Tautan-tautan Akses

Mahasiswa ISI Rayakan HUT ke-13 Wayang Sebagai Warisan Dunia

  • Yudha Satriawan

Perayaan 13 tahun wayang ditetapkan PBB sebagai warisan budaya dunia, di kampus Institut Seni Indonesia (ISI), Solo, 7 November 2016 (Foto: VOA/Yudha)

Perayaan 13 tahun wayang ditetapkan PBB sebagai warisan budaya dunia, di kampus Institut Seni Indonesia (ISI), Solo, 7 November 2016 (Foto: VOA/Yudha)

Hari ini genap 13 tahun Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan budaya dunia. Ratusan mahasiswa seni pedalangan, seniman pewayangan menggelar aksi merayakan Wayang sebagai warisan budaya dunia.

Sekitar seratus mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo dengan mengenakan busana tradisional Jawa membawa berbagai jenis wayang antara lain wayang kulit, wayang golek, bahkan ada yang berdandan wayang orang di halaman kampus tersebut, Senin siang (7/11). Mereka menari, menampilkan berbagai sajian seni budaya bertema wayang.

Panggung berjajar wayang kulit dan gamelan disiapkan untuk acara tersebut yang disajikan selama 36 jam tanpa henti (nonstop) oleh 28 dalang. Demikian sekelumit kegiatan perayaan 13 tahun UNESCO menetapkan wayang sebagai warisan budaya dunia.

Salah satu dalang wayang kulit, Manteb Sudarsono, menjadi saksi sejarah penetapan Wayang sebagai warisan budaya dunia 13 tahun silam. Bagi Ki Manteb, kebanggaan wayang diakui dunia tidak sebanding dengan nasib pentas pewayangan yang sekarang semakin sepi peminat.

“Saya menjadi saksi sejarah dan pelaku sejarah penetapan wayang sebagai warisan budaya dunia. Saya tampil selama tiga menit di hadapan pejabat PBB di markas UNESCO. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Senang dan bangga ketika PBB mengakui wayang sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Tapi sekarang nasibnya memprihatinkan. Pentas wayang jarang sekali diminati. Kegiatan pemerintah juga mulai sepi menggelar pentas wayang. Apalagi masyarakat juga begitu. Memang mahal untuk pentas wayang karena harus menghidupi para pemainnya yang banyak. Kreatifitas dalang menjadi kunci pementasan wayang,” kata Manteb Sudarsono.

Butuh biaya mahal untuk menyajikan pertunjukan wayang, puluhan hingga ratusan juta rupiah sekali pentas. Selain perlengkapan deretan ratusan wayang, gamelan dan para pemainnya yang berjumlah sekitar 25 orang, pentas wayang juga memerlukan keahlian dalang memainkan wayang dan cerita yang menarik bagi penonton. Proses regenerasi dalang terus dilakukan.

Rektor ISI Solo, Sri Rochana Widyastuti, mengakui setiap tahun hanya segelintir mahasiswa program studi Seni pedalangan yang lulus dari kampus ini. Menurut Sri Rochana, kisah atau cerita dalam seni pewayangan sangat dekat atau merupakan cerminan dari kehidupan manusia.

“Seni pedalangan di kampus ini memang masih diminati. Tidak seperti program studi lain atau kampus lain, lulusan seni pedalangan memang butuh waktu lama. Setiap tahun hanya meluluskan 5-10 orang saja. Dalang dan wayang sangat dekat. Kisahnya pun cerminan dari kehidupan manusia," kata Sri Rochana Widyastuti.

Sementara itu, Direktur Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi atau Ristek Dikti, Didin Wahidin, mengatakan wayang bukan sekedar tontonan tetapi juga berisi tuntunan atau suri tauladan.

“Wayang sangat mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Wayang bukan sekedar pentas atau tontonan saja. Tetapi kisah cerita di dalamnya berisi tuntutan bagi kehidupan manusia,” jelas Didin Wahidin.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB melalui Badan Pendidikan dan Kebudayaan UNESCO menetapkan wayang asli Indonesia sebagai warisan budaya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur atau (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada tanggal 7 November 2003.

Perkembangan wayang Indonesia memiliki ratusan jenis, mulai dari bahan baku, bentuk, isi cerita, target penonton, dan sebagainya. Jenis wayang antara lain wayang kulit, wayang orang, wayang golek, wayang wahyu, wayang kancil, dan wayang beber. [ys/lt]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG