Tautan-tautan Akses

Tahu, Tempe Takkan Picu Inflasi


Seorang pembuat tahu Cibuntu di kota Bandung. (VOA/R. Teja Wulan)

Seorang pembuat tahu Cibuntu di kota Bandung. (VOA/R. Teja Wulan)

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menepis kekhawatiran banyak kalangan bahwa harga produk kedelai, tahu dan tempe, akan menjadi pemicu inflasi bulan ini.

Kepada pers di Jakarta, Senin, Menko bidang Perekonomian, Hatta Rajasa mengatakan pemerintah prihatin dengan berhentinya produksi tahu tempe sehingga dua komoditas tersebut sulit didapat dipasar-pasar.

Namun Menko, Hatta Rajasa tidak sependapat jika beberapa kalangan memprediksi tahu tempe akan menjadi pemicu tingginya inflasi sepanjang September 2013. Menko Hatta Rajasa optimistis inflasi pada bulan-bulan mendatang rendah bahkan akan terjadi deflasi. Prediksi tersebut diungkapkan Hatta Rajasa karena inflasi Indeks Harga Konsumen Agustus 2013 sebesar 1,12 persen yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) berada di bawah perkiraan BI dan pemerintah sebesar 1,2-1,5 persen.

"Kita harapkan pada bulan September akan akan jauh di bawah 1 persen dan Oktober saya kira sudah deflasi kembali,” tambahnya.

Namun kebanyakan pihak menganggap dampak harga kedelai terhadap resiko meningkatnya inflasi dapat dianggap sepele. Ekonom dari Kadin Indonesia, Didik Rachbini mengatakan pemerintah harus segera merespon kenaikan harga kedelai. Dampaknya terhadap inflasi, menurutnya, tak terelakkan karena tahu dan tempe banyak dikonsumsi masyarakat.

Selain itu, menurut Didik, Bulog juga harus diberdayakan untuk menstabilkan harga beberapa komoditas termasuk kedelai. Ia melihat indikasi adanya kartel kedelai dengan terpinggirkannya Bulog dalam alokasi kedelai.

“Dari hampir 500.000 ton yang dialokasikan untuk kuota Bulognya itu hanya dapat 20.000. Padahal seharusnya Bulognya harus jadi pemain utama,” ujar Didik.

Sebagian perajin terpaksa berhenti memproduksi tahu dan tempe mulai Senin ini (9/9) karena mereka tak mampu lagi membeli kedelai. Demikian menurut Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syarifuddin. Sekitar 115 ribu produsen tahu tempe di Indonesia ditambahkannya mendesak pemerintah membantu mengatasi persoalan kacang kedelai.

Berhenti memproduksi tahu tempe mulai Senin 9 September menurut Ketua Umum Gakoptindo, Aip Syarifuddin terpaksa dilakukan karena para pengrajin sudah tidak mampu lagi membeli kacang kedelai. Sekitar 115.000 perajin tahu tempe di Indonesia sudah mendesak pemerintah membantu mengatasi persoalan kacang kedelai.

“Kami mohon pemerintah saat ini juga tolong turunkan harga kedelai," ujar Aip. Para perajin, katanya, tidak dapat menunggu kedelai impor yang baru akan datang dua bulan lagi.

"Perlu da bantuan dan penekanan daripada pemerintah kepada importir," tukasnya.

Aip Syarifuddin menambahkan, ketergantungan impor kacang kedelai yang selama ini mayoritas didatangkan dari Amerika Serikat harus dikurangi dan petani kedelai di dalam negeri harus terus diberdayakan.
XS
SM
MD
LG