Tautan-tautan Akses

Kelompok Santoso Disinyalir Terima Dana Dari ISIS

  • Fathiyah Wardah

Pengamanan oleh Aparat Brimob di depan Polsek Poso Pesisir Selatan pasca peristiwa kontak tembak antara TNI Polri dengan dua pelaku jaringan Santoso (9/2). (VOA/Yoanes Litha)

Bantuan miliaran rupiah dikirim melalui perbankan tradisional di Timur Tengah dimana nama pengirim dan penerimanya tidak tercantum tetapi bisa sampai.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme mensinyalir adanya dana dari kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) untuk Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso alias Abu Wardah Santoso as-Syarqi al Indunisi .

Anggota tim ahli BNPT, Wawan Purwanto kepada VOA mengatakan, Santoso alias Abu Wardah Santoso as-Syarqi al Indunisi ini baru sekali menerima bantuan dari ISIS dengan nilai milliaran rupiah.

Uang tersebut, kata Wawan, dikirim melalui perbankan tradisional di Timur Tengah dimana nama pengirim dan penerimanya tidak tercantum tetapi bisa sampai.

Wawan menjelaskan, BNPT memperoleh informasi itu dari sumber-sumber yang bisa dipercaya. Dia menambahkan bahwa Santoso memang meminta langsung bantuan keuangan kepada ISIS untuk memodali operasional kelompoknya.

Namun dia memastikan tidak ada bantuan senjata diterima Santoso dari ISIS. Menurutnya, senjata kebanyakan diperoleh kelompok tersebut dari rampasan seperti menyerang patroli lalu membawa kabur senjata.

"Disinyalir dia sekali memperoleh tetapi nilainya lumayan, milliaran. Pengiriman perbankan tradisional dari Timur Tengah, jadi pemberi dan penerima tidak dicantumkan tetapi dijamin sampai, gerakannya tertutup," ujar Wawan, Sabtu (26/3).

"Sebetulnya sudah dilarang oleh PBB akan tetapi diam-diam masih aja ada yang melakukan. Kita tahunya dari sumber-sumber tertutup dari pergerakan yang ada di Suriah maupun sumber tertutup yang mereka berkolaborasi dengan sejumlah pihak di Indonesia."

Polisi dan tentara terus meningkatkan perburuan terhadap Santoso. Pemerintah sendiri, kata Wawan, telah memperpanjang operasi perburuan kelompok Santoso bersandi Tinombala selama enam bulan ke depan dengan kekuatan sebesar 2.500 orang.

Perpanjangan ini, menurut Wawan, akan semakin memojokkan kelompok Santoso yang sudah bersembunyi dalam hutan di pedalaman Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Dia mengatakan kekuatan Santoso sekarang ini makin lemah, ruang geraknya pun tambahnya makin sempit, dengan anggota kelompok tinggal 38 orang.

Wawan mengatakan, pemantauan udara yang dilakukan tim Tinombala berhasil menghadang kelompok Santoso sehingga membuat mereka berpencar untuk menghindari kejaran aparat keamanan. Operasi Tinombala menggunakan pesawat tak berawak atau drone dan helikopter untuk menyisir hutan dari udara.

Dalam operasi tersebut, kata Wawan, polisi dan tentara telah menangkap 10 orang anggota jaringan Santoso, sementara dua orang lainnya tewas.

"Kalau senjata memang kebanyakan memang dari rampasan, menyerang ketika lagi patroli ditembak mati, kemudian membawa kabur senjatanya itu. Beberapa kali terjadi seperti itu," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengaku optimistis tim gabungan TNI dan Polri dapat menangkap Santoso.

Direktur Lembaga Kebijakan dan Analisis Konflik (Institute for Policy and Analysis of Conflict), Sidney Jones mengakui Santoso memang berbahaya karena memiliki senjata dan melawan pemerintah Indonesia.

Tetapi meskipun dia tertangkap, tidak berarti bahwa resiko terorisme di Indonesia akan berkurang karena yang paling berbahaya untuk Indonesia sekarang ini adalah sel-sel di Jawa bukan di Sulawesi, ujarnya.

Menurutnya, ada kelompok lama yang saat ini memiliki nama baru, wajah baru karena bekerjasama dengan ISIS.

Sidney menilai apa yang telah dilakukan pemerintah dalam menangani terorisme sudah cukup baik, tetapi yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah memperkuat pengawasan terhadap penjara.

"Karena ada orang-orang napi teror yang ditahan dalam penjara yang keamanan maksimum. Kenapa mereka bisa pakai HP, kenapa mereka bisa bertemu dengan orang yang membawa buku tentang Suriah dan lain sebagainya, kenapa mereka tetap bisa berkomunikasi dengan orang di luar, itu agak aneh," ujarnya.

Santoso menjadi buron pemerintah Indonesia karena diduga bertanggung jawab atas sejumlah kasus teror. Ia dan kelompoknya bergerilya di wilayah Gunung Biru sejak Desember 2012.

Sebelum menggelar operasi Tinombala, Polda Sulawesi Tengah juga sempat mengejar Santoso lewat Operasi Camar-Maleo I-IV yang berlangsung pada Januari tahun lalu hingga Januari tahun ini. Namun Santoso belum berhasil diringkus.

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG