Tautan-tautan Akses

Ribuan Warga Menari di Jalanan Meriahkan Hari Tari Dunia

  • Yudha Satriawan

Perayaan Hari Tari Dunia di Solo, 29 April 2016 (Foto: VOA/Yudha)

Perayaan Hari Tari Dunia di Solo, 29 April 2016 (Foto: VOA/Yudha)

Perayaan Hari Tari Dunia (World Dance Day) diperingati secara meriah oleh ribuan warga. Anak-anak hingga orang dewasa turun ke jalan-jalan menari secara kolosal. Sejumlah seniman bahkan menari selama 24 jam nonstop.

Sekitar enam ribu warga ikut berpentas dalam perayaan Hari Tari Dunia atau World Dance Day, 29 April, di Solo, yang berlangsung selama dua hari ini (28-29 April). Jalan protokol Jenderal Sudirman, mall atau pusat perbelanjaan, sekolah, dan kompleks Institut Seni Indonesia (ISI) Solo menjadi panggung terbuka bagi mereka.

Ketua penyelenggara Solo Menari, Eko Wahyu mengatakan ribuan warga berbagai kalangan membaur dalam pentas bersama merayakan hari Tari Dunia. Menurut Eko, sejumlah warga asing juga ikut dalam perayaan tersebut dengan menampilkan tarian tradisional Indonesia, Tari Legong dari Bali.

“Hari Tari Dunia di Solo menggelar pertunjukan spektakuler di jalanan berupa tari kolosal sekitar 1645 orang dari siswa SD, sanggar seni tari anak, paguyuban guru tari, dan juga ada penampilan dari warga asing antara lain mami yamamura dari Jepang, andrea dan anna dari Jerman, Moh Ari dari Singapura, dan Karen dari Meksiko. Mereka menari tari Legong dari Bali,” kata Eko Wahyu.

Tak hanya pentas dari satu lokasi ke lokasi lain, ada dua orang peserta yang ikut menari selama 24 jam nonstop yaitu Samsuri yang berprofesi dosen di ISI Solo dan Mudjo Setiyo, pemain wayang orang Bharata Jakarta.

Salah satu peserta, Samsuri, mengatakan ia membutuhkan persiapan selama dua bulan untuk ikut dalam perayaan ini. Menurut Samsuri, dirinya suka menari dan belajar tarian di berbagai sanggar seni sejak kecil.

"Untuk ikut menari selama 24 jam nonstop ini persiapan saya jelas fisik dan mental. Saya persiapan selama 2 bulan untuk berlatih. Saya juga mengurangi berat badan sekitar 5 kilogram. Dibutuhkan kondisi tubuh dan berat tubuh yang fit, ideal, karena menari membutuhkan tenaga dan konsentrasi yang tinggi. Saya menarikan tarian klasik. Tari tradisional Jawa, nuansa tarian gagah,” katanya.

Perayaan Hari Tari Dunia menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah seorang wisatawan asal Skotlandia, Claricia Kruithof, mengatakan keterlibatan ribuan warga dalam perayaan Hari Tari Dunia ini menjadi hal yang berbeda. Menurut Claricia, dirinya baru pertama kali berkunjung ke Indonesia dan bertepatan dengan Hari Tari Dunia.

“Ini sangat mengagumkan. Saya melihat perayaan hari tari di sini melibatkan banyak orang, ada tari tradisi, modern, berbeda gaya tampilan, beragam kelompok seni, warga dari anak hingga dewasa membaur menjadi satu ikut menari,” kata Claricia.

Perayaan Hari Tari Dunia di Solo melibatkan 250 kelompok tari dan lebih dari 6.000 peserta berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara. Perayaan Hari Tari Dunia ini menjadi agenda tahunan dan sudah 10 tahun ini digelar secara rutin. [ys/lt]

XS
SM
MD
LG