Duo Sutradara Indonesia 'The Mo Brothers' Tembus Sundance lewat 'Killers'

Timothy 'Timo' Tjahjanto dan Muhammad 'Kimo' Stamboel, duo sutradara film "Killers"

Film Indonesia ‘Killers’ garapan duet sutradara Timothy 'Timo' Tjahjanto dan Muhammad 'Kimo' Stamboel atau ‘the Mo Brothers’ diputar perdana di festival bergengsi Sundance di AS.
Film "Killers" bercerita tentang dua pria yang tinggal di dua benua yang berbeda yang saling berlomba-lomba untuk menjadi pembunuh berantai. Aktor Oka Antara berperan sebagai seorang jurnalis yang terpengaruh untuk mendalami sisi gelap dalam hidupnya setelah tertantang melihat kekerasan seorang pembunuh berdarah dingin asal Jepang, diperankan oleh Kazuki Kitamura, yang menyebarkan video pembunuhannya lewat Internet.

Film Indonesia dengan genre thriller psikologi yang merupakan kerjasama dengan rumah produksi Jepang, Nikkatsu, ini diputar sebagai bagian dari program "Park City at Midnight,” yaitu pemutaran film yang dilakukan pada tengah malam, dengan pilihan genre komedi atau horor yang dijamin bisa membuat penonton tetap terjaga di tempat duduknya.

Film "Killers" diputar perdana di Festival Film Sundance 2014 di Egyptian Theatre, Park City, Utah (Dok: Vena Annisa)

Tiket nonton film "Killers" di malam perdana itu langsung terjual habis. Penonton memadati Egyptian Theatre, tempat film ini diputar yang juga merupakan salah satu teater ikonik yang terkenal sering digunakan sebagai tempat pemutaran perdana film-film dari seluruh dunia. “Film Amerika sendiri aja sangat susah masuk ke Sundance, padahal Amerika adalah negara yang nomor satu film-filmnya,” cerita Kimo kepada reporter VOA, Vena Annisa, baru-baru ini. “Mereka aja bangga masuk Sundance. Apalagi kita dari Indonesia,” lanjut pria berumur 34 tahun ini.

Aktor Oka Antara di acara Red Carpet film 'Killers' (Dok: Vena Annisa)

Ajang pemutaran film perdana "Killers" diