Tautan-tautan Akses

Permainan Anak-anak 'Jadul' Mulai Diminati Lagi


Dua orang anak laki-laki bermain gasing dalam acara permainan tradisional di sebuah sekolah di Jakarta (1/10). (Reuters/Iqro Rinaldi)

Dua orang anak laki-laki bermain gasing dalam acara permainan tradisional di sebuah sekolah di Jakarta (1/10). (Reuters/Iqro Rinaldi)

Semakin banyak orangtua di Indonesia menentang permainan digital seperti Pokemon Go yang menurut mereka menggerus nilai-nilai, dan mendorong anak-anak untuk bermain permainan tradisional seperti gasing kayu dan kincir bambu.

Puluhan ribu orang di Indonesia keranjingan permainan digital Pokemon Go keluargan Nintendo, dimana para pemain berburu karakter-karakter virtual di tempat-tempat yang nyata.

Namun semakin banyak orangtua dan guru yang khawatir anak-anak terlalu terpaku pada dunia virtual dan tidak berinteraksi satu sama lain.

Beberapa orangtua bernostalgia tentang permainan-permainan yang dulu mereka mainkan dan ingin memperkenalkannya pada anak-anak mereka.

Awal bulan ini ratusan orangtua dan anak-anak menghadiri festival permainan tradisional alias jadul atau jaman dulu di Sekolah Pilar Bangsa, Jakarta Barat.

Sekelompok anak-anak tampak mengerubungi sebuah papan kayu, bergiliran menembakkan kelereng ke gawang-gawang yang terbuat dari karet dalam sebuah versi permainan sepakbola meja.

Yang lainnya mengikat tali gasing dan memutarkannya di atas papan melingkar.

"Permainan-permainan tradisional melibatkan lebih banyak aktivitas, sementara permainan elektronik hanya mensyaratkan anak-anak menggunakan jempol mereka," ujar Januar Surjadi, yang mengajarkan anak laki-lakinya yang berusia tiga tahun untuk bermain mainan bambu yang mengeluarkan bunyi 'klik' ketika diputar.

Beberapa peemainan seperti wayang dan congklak telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Kepala sekolah Pilar Bangsa, Agustinus, mengatakan pihaknya akan mengorganisir lebih banyak acara untuk memperkenalkan permainan-permainan tradisional kepada anak-anak.

"Kami ingin menunjukkan fitur-fitur unik Indonesia, yang kaya budaya."

Pilar Bangsa bukan satu-satunya. Pejabat Kementerian Pendidikan Essi Hermaliza mengatakan pemerintah bermaksud menerapkan nilai-nilai lama kepada para murid lewat permainan tradisional di seluruh negeri.

Walikota Bogor telah merenovasi sebuah taman dan melengkapinya dengan egrang kayu dan mainan lainnya untuk "membantu anak-anak menghindari Pokemon Go," menurut laporan media baru-baru ini.

Mainan tradisional seringkali berharga murah, namun memberikan peluang untuk pengusaha seperti Fahrudin, dengan mainan-mainan yang dibuat di desa-desa dan menjualnya di internet.

"Respon dari konsumen positif selma ini dan masih banyak permintaan," ujarnya di gudangnya di dekt Jakarta, di mana para pekerja membungkus mainan untuk dikirim.

Untuk anak-anak seperti Michelle Miranda, 13, mainan tradisional tidak akan menggantikan perangkat elektronik, tapi tetap menyenangkan untuk dimainkan.

"Saya mulai bosan dengan Pokemon Go karena semakin susah menemukan Pokemon yang lebih langka," ujarnya.

"Saya main congklak di rumah bersama teman-teman. Permainannya seru dan mengajarkan aritmetika." [hd]

XS
SM
MD
LG