Tautan-tautan Akses

China Hapuskan Kebijakan Satu Anak


Seorang ibu menggendong anaknya di Beijing, China (foto: dok).

Seorang ibu menggendong anaknya di Beijing, China (foto: dok).

Partai Komunis China yang berkuasa hari Kamis (29/10) mengatakan akan menghapuskan kebijakan satu anak di sana.

Partai Komunis China yang berkuasa hari Kamis (29/10) mengatakan akan menghapuskan kebijakan satu anak yang telah diterapkan puluhan tahun di negara itu dan memungkinkan pasangan untuk memiliki dua anak.

Kantor Berita resmi Xinhua mengatakan bahwa keputusan itu bertujuan “untuk menyeimbangkan perkembangan populasi sesuai gender” dan untuk mengatasi populasi yang menua. Sejak kebijakan satu anak diberlakukan, penduduk China lebih didominasi laki-laki yang bukan usia produktif.

Dalam beberapa tahun terakhir, China berupaya melonggarkan aturan keluarga berencana yang diterapkan tahun 1979 sebagai upaya sementara untuk mencegah pertambahan penduduk, dan membatasi permintaan akan air dan sumber daya lainnya.

Keputusan yang diumumkan Kamis itu menghapuskan segala aturan yang membatasi pasangan untuk memiliki satu anak saja.

Sebagian orang menyambut baik langkah tersebut dan "kehangatan" yang akan terwujud bagi keluarga yang hingga kini hanya diperbolehkan memiliki satu anak, sementara lainnya memusatkan perhatian pada tantangan ekonomi yang kemungkinan akan dihadapi akibat perubahan kebijakan ini, dengan menyoroti betapa besar perjuangan pemerintah pada masa depan.

Perubahan ini sebagian besar didasarkan pada meningkatnya tekanan ekonomi yang dihadapi China. Walaupun penduduk China berjumlah besar, orang-orang yang lahir sebelum kebijakan ini diberlakukan, yang berasal dari keluarga besar, kini merupakan bagian besar dari populasi China, sementara angkatan kerja di negara itu menyusut.

Haohao, penduduk Beijing berusia 23 tahun yang berharap segera menikah, mengatakan ingin punya dua anak.

"Dengan memiliki lebih banyak anak akan menciptakan lingkungan yang lebih bahagia di rumah. Dengan dua anak, satu anak bisa mengurus yang lain. Keluarga akan lebih hangat dan lebih penuh cinta, dan ketika kita tua nanti akan ada lebih banyak anak yang membantu merawat kita," ujarnya.

Pemerintah secara bertahap telah melonggarkan kebijakan satu anak tapi hal itu tidak menghentikan penurunan jumlah angkatan kerja di negara itu.

Seorang warga dengan nama keluarga Li menyambut baik langkah itu. Kebijakan satu-anak secara bertahap telah mengikis seluruh konsep keluarga, katanya, dan semakin sedikit anak-anak yang punya bibi atau paman.

"Dampak dari kebijakan itu terhadap diri saya sendiri dan orang lain terlalu banyak," katanya. "Jika anak saya meninggal, jika sesuatu terjadi padanya, apa yang akan saya lakukan? Tidak akan ada yang tersisa dalam hidup saya."

Reaksi masyarakat di media sosial sangat beragam, demikian pula pemberitaan di China. Berita terhangat di Wangyi, aplikasi online utama untuk berita, berbicara tentang tantangan ekonomi jika memiliki terlalu banyak anak. Berita lain yangmempromosikan perubahan kebijakan itu memasang foto-foto bayi yang lucu, anak kembar dan keluarga bahagia.

Komentar lain justru menyoroti kenyataan pahit yang dihadapibanyak orang di China: yakni kesenjangan besar antara jumlah populasi laki-laki dan perempuan, karena banyak orang lebih menyukai bayi laki-laki.

"Saya bahkan tidak punya pacar," tulis salah satu pengguna aplikasi berita itu dari Beijing.

Lainnya lebih optimistis dalam mendukung kebijakan baru itu. Sebuah pesan yang diunggah oleh pasangan di Tianjin menanyakan apakah keluarganya bisa mendapat pengembalian uang dari denda yang sudah dibayar karena memiliki anak kedua. [vm/zb]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG