Tautan-tautan Akses

Kapolri: Ada Kiriman Dana Rp 1 Milyar dari Suriah untuk Laksanakan Teror di Jakarta


Kapolri Jenderal Badrodin Haiti (tengah) di Mabes Polri, Jakarta Jumat (22/1) menjelaskan perkembangan penyelidikan kasus teror bom dan penembakan di Jakarta. (VOA/Andylala)

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti (tengah) di Mabes Polri, Jakarta Jumat (22/1) menjelaskan perkembangan penyelidikan kasus teror bom dan penembakan di Jakarta. (VOA/Andylala)

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan aksi teror di Jalan Thamrin Jakarta Pusat dikendalikan dari Suriah dengan anggaran satu milyar rupiah. Polisi telah menangkap 19 orang, 18 di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

Kepolisian Republik Indonesia selama beberapa hari terakhir ini menangkap sejumlah tersangka teroris, yang diduga terlibat dalam penembakan dan bom bunuh diri di kafe Starbucks dan pos polisi di jalan MH. Thamrin Jakarta Pusat (14/1).

Dalam konferensi pers di Jakarta Jumat malam (22/1), Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan sudah menangkap 19 orang, 18 diantaranya dijadikan tersangka dan ditahan. Sementara satu orang dipulangkan karena tidak cukup bukti. Dari 18 orang yang kini ditahan itu, enam diantaranya merupakan kelompok pertama yang terkait langsung dengan teror di jalan Thamrin.

"Enam orang itu adalah DS alias YY alias IA alias DD yang ditangkap di Cirebon karena membeli tabung gas untuk casing bom Thamrin. Kedua, AH alias AI alias AM alias AIS yang membeli senjata api dan ditangkap di Indramayu. Ketiga, C alias J alias AS ditangkap di Cirebon. Keempat, J alias JJ mengetahui proses pembuatan bom ditangkap di Cirebon. Kelima, AM alias LL alias A. Dan keenam, F alias AZ alias AB," ujar Kapolri.

Kapolri menambahkan, kelompok kedua terdiri dari tujuh orang, yang terkait dengan penerimaan dana dan kasus senjata api. Satu orang diantaranya bahkan telah menerima dana hingga 1 milyar rupiah dari Bahrumsyah, warga negara Indonesia anggota kelompok teroris Negara Islam Irak Suriah (ISIS) yang kini bermukim di Suriah. Uang itu yang digunakan untuk membeli senjata, amunisi dan kebutuhan lain bagi melaksanakan aksi teror di Jalan Thamrin.

"Kelompok kedua, tujuh orang terkait kasus senjata api. Mereka rencananya melakukan amaliah (aksi) serta dukungan terhadap kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso. Tokohnya adalah HF alias H alias E alias AJ alias JT alias N. Dia ini menerima transfer dana sebanyak 1 milyar rupiah dari beberapa kali pengiriman. Dana dikirimkan oleh tokoh teror Indonesia yang sudah ada di Suriah, Bahrum Syah. Selain H, yang kedua adalah SF alias A alias C alias MM alias DA. Ketiga, S alias STM alias A alias GB alias I alias V alias SB. Keempat, B alias AM alias BB. Kelima, WFB alias W alias U alias AU alias AA. Keenam, MFS alias F. Dari kelompok ini disita sembilan pucuk senjata api,” paparnya.

Ada tiga napi terlibat aksi teror

Di antara 18 orang ini ada 6 orang yang merupakan kelompok ketiga, yaitu narapidana kasus terorisme yang sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (lapas) Tangerang dan Nusakambangan. Tugas kelompok ketiga adalah mendukung kelompok kedua untuk mendapatkan senjata api.

“Lalu enam orang yang merupakan bagian dari yang mendukung kelompok kedua, untuk mendapatkan senjata api. Satu, AP alias A. Kedua, EBN alias E. Ketiga Z alias ZM. Keempat W alias HN. Kelima, QM. Mereka di bon dari Lapas Tangerang. Lalu yang terakhir, SA alias B dari Lapas Kembang Kuning, Nusakambangan,” lanjutnya.

