Uber Ancam Hentikan Operasi di Quebec, Kanada

Kantor pusat Uber di San Francisco, California, AS (foto: ilustrasi).

Uber Technologies Inc. menyatakan akan menghentikan operasi di Quebec bulan depan jika provinsi tersebut tidak membatalkan peraturan baru yang diperkenalkan minggu lalu.

Bos Uber di Quebec Jean-Nicolas Guillemette mengatakan hari Selasa, jika pemerintah tidak membatalkan peraturan itu, Uber akan berhenti beroperasi pada 14 Oktober.

Menteri Transportasi Laurent Lessard hari Jumat mengatakan provinsi di Kanada itu akan mengizinkan Uber terus beroperasi jika pemeriksaan latar belakang pengemudi Uber dilakukan oleh polisi dan bukan oleh perusahaan keamanan swasta. Pengemudi Uber juga diharuskan mengikuti pelatihan 35 jam, jumlah yang sama untuk pelatihan sopir taksi umumnya, bukan 20 jam.

Menurut Guillemette, provinsi itu tidak berkonsultasi dengan perusahaannya sebelum memperkenalkan peraturan baru tersebut. Ia mengatakan peraturan itu tidak memungkinkan Uber terus beroperasi di Quebec.

Sementara itu di London, perempuan pengemudi, usia 44 tahun, menggugat Uber ke pengadilan, mengklaim perusahaan itu telah melakukan diskriminasi seksual, dan bahwa praktik itu secara tidak adil merugikan perempuan.

Gugatan itu, diajukan serikat pekerja GMB atas nama perempuan itu, mengklaim Uber gagal memberi keamanan yang memadai bagi perempuan pengemudi sehingga kemampuannya bekerja mungkin terimbas, ujar pengacara pada hari Selasa dalam pernyataan yang dikirim melalui email.

Uber mengatakan aplikasinya menawarkan perlindungan bagi sopir dan tidak mengharuskan mereka menempuh perjalanan yang tidak mereka inginkan.

Gugatan itu termasuk di antara beberapa tekanan yang meningkat terhadap Uber, perusahaan yang berbasis di San Francisco, Amerika. Pihak berwenang transportasi London mengusulkan larangan layanan Uber di kota itu karena mengkhawatirkan keselamatan penumpang dan pengadilan akan mulai menyelidiki upah dan cuti bagi para pengemudi hari Rabu. [ka/al]