Ulama Yerusalem: Protes Muslim Berlanjut Sampai Israel Bongkar Barikade dan Kamera Keamanan

  • Associated Press

Para Muslimah Palestina melakukan sholat dan doa bersama di luar 'Pintu Gerbang Domba' di komplek Kota Tua Yerusalem, Selasa (25/7).

Seorang pejabat Muslim senior di Yerusalem mengatakan hari Rabu (26/7) bahwa para jemaah Muslim tidak akan kembali ke komplek masjid Al-Aqsa yang diperebutkan sampai Israel memindahkan barikade dan kamera keamanan yang dipasangnya pasca serangan mematikan di sana, memperpanjang sebuah krisis yang menurut Israel telah diselesaikan dengan membuat konsesi di lokasi tersebut.

Ikrema Sabri, Ketua Komite Islam Tertinggi Yerusalem, mengatakan bahwa setelah Israel membongkar detektor logam dari pintu masuk Al-Aqsa, diperlukan langkah lebih banyak untuk memulihkan ketenangan. Dia mengatakan bahwa demonstrasi dengan shalat berjamaah secara massal akan terus berlanjut sampai pintu gerbang komplek Al-Aqsa dibuka, pagar logam dan barikade dibongkar serta kamera keamanan yang baru saja dipasang dilepas.

Menurut Sabri, seorang pengacara yang bekerja atas nama pengelola Muslim di situs suci tersebut akan menghubungi polisi Israel mengenai tuntutan tersebut.

Namun, ia juga menegaskan, "Kami tidak akan masuk masjid sampai hal-hal tersebut dipenuhi," kata Sabri kepada kantor berita Associated Press.

"Sekarang kita sedang menunggu tanggapan dari polisi Israel," imbuhnya.

Tuntutan tersebut memicu kemungkinan terjadinya bentrokan baru menjelang pelaksanaan sholat Jumat di lokasi tersebut, ketika sejumlah besar kaum Muslim akan berdatangan ke tempat suci ini untuk melakukan ibadah sholat Jumat.

Israel menerapkan langkah-langkah keamanan baru pada awal bulan ini setelah beberapa orang Arab bersenjata menembak dan membunuh dua petugas polisi dari dalam lokasi tempat suci tersebut. Polisi Israel mengatakan bahwa mereka perlu melakukan pengamanan baru untuk mencegah lebih banyak serangan, sementara warga Palestina mengklaim bahwa Israel berusaha memperluas kontrolnya atas situs suci tersebut. Isu tersebut memicu beberapa bentrokan di jalanan terburuk dalam beberapa tahun dan berisiko menarik Israel ke dalam konflik dengan negara-negara Arab dan Muslim lainnya.

Israel Membongkar Detektor Logam tapi Tidak Cukup

Polisi Israel membongkar detektor logam yang dipasang di luar Masjid al-Aqsa, Selasa (25/7). Namun, ummat Muslim mengatakan bahwa langkah Israel ini belum cukup.

​Di bawah tekanan yang menguat, polisi Israel akhirnya membongkar alat pemindai logam dan mengatakan bahwa sebagai gantinya mereka berencana untuk memasang kamera keamanan yang canggih.

Namun, politisi Palestina dan ulama Muslim mengatakan bahwa pembongkaran detektor logam itu tidak cukup dan menuntut Israel untuk mengembalikan situasi di situs suci Kota Tua Yerusalem seperti kondisi semula, yaitu sebelum terjadinya serangan mematikan tanggal 14 Juli lalu.

Sebagai tanggapan atas serangan maut tersebut, Israel menutup komplek masjid Al-Aqsa selama dua hari untuk melakukan pencarian senjata dan memasang detektor logam. Keputusan Israel tersebut dengan cepat memicu protes Muslim di tengah beredarnya isu bahwa Israel berusaha memperluas kontrolnya atas lokasi suci bagi Muslim tersebut dengan berkedok isu keamanan, klaim yang dengan tegas ditolak oleh Israel.

Kompleks situs suci seluas 15 hektar, yang oleh ummat Muslim dikenal sebagai Tempat Suci yang Mulia (al-Haram ash-Sharīf) sementara bagi ummat Yahudi disebut sebagai Bait Allah atau Temple Mount, merupakan sumber utama terjadinya konfrontasi besar antara kedua belah pihak pada masa-masa lalu.

Wartawan Dilarang Meliput di Lokasi Tempat Suci

Sementara itu, para wartawan pekan ini telah mengeluh bahwa mereka dilarang meliput kerusuhan di sekitar Masjid Al Aqsa, sementara para wisatawan justru bebas bergerak di kota tua itu dan bebas mengambil gambar dengan ponsel mereka.

Juru bicara polisi Israel Micky Rosenfeld hari Rabu (26/7) mengatakan bahwa “wartawan dilarang datang ke lokasi-lokasi tertentu di mana terjadi kerusuhan dan gangguan keamanan.” Menurut Rosenfeld, keputusan itu dibuat oleh kepolisian distrik Yerusalem.

Asosiasi Wartawan Asing (FPA) mencemooh langkah Israel tersebut dan mengatakan, bahwa "larangan ini semacam penyensoran inovatif yang mengejutkan di negara yang membanggakan kebebasan persnya."

Israel dan Turki Saling Lempar Kecaman

Israel juga telah terlibat perseteruan baru dengan Turki, setelah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan termasuk di antara mereka yang mengeluarkan kritik paling keras terhadap Israel. Pada hari Selasa (25/7), Erdogan menuduh Israel menggunakan tindakan keamanan sebagai dalih untuk mengambil alih tempat-tempat suci di Yerusalem.

Kementerian luar negeri Israel menanggapi dengan menyebut komentar Erdogan tersebut "delusional, tidak berdasar dan bias."

"Masa-masa Kekaisaran Ottoman sudah berakhir," kata pernyataan itu. "Dia (Erdogan) yang tinggal di "istana kaca" akan lebih baik jika tidak (ikut) melemparkan batu."

Kantor Netanyahu juga menimpali dengan mengatakan bahwa ia ingin tahu apa yang akan Erdogan katakan kepada warga etnis Kurdi dan penduduk Siprus utara. "Erdogan adalah orang terakhir yang bisa mengkhotbahi Israel," demikian pernyataan tersebut.

Pada hari Rabu, Kementerian Luar Negeri Turki menyebut pernyataan-pernyataan Israel itu sebagai "arogan". [pp]