Tautan-tautan Akses

Mentan: Indonesia Sulit Capai Swasembada Kedelai


Pekerja memasukkan kedelai ke mesin di pabrik tahu di Jakarta. (Foto: Dok)

Pekerja memasukkan kedelai ke mesin di pabrik tahu di Jakarta. (Foto: Dok)

Menteri Pertanian Suswono mengatakan Indonesia sulit mencapai target swasembada kedelai 2014 dan akan bergantung pada kedelai impor.

Indonesia tidak akan dapat memenuhi ambisi swasembada kedelai tahun depan karena kurangnya lahan, menurut Menteri Pertanian Suswono, sehingga negara ini sepertinya akan sangat bergantung pada impor.

Tahun lalu, Indonesia juga meninggalkan target swasembada gula putih pada 2014, dan kesulitan yang sama timbul untuk jagung, daging sapi, beras dan kedelai.

“Kami menghadapi masalah dengan kedelai dan gula putih,” ujar Suswono pada kantor berita Reuters, Rabu (27/3). “Masalahnya dengan kedelai dan juga gula adalah terbatasnya tanah pertanian.”

Ia mengatakan negara ini membutuhkan sedikitnya 500.000 hektar lagi untuk tanah perkebunan kedelai jika ingin mencapai target 2014, dari yang sekarang mencapai 600.000 hektar.

Diperlukan lebih dari 350.000 hektar tanah pertanian tebu tambahan untuk mencapai tujuan untuk gula putih, tambahnya, dari 450.000 hektar yang ditanami sekarang.

“Sangat sulit mencapai target gula dan kedelai.”

Pengiriman kedelai ke Indonesia, yang mencakup 70 persen dari kebutuhan biji minyak melalui impor, sepertinya akan naik 3 persen menjadi 1,8 juta ton tahun ini, menurut kelompok-kelompok industri.

Pembeli besar termasuk FKS Multiagro, Sungai Budi Group dan Cargill.

Indonesia terutama mengimpor dari Amerika Serikat dan memberlakukan pajak impor 5 persen. Konsumsi kedelai sekitar 2,5 juta sampai 2,7 juta ton setiap tahun, dengan panen domestik berlangsung akhir Agustus.

Minggu lalu, seorang pejabat Kementerian Perindustrian mengatakan akan menghubungkan impor kedelai para pedagang dengan volume biji minyak (oilseed) yang mereka beli di dalam negeri, untuk membantu memproteksi petani nasional dan mendorong kepentingan mereka.

Pemerintah selama ini kesulitan menyeimbangkan kepentingan petani dan konsumen. Dengan naiknya tingkat kemakmuran, kebiasaan makan yang berubah dengan memasukkan daging dan makanan lainnya, mendorong impor kacang-kacangan untuk pakan, seperti jagung dan kedelai.

Pemerintah telah memberlakukan kontrol impor yang ketat dan seringkali menggunakan cukai atau kuota impor untuk melindungi petani lokal.

Akhir tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani undang-undang pangan baru untuk mempercepat target-target swasembada pangan yang menurut para kritikus akan menambah pengetatan perdagangan bahan pokok pangan.

Kebijakan-kebijakan perdagangan pangan dan pertanian seperti itu telah dikritik oleh mitra perdagangan internasional, termasuk Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Suswono mengatakan bahwa produksi beras lokal akan memenuhi 90 persen kebutuhan nasional pada 2014, yang merupakan tolak ukur swasembada untuk pemerintah.

Awal minggu ini, seorang pejabat Kementerian Pertanian mengatakan bahwa karena surplus beras meningkat, impor biji-bijian pokok tidak akan diperlukan tahun ini.
Indonesia biasanya mengimpor sekitar 1-2 juta ton beras setiap tahun dari Thailand, Vietnam, India atau Kamboja, untuk meningkatkan persediaan dan mencegah timbulnya inflasi pangan.

Para konsumen telah mengkritik kebijakan pemerintah, yang memotong kuota impor daging sapi dan mendorong kenaikan harga di Pulau Jawa. Indonesia juga masih menghadapi kekurangan bawang putih dan bawang merah. (Reuters)
XS
SM
MD
LG