Tiga WNI anggota ISIS kendalikan aksi teror di Jakarta dari Suriah

2 pucuk senjata genggam yang digunakan teroris yang melakukan aksinya di jalan Thamrin, Jakarta. (VOA/Andylala)

2 pucuk senjata genggam yang digunakan teroris yang melakukan aksinya di jalan Thamrin, Jakarta. (VOA/Andylala)

Lebih jauh Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan ada tiga WNI yang kini memegang pucuk pimpinan ISIS di Suriah dan mengendalikan kelompok radikal di Indonesia. Ketiganya telah memiliki spesialisasi di bidangnya masing-masing. Aksi terorpenembakan dan bom bunuh diri di kafe Starbucks dan pos polisi Jl Thamrin Jakarta (14/1) adalah salah satu bentuk hasil kerja ketiga WNI ini dari Suriah.

Ia menambahkan, “Di Suriah itu ada tiga orang Indonesia yang punya peran penting. Yang pertama itu Bahrumsyah. Ia menjadi leader di sana, sayap militer. Dialah yang mengirim dana ke kelompok 2. Yang kedua adalah Bahrunnaim. Dia ahli propaganda. Dan dia memahami betul IT. Sehingga dia aktif komunikasi dengan yang ada di Indonesia.”

Ditanya wartawan tentang Abu Jandal, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyebutnya sebagai ahli propaganda. Namun Abu Jandal sendiri dikabarkan sudah tewas di Suriah.

Kapolri: ISIS bekerja dengan “sistem sel terputus”

Ketiga WNI yang disebut-sebut Kapolri itu, dikatakan telah berkomunikasi dengan beberapa kelompok radikal di Indonesia, yang kemudian membentuk sel-sel atau kelompok-kelompok kecil. Antar kelompok atau sel itu tidak saling mengetahui tugas dan rencana aksi masing-masing kelompok. Pola ini dikenal dengan nama “sistem sel terputus”.

“Yang melakukan komunikasi adalah kelompok yang di jalan thamrin. Tidak berhubungan langsung tapi melalui seseorang yang kita tangkap di sini. Dian salah seorang tersangka yang tewas melakukan komunikasi dengan H melalui perantara G,” papar Kapolri.

Hingga kini – lanjut Kapolri – ada beberapa orang yang belum tertangkap dan masih terus dikejar oleh Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri. Berdasarkan penyelidikan sementara, kelompok ini berencana melakukan aksi teror lain.

“Memang ini ada perencanaan, tetapi sedang kita dalami lebih lanjut tentang apa yang akan mereka lakukan kedepan. Tetapi rencana-rencana itu ada. Sekarang mereka sedang mengumpulkan senjata. Mereka berusaha mendapatkan senjata. Termasuk peluru. Mereka sudah dapat 9 pucuk senjata api. Mereka belum mendapat peluru, ini yang sedang mereka usahakan. Kedepan mereka memang akan melakukan amaliah (aksi). Tetapi tempatnya belum tahu, ini yang sedang dikembangkan,” tambahnya.

DPR apresiasi langkah aparat bongkar kelompok teror

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Ade Komaruddin mengapresiasi langkah cepat pemerintah – terutama aparat keamanan – dan mendukung revisi segera UU No 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme. Hal ini dinilai penting dilakukan untuk mendukung langkah pencegahan terjadinya aksi terorisme.

"Dewan memberikan penghargaan kepada Pemerintah beserta seluruh aparat keamanan yang sangat sigap dan cepat memberikan rasa nyaman kepada masyarakat atas peristiwa teror itu. Dan untuk undang-undang, kami setuju untuk dilakukan revisi,” ujar Ade Komaruddin. [aw/em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG