Tautan-tautan Akses

Anak-anak Lewatkan Liburan dengan Menambang Pasir

  • Nurhadi Sucahyo

Anak-anak melewatkan waktu libur sekolah mereka dengan menambang pasir (Foto: VOA/Nurhadi)

Anak-anak melewatkan waktu libur sekolah mereka dengan menambang pasir (Foto: VOA/Nurhadi)

Bagi sebagian besar dari Anda, liburan akhir tahun seperti saat ini mungkin akan diisi dengan perjalanan menyenangkan ke tempat-tempat wisata. Tetapi ada banyak anak-anak di Indonesia yang justru mengisi liburan dengan bekerja.

Ketika anak-anak seusianya tertawa riang di kolam renang, membeli mainan di pusat perbelanjaan atau bermain pasir di pantai, Anggun Wahyu Dwisaputra justru sibuk dengan sekop di tepi sungai. Anak berumur 10 tahun itu bersama dua kawannya mengumpulkan pasir, mengusungnya dari sungai ke tepi jalan, dan kemudian menjualnya pada pedagang bahan bangunan yang datang dengan mobil bak terbuka.

Mereka bertiga harus bekerja dua hari untuk pasir sekitar 1,5 meter kubik. Mereka bertiga pula yang harus mengangkat pasir itu ke atas bak mobil, dan dibayar Rp 120 ribu.

Dengan keringat masih bercucuran di badannya, kepada VOA, Anggun mengatakan bahwa dia bekerja atas kemauan sendiri. Alasan utamanya adalah mengisi liburan sekolah, selain itu dia ingin membeli sepeda baru dan memberikan sebagian uang ke orang tuanya.

“Ini kami atas kemauan sendiri. Kalau sebelumnya, dalam dua hari bisa dapat 40 ribu sendirian. Kalau satu minggu bisa dapat 300 ribu, untuk bertiga. Uangnya lalu saya kasih ke ibu atau bapak,” kata Anggun Wahyu Dwisaputra.

Anggun tinggal di lereng Gunung Merapi, di wilayah Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di daerah ini, penambangan pasir menjadi salah satu mata pencaharian bagi warga. Tidak mengherankan jika kemudian Anggun dan kawan-kawannya ikut menambang pasir seperti orang tua mereka. Di musim liburan seperti saat ini, ada ratusan anak turun ke sungai di berbagai titik penambangan pasir.

Subari, warga setempat mengaku, kegiatan menambang pasir di lereng Merapi dilakukan turun temurun. Dia yang sudah berumur hampir 60 tahun pun mengaku melakukan hal yang sama ketika kecil.

“Orang mungkin melihatnya kok kasihan anak-anak sudah kerja berat nambang pasir. Tapi mereka suka. Anak-anak desa kan beda dengan di kota. Di sini pekerjaan seperti itu sudah biasa,” kata Subari.

Gunawan Yulianto dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Tlatah Bocah di Magelang mengaku melihat aktivitas ini sebagai sebuah tradisi. Sejak lama, anak-anak di lereng Merapi ikut bekerja di penambangan pasir, bahkan tidak hanya di saat liburan sekolah. Anak-anak itu tidak bisa dilarang, salah satunya karena faktor ekonomi. Anak-anak ingin membeli sesuatu, sementara mungkin orang tuanya tidak memiliki uang. Seperti dalam kasus Anggun, yang ingin membeli sepeda baru.

“Mereka bekerja itu tidak dipaksa. Mereka memang ingin mencari uang. Bagi saya, itu adalah salah satu bentuk upaya belajar untuk mandiri. Kecuali mereka dipaksa oleh orang tua untuk mencari uang. Bahkan ada beberapa anak yang sebagian kecil uangnya diberikan ke orang tuanya. Itu menurut saya malah bagus, mereka belajar untuk hidup. Belajar untuk mandiri. Tapi, ini dalam kasus di mana anak tidak dipaksa untuk bekerja, lho ya.. ,” kata Gunawan Yulianto.

Namun, tentu saja Gunawan memberikan alternatif. Organisasi Tlatah Bocah sudah membagikan 350 ekor ayam ke anak-anak di lereng Merapi, di Kabupaten Magelang. Tujuannya, mengajak mereka belajar mencari uang melalui kegiatan yang berbeda, yang tentu saja lebih aman dan ramah bagi anak-anak.

“Anak-anak ketika sejak kecil diajari, tentu akan semakin meningkat. Kalau sekarang memelihara ayam, besok ketika mereka usia SMP atau SMA memelihara kambing. Ketika ayam itu beranak pinak, telur atau ayamnya diperjualbelikan, mereka sudah belajar berwiraswasta. Saya mengupayakan mereka untuk berkegiatan itu, selain mereka memang sudah punya kebiasaan ke sungai untuk mengeruk pasir,” lanjutnya.

Bekerja di sektor penambangan pasir bagi anak-anak sebenarnya tidak diperbolehkan oleh undang-undang maupun Konvensi Hak Anak PBB. Selain karena upahnya yang terlalu kecil, juga lingkungan bekerja yang memiliki resiko kecelakaan cukup besar. Namun, nampaknya aturan hukum semacam itu sangat sulit diterapkan bagi anak-anak penambang pasir di kaki Gunung Merapi. [ns/em]

XS
SM
MD
LG