Tautan-tautan Akses

AS

Obama: Kesepakatan Nuklir dengan Iran Bermanfaat


Presiden AS Barack Obama membela habis-habisan kesepakatan nuklir dengan Iran dalam pidato di American University di Washington DC, Rabu (5/8).

Presiden AS Barack Obama membela habis-habisan kesepakatan nuklir dengan Iran dalam pidato di American University di Washington DC, Rabu (5/8).

“Ini adalah kesepakatan yang amat bagus,” kata Obama hari Rabu (5/8) dalam pidato di Universitas Amerika, Washington.

Presiden Amerika Barack Obama membela habis-habisan kesepakatan nuklir yang dicapai dengan Iran karena menurutnya menghilangkan semua cara bagi negara Timur Tengah itu untuk membuat bom nuklir.

“Ini adalah kesepakatan yang amat bagus,” kata Obama hari Rabu (5/8) dalam pidato di Universitas Amerika, Washington.

Jika terlaksana, kata Obama, “kesepakatan ini akan baik bagi Iran, baik bagi Amerika. Kesepakatan ini akan baik bagi kawasan yang dilanda terlalu banyak konflik. Kesepakatan ini baik bagi dunia.” Ia menyanggah kecaman terhadap perjanjian itu, yang menurutnya adalah “kesepakatan non-proliferasi paling kuat yang pernah dirundingkan.”

Ia juga mendesak rakyat Amerika untuk menelpon para anggota Kongres agar mendukung kesepakatan itu dalam voting bulan depan.

Obama mengatakan debat di Kongres tentang kesepakatan itu “yang paling signifikan” bagi Amerika sejak negara itu setuju menginvasi Irak. Tahun 2002, Kongres menyetujui permintaan presiden George W. Bush untuk menyerbu Irak berdasarkan informasi yang ternyata keliru bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal.

Kata Obama, sejumlah pendukung perang Irak tersebut kini justru menentang kesepakatan dengan Iran. Obama meminta mereka agar memberi kesempatan agar perjanjian internasional itu diberlakukan.

Jika Kongres menolak kesepakatan itu, kata Obama, Iran mungkin bisa membuat bom nuklir karena Amerika tidak akan bisa leluasa memantau kegiatan nuklir Iran.

Obama juga membandingkan pidatonya hari Rabu dengan pidato kepresidenan lain di universitas itu setengah abad lalu. Kata Obama, Presiden John F. Kennedy saat itu menuntut negosiasi diplomatik dengan Uni Soviet untuk membatasi ujicoba nuklir meskipun banyak anggota Kongres menghendaki aksi militer.

Menurut Obama, pendekatan Amerika saat itu yang mengutamakan diplomasi sekaligus memperkuat militer akhirnya menghasilkan banyak traktat internasional tentang nuklir.

Perjanjian nuklir itu dicapai Iran dengan kelompok P5+1 (Amerika, Inggris, Rusia, Perancis, Tiongkok dan Jerman). Berdasarkan kesepakatan itu, Iran akan membatasi program nuklirnya yang kontroversial dengan imbalan pelonggaran sanksi-sanksi ekonomi.

Israel mengatakan kesepakatan itu justru mengancam keamanan mereka.

XS
SM
MD
LG