Tautan-tautan Akses

Aktivis Suriah Mulai Mogok Duduk Serukan Penggulingan Presiden Assad


Para demonstran anti-pemerintah di kota Homs menghadiri pemakaman korban yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah (18/4).

Para demonstran anti-pemerintah di kota Homs menghadiri pemakaman korban yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah (18/4).

Ribuan pemrotes pro-demokrasi bersumpah akan terus menduduki alun-alun utama kota Homs sampai Presiden Assad digulingkan.

Ribuan pemrotes pro-demokrasi di Suriah telah menduduki alun-alun utama kota ketiga terbesar negara itu, dan bersumpah akan tinggal di sana sampai Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan.

Saksi mata di Homs mengatakan Senin, pemrotes mendirikan kemah di Alun-Alun Sa’a Jadida, meneriakkan slogan-slogan kebebasan serta penggulingan pemerintah.

Pengunjuk rasa mengatakan mereka bermaksud melakukan mogok-duduk sampai semua tuntutan mereka dipenuhi. Mereka menginginkan pengakhiran UU darurat yang sudah berjalan pluhan tahun, serta memberi pasukan keamanan wewenang untuk melakukan penangkapan dan penahanan.

Konfrontasi di Homs terjadi menyusul prosesi penguburan yang dihadiri lebih dari 10.000 pelayat untuk paling sedikit 12 orang yang tewas pada hari Minggu.

Menteri Dalam Negeri Suriah menyebut kekisruhan di Suriah sebagai sebuah “pembrontakan bersenjata” oleh apa yang disebutnya adalah “organisasi Salafis”. Gerakan Salafi merupakan sebuah gerakan ultra konservatif dari Islam Suni yang berasal dari Arab Saudi serta tersebar diseluruh kawasan itu.

Penguasa Suriah acapkali mengatakan bahwa negara mereka merupakan sasaran dari sebuah persekongkolan. Mereka menuduh kekerasan itu sebagai ulah dari geng-geng bersenjata dan inflitrator yang dipersenjatai oleh Lebanon dan Irak.

Sementara itu, pemerintahan Obama mengatakan Senin bahwa AS berusaha menggalakkan proses demokratis di Suriah tetapi tidak berusaha melemahkan pemerintah disana.

Mark Toner

Mark Toner

Komentar tersebut datang sementara harian-harian di Amerika mengatakan Departemen Luar Negeri Amerika secara diam-diam menyalurkan dana kepada kelompok oposisi Suriah, termasuk sebuah saluran televisi yang menyiarkan program anti-pemerintah di negara tersebut.

The Washington Post melaporkan Senin bahwa kawat-kawat diplomatik yang baru-baru ini dibeberkan oleh situs WikiLeaks memperlihatkan Departemen Luar Negeri mengirim dana sebanyak 12 juta dolar kepada pihak-pihak yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Pejabat Juru Bicara Departemen Luar Negeri Mark Toner tidak mau memberi komentar terhadap laporan itu. Ia mengatakan pada umumnya Amerika memiliki program-program promosi demokrasi di Suriah dan negara-negara lain yang mendukung lembaga-lembaga yang berjuang bagi penciptaan masyarakat madani.

Toner menambahkan bahwa Presiden Bashar al-Assad “perlu menanggapi aspirasi wajar dari rakyat Suriah.”

XS
SM
MD
LG