Tautan-tautan Akses

Menteri Pertanian: Indonesia Masih Butuh Impor Kedelai


Menteri Pertanian Suswono (kedua dari kiri) dalam pencanangan Gerakan Konsumsi Pangan Lokal dan Sehat di Solo (4/10). (VOA/Yudha Satriawan)

Menteri Pertanian Suswono (kedua dari kiri) dalam pencanangan Gerakan Konsumsi Pangan Lokal dan Sehat di Solo (4/10). (VOA/Yudha Satriawan)

Suswono mengatakan bahwa Indonesia masih butuh mengimpor dua pertiga dari kebutuhan total kedelai, atau sekitar 1,4 juta ton lagi.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan bahwa target Indonesia adalah mencapai swasembada bahan pangan, termasuk kedelai, namun saat ini negara ini masih perlu mengimpor kedelai karena kebutuhan nasional yang tinggi.

Dalam pencanangan Gerakan Konsumsi Pangan Lokal dan Sehat di Taman Balai Kambang Solo, Jumat (4/10), Suswono mengatakan bahwa Indonesia masih butuh mengimpor dua pertiga dari kebutuhan total kedelai, atau sekitar 1,4 juta ton lagi.

Meski demikian, ia mengatakan mulai banyak petani yang bergairah menanam kedelai karena harga di pasaran mulai naik.

“Sekarang di pasar internasional, harga kedelai tinggi. Menurut informasi dari BULOG (Badan Usaha Logistik) yang saya terima, sampai di Indonesia, harga kedelai mencapai Rp 9000 per kilogram. Tentu saja ini sangat menarik bagi petani,” ujarnya.

“Di beberapa daerah di Jawa Timur, kita memakai sistem tumpang sari menanam kedelai di sela-sela hutan jati, tumpang sari, ternyata bisa menghasilkan 1,7 ton per hektar. Di Aceh akan ada pengembangan lahan untuk menanam kedelai sampai 5.000 hektar, kemudian di Nusa Tenggara Barat pengembangan lahan pertanian kedelai mencapai 20 ribu hektar. Jadi ini menunjukkan pada petani pemicu semangat menanam kedelai yaitu harga yang menguntungkan.”

Suswono mengungkapkan perubahan iklim dan harga bahan pangan yang murah membuat para petani enggan mengolah lahan pertaniannya. Hal ini berdampak pada semakin cepatnya alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman dan industri. Suswono menyebut 100 ribu hektar lahan pertanian per tahun berubah menjadi pemukiman.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa tengah, Heru Sudjatmoko, mengatakan Jawa Tengah terus berupaya menjadi daerah penyangga pangan nasional dengan berbagai hasil pertaniannya. Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Propinsi Jawa Tengah, provinsi ini mengalami surplus berbagai komoditas pertanian, kecuali kedelai, ujar Heru.

“Produksi padi sekitar 5,7 juta ton atau surplus 3 juta ton, jagung 2,7 juta ton atau surplus 2,6 juta ton, ubi kayu 3,2 juta ton atau surplus 2,9 juta ton..kemudian daging 337 ribu ton atau surplus 139 ribu ton dan telur 288 ribu ton atau surplus 13,5 ton,” ujarnya.
XS
SM
MD
LG