Tautan-tautan Akses

Netanyahu Kembali Peringatkan Kesepakatan Nuklir Iran


PM Israel Benjamin Netanyahu kembali memperingatkan negara-negara kuat di dunia soal ancaman kesepakatan nuklir dengan Iran (foto: dok).

PM Israel Benjamin Netanyahu kembali memperingatkan negara-negara kuat di dunia soal ancaman kesepakatan nuklir dengan Iran (foto: dok).

PM Israel Benjamin Netanyahu selama ini menentang pembicaraan nuklir dengan Iran yang dipelopori oleh Menlu AS John Kerry.

Negara-negara besar yang berusaha mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran telah "mempercepat pemberian konsesi" kepada Iran, kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hari Minggu (14/6).

Menjelang batas waktu pada akhir bulan Juni, enam negara yang berunding dengan Iran memiliki waktu dua minggu untuk menyelesaikan rincian tentang bagaimana pemberian izin program nuklir sipil Iran.

Pemimpin Israel dengan tegas menentang pembicaraan di Jenewa, yang dipelopori Menteri Luar Negeri AS John Kerry.

"Kami menyesali, laporan yang datang dari negara-negara besar dunia yang membuktikan dipercepatnya konsesi oleh mereka dalam menghadapi sikap keras pemimpin Iran," kata Netanyahu.

"Dari awal, perjanjian yang sedang dibentuk itu tampaknya buruk. Dan semakin memburuk dari hari ke hari. Belum terlambat untuk disadari oleh mereka, agar menunda kesepakatan buruk ini dan ditegaskan, perlunya dicapai kesepakatan yang lebih baik."

Pernyataan Netanyahu disampaikan sehari setelah Presiden Iran mengatakan perjanjian nuklir terakhir "tampaknya bisa dicapai" bulan ini, asalkan tidak ada masalah baru muncul pada hari-hari mendatang.

Berbicara kepada wartawan di Teheran hari Sabtu, Presiden Hassan Rouhani mengatakan pembicaraan yang telah berlangsung lama itu mencapai kemajuan selagi batas waktu 30 Juni bagi perjanjian lengkap semakin dekat, tapi beberapa masalah masih ada.

"Juru runding kami secara serius bergerak maju dalam jalur perundingan.” Kata Presiden Iran,"dan jika pihak lain juga mengamati kerangka ini dan menghormati hak-hak bangsa Iran serta kepentingan nasional kita, dan tidak mencari-cari tuntutan yang berlebihan, menurut saya kesepakatan tidak terlalu lama lagi bisa dicapai," ungkap Rouhani.

Mengacu pada isu utama bahwa Amerika dan sekutu Eropanya menekankan - inspeksi terhadap fasilitas nuklir Iran - Rouhani mengatakan Iran tidak akan mengizinkan inspeksi yang akan membahayakan rahasia negara tersebut.

"Iran jelas-kelas tidak akan membiarkan rahasia negara jatuh ke tangan asing," kata Presiden Rouhani, berdasarkan ketentuan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (dan "Protokol Tambahan" nya) atau perjanjian lainnya. "Ini sangat jelas," tambahnya, "dan kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi," tegas Rouhani.

Negara-negara besar yang mengupayakan kesepakatan bagi program pengembangan nuklir Iran adalah Amerika, Rusia, China, Inggris, Perancis dan Jerman. Sebagai imbalan bagi pembatasan terhadap pengembangan nuklirnya, Iran berharap sanksi-sanksi internasional yang telah merugikan ekonomi negara tersebut segera akan dicabut.

Diplomat-diplomat Amerika dan Perancis menyerukan Iran untuk menerima langkah-langkah ketat, termasuk pemeriksaan fasilitas militer serta inspeksi nuklir yang bisa dilakukan dengan pemberitahuan paling singkat dua jam sebelumnya.

XS
SM
MD
LG