Tautan-tautan Akses

Indonesia Serukan Arsitektur Global Finansial yang Baru


Presiden Joko Widodo, Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Perdana Menteri Shinzo Abe bersiap berfoto bersama dalam Konferensi Asia Afrika di Jakarta (22/4). (AP/Dita Alangkara)

Presiden Joko Widodo, Presiden China Xi Jinping (kiri) dan Perdana Menteri Shinzo Abe bersiap berfoto bersama dalam Konferensi Asia Afrika di Jakarta (22/4). (AP/Dita Alangkara)

Presiden Jokowi mengatakan ide bahwa masalah-masalah ekonomi hanya bisa diatasi melalui Bank Dunia, IMF dan ADB sudah usang.

Presiden Joko Widodo pada Rabu (212/4) menyerukan sebuah tatanan keuangan global baru yang terbuka bagi kekuatan-kekuatan ekonomi baru dan meninggalkan "ide-ide usang" lembaga-lembaga Bretton Woods di masa lalu.

Pidato Presiden Jokowi di Jakarta membuka pertemuan negara-negara Asia dan Afrika untuk menandai 60 tahun peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang dilihat sebagai pemersatu dunia berkembang melawan kolonialisme dan mengarah pada gerakan non-blok era Perang Dingin.

Di antara para pemimpin yang mendengarkan adalah Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan Presiden China Xi Jinping, yang diharapkan akan bertemu di sela-sela konferensi, tanda terbaru dari mencairnya hubungan antara rival-rival Asia tersebut.

Hubungan China-Jepang telah mendingin dalam beberapa tahun terakhir akibat perseteruan mengenai peperangan kedua negara di masa lalu dan juga sengketa wilayah dan persaingan regional. Pembicaraan-pembicaraan bilateral di Jakarta pada Rabu dapat mendorong pemulihan hubungan secara hati-hati yang dimulai ketika Abe dan Xi bertemu dalam sebuah KTT di Beijing akhir tahun lalu.

Presiden Jokowi tidak menyebutkan Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) yang diprakarsai China dan dilihat sebagai ancaman bagi Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia yang didominasi Barat. Namun Indonesia adalah salah satu dari hampir 60 negara yang menawarkan menjadi anggota pendiri AIIB.

Amerika Serikat dan Jepang belum menyatakan dukungan terhadap bank tersebut, yang dilihat sebagai upaya-upaya untuk memperluas pengaruhnya di wilayah Asia Pasifik dan menyeimbangkan kekuatan finansial China yang semakin meningkat.

"Ada realitas dunia yang bergeser... Mereka yang mengatakan masalah-masalah ekonomi global hanya bisa diatasi melalui Bank Dunia, IMF dan ADB, hal itu merupakan ide-ide usang," ujar Presiden Jokowi.

"Perlu ada perubahan. Penting bagi kita untuk membantun tatanan ekonomi internasional baru yang terbuka bagi kekuatan-kekuatan ekonomi baru."

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia ada di pusat tatanan moneter Bretton Woods pasca Perang Dunia II yang diciptakan oleh Amerika Serikat dan Eropa.

Indonesia mengundang kepala-kepala negara dan pemerintah dari 109 negara-negara Asia dan Afrika, namun puluhan diantaranya tidak hadir dan para pejabat mengatakan hanya 34 pemimpin yang muncul.

Berbicara dalam konferensi tersebut, Presiden Zimbabwe Robert Mugabe mengatakan, negara-negara di Asia dan Afrika "seharusnya tidak lagi terbatas pada peran sebagai eksportir bahan-bahan baku dan importir barang-barang jadi."

Ia menyebutnya "peran yang secara historis dibebankan pada kita oleh kekuatan kolonial dan dimulai dari hari-hari kolonialisme."

Tatanan dunia telah berubah secara dramatis sejak hampir 30 kepala negara berkumpul pada 1955 untuk membahas pembangunan keamanan dan ekonomi jauh dari kekuatan-kekuatan global yang berseteru dalam Perang Dingin.

Banyak dari negara-negara tersebut, seperti China dan India. sekarang ada di tempat teratas seperti Grup 20 (G20) dan memiliki kekuatan ekonomi signifikan.

Presiden Jokowi mengatakan kelompok itu bertemu lagi dalam dunia yang sudah berubah namun tetap saja perlu bersatu melawan dominasi "sekelompok tertentu" untuk menghindari ketidakadilan dan ketidakseimbangan global.

XS
SM
MD
LG