Tautan-tautan Akses

Negara Asia Afrika Diminta Kerjasama Hilangkan Ketidakseimbangan Dunia

  • Fathiyah Wardah

Presiden Joko Widodo, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel (kanan) dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) di tengah para pemimpin Asia Afrika di Jakarta (21/4). (AP/Dita Alangkara)

Presiden Joko Widodo, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel (kanan) dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) di tengah para pemimpin Asia Afrika di Jakarta (21/4). (AP/Dita Alangkara)

Presiden Joko Widodo mendesak negara-negara Asia Afrika untuk bekerjasama menghilangkan kemiskinan, ketidakseimbangan dan ketidakadilan yang terjadi saat ini.

Presiden Joko Widodo hari Rabu (22/4) membuka peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta Convention Center dengan mengatakan bahwa meski keadaan dunia telah berbeda sekarang, namun perjuangan belum selesai.

Menurut Presiden Jokowi, saat ini masih terjadi kekerasan global, ketidakadilan dan kesenjangan. Ketidakadilan global, kata Jokowi, juga terasa ketika sejumlah negara enggan mengakui realita dunia yang sudah berubah.

Pandangan yang mengatakan persoalan ekonomi dunia hanya dapat diselesaikan oleh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Pembangunan Asia (ADB), menurut Presiden Jokowi, merupakan pandangan yang usang dan perlu dibuang.

Dia berpendapat bahwa pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan kepada ketiga lembaga keuangan tersebut.

Presiden mengatakan negara-negara Asia Afrika wajib mengembangkan tatanan ekonomi dunia baru yang terbuka bagi kekuatan ekonomi baru. Untuk itu, lanjut Jokowi, harus ada reformasi keuangan global untuk menghilangkan dominasi sejumlah negara atas negara lain.

Sekarang ini, tambah Presiden, dunia membutuhkan kepemimpinan global yang kolektif yang dilaksanakan secara adil dan bertanggung jawab.

Diperlukan kerjasama antar negara-negara Asia Afrika, tambah Presiden Jokowi, untuk menghapuskan kemiskinan, bekerjasama meningkatkan perdagangan antar negara-negara Asia Afrika serta saling membantu. Presiden juga mengkritik ketidakberdayaan Perserikatan Bangsa-bangsa dalam menghadapi ketimpangan global

"Kita berkumpul di Jakarta ini untuk menjawab tantangan ketidakadilan dan ketidakseimbangan itu. Hari ini, hari esok rakyat kita menanti jawaban terhadap persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Hari ini dan hari esok dunia menanti langkah-langkah kita dalam membawa bangsa-bangsa Asia Afrika berdiri sejajar sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia," ujarnya.

Dalam pidatonya, Presiden juga mengatakan bahwa negara-negara Asia Afrika tidak boleh berpaling dari penderitaan rakyat Palestina dan harus mendukung lahirnya sebuah negara Palestina yang merdeka.

Ia menambahkan saat ini dunia masih berhutang kepada rakyat Palestina. Dunia tidak berdaya menyaksikan penderitaan rakyat Palestina yang begitu dalam ketakutan dan ketidakadilan akibat penjajahan yang berlangsung begitu lama, ujarnya.

"Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dan sebagai negara demokrasi ketiga di dunia kata Jokowi siap memainkan peran global bagi perdamaian dan kesejahteraan. Indonesia siap bekerjasama dengan semua pihak untuk mewujudkan cita-cita mulia itu," ujarnya.

Di tempat yang sama, Presiden Iran Hassan Rauhani meminta semua negara mencegah penyebaran terorisme dan ekstremisme di sejumlah negara di Asia dan Afrika terutama Irak dan Suriah.

Menurut Hassan, kelompok teroris dan ekstremis mendapatkan dukungan dari sponsor internasional dan regional. Untuk itu diperlukan kerjasama untuk menanganinya, ujarnya.

"Para ekstremis menikmati dukungan logistik dan finasial dari sejumlah pemain regional dan internasional untuk mencapai tujuan mereka yang tidak sah; para sponsor mereka yang mengabaikan fakta krisis stabilitas yang berlanjut di wilayah akan membawa ketidakamanan di seluruhdunia termasuk negara mereka," ujarnya.

Hadir dalam pembukaan sidang Konferensi Asia Afrika 21 kepala negara dan kepala pemerintahan, diantarannya Presiden China Xi Jinping, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Presiden Singapura Lee Hsien Loong.

XS
SM
MD
LG