjata nuklir di wilayah tersebut dan membatasi opsi untuk mencegah lepasnya nuklir Iran.

Menyanggah Pengkritik

Obama membahas banyak dari kekhawatiran tersebut, termasuk bahwa perjanjian itu tidak cukup kuat.

"Larangan atas Iran untuk memiliki senjata nuklir adalah permanen. Larangan terhadap riset terkait senjata adalah permanen. Inspeksi adalah permanen," ujarnya.

"Betul bahwa beberapa pembatasan terkait program damai Iran hanya berakhir 15 tahun. Tapi seperti itulah perjanjian kontrol senjata bekerja."

Ia juga membantah mereka yang mengatakan bahwa pembebasan sanksi hanya akan menguatkan Iran. Ia menjelaskan panjang lebar mengenai penolakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terhadap perjanjian tersebut, dengan mengatakan bahwa pemimpin Israel itu keliru.

"Kepada para sahabat Israel, dan kepada rakyat Israel, saya katakan: Iran yang bersenjata nuklir jauh lebih berbahaya untuk Israel, untuk Amerika dan untuk dunia dibandingkan Iran yang mendapat manfaat dari pembebasan sanksi," ujarnya.

Obama juga mengatakan mereka yang yakin bahwa AS dapat keluar dari perjanjian itu dan masih dapat menekan Iran lewat sanksi-sanksi yang berlanjut sebagai "menjual fantasi."

Obama mengakhiri pidatonya dengan mengatakan bahwa penolakan para pembuat undang-undang atas solusi diplomatis barangkali akan sangat merusak citra Amerika Serikat di mata dunia.

"Jika Kongres mematikan perjanjian ini, kita akan kehilangan lebih banyak daripada hanya kendala atas perjanjian nuklir Iran atau sanksi yang telah kita bangun dengan susah payah," katanya.

"Kita akan kehilangan sesuatu yang lebih berharga: Kredibilitas Amerika sebagai pemimpin diplomasi."

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG