Tautan-tautan Akses

Pembatik Penyandang Difabel, dari Ejekan Hingga Karya Batik Bernilai Jutaan

  • Yudha Satriawan

Penyandang difabel, Ayu Tri Handayani, sedang membatik di lembaran kain putih dengan latar belakang berbagai kain batik buatannya, 2 Oktober 2014 (Foto:VOA/Yudha)

Penyandang difabel, Ayu Tri Handayani, sedang membatik di lembaran kain putih dengan latar belakang berbagai kain batik buatannya, 2 Oktober 2014 (Foto:VOA/Yudha)

Meski menggunakan kaki, Ayu tampak lincah berulang kali mencelupkan canting ke cairan panas, mengoleskannya ke selembar kain putih dan menghasilkan karya batik bernilai belasan juta rupiah tiap lembarnya.

Hari ini, 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Perayaan tersebut untuk memperingati ditetapkannya Batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 silam oleh Badan Kebudayaan PBB, UNESCO.

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian pernah melansir data di Indonesia, jumlah perusahaan batik mencapai 50 ribu dengan penyerapan tenaga kerja hingga ratusan ribu karyawan.

Salah satu pengrajin batik di kota Boyolali, adalah seorang penyandang difabel, Ayu Tri Handayani.

"...iya ini motif batik modern. Ada bunga, dan sedikit motif tradisional Solo, tapi warnanya saya buat lebih terang, warna warni. Cairan lilinnya sudah panas..bisa dimatikan sebentar kompornya..”

Ayu tampak sibuk membatik selembar kain di rumahnya di Ngemplak, Boyolali, tak jauh dari Perbatasan Solo-Boyolali, Kamis (2/10). Dengan jari jemari di kaki kanannya, Ayu memegang canting atau kuas untuk membatik. Meski menggunakan kaki, Ayu tampak lincah berulang kali mencelupkan canting ke cairan panas dan mengoleskannya ke selembar kain putih.

Menurut Ayu, dulu dirinya sering menjadi bahan ejekan karena menjadi penyandang difabel. Kini Ayu mampu membatik dan sudah membuat batik lebih dari 50 lembar bernilai belasan juta rupiah perlembarnya.

“Dulu saya sering diejek karena saya nggak punya tangan, ya udahlah, saya tidak gubris. Saya pikir, kalau saya diemin saja, lama-lama juga mereka diam sendiri. Benar ternyata, ejekan-ejekan itu lama-lama hilang," kata Ayu.

"Saya belajar membatik di sekolahan. Di sekolahan (kita) ada penyaringan anak, 'kan semua dilatih membatik. Saya terpilih dari empat anak yang dianggap semangat membatik. Dari situ awal mula saya menekuni membatik," lanjut Ayu.

"Saya kemudian sering membatik, ikut pameran. Awalnya saya tidak begitu tertarik membatik, tapi lama-lama dicoba, ternyata saya enjoy juga. Kesulitan membatik dengan kaki ini, ya nggak ada, sudah terbiasa. Kadangkala saya kena tumpahan lilin panas ini. Saya butuh waktu satu tahun untuk melatih kelancaran membatik dengan kaki ini," tambahnya.

Menurut Ayu, untuk satu lembar kain batik ukuran dua meter, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan, kadang lebih, agar natinya layak dijual.

"Batik saya ini, baru kali ini yang paling mahal dibeli. Biasanya harga dibawah 10 juta rupiah per lembar, ini malah 15 juta rupiah per lembar. Bagi saya sebagai penyandang difabel, pantang menyerah, kejar terus mimpi dan harapan. Saya pengin ketemu Pak Jokowi dan memberikan batik karya saya untuk beliau,” kata Ayu.

Sambil membatik, Ayu tampak bersemangat bercerita menekuni ketrampilan ini. Ayu menunjukkan berbagai foto saat pameran batik dan dikunjungi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga para pejabat negara dan pejabat daerah lainnya. Guratan-guratan motif batik dari coretan pensil diperjelas Ayu dengan sapuan cairan lilin panas dalam canting Batik yang dijepit diantara jemari kakinya.

Sementara itu, salah seorang sahabat Ayu, Chintya, mengaku bangga dengan ketrampilan dan semangat berkarya yang dimiliki Ayu.

“Saya sangat bangga dan salut dengan perjuangan Ayu menekuni batik. Dulu dia memang sering diejek karena cacat fisik, tak punya tangan. Kini ia bisa membuktikan bisa sukses dari membatik ini. Ia tidak menggubris ejekan-ejekan itu,” kata Chintya.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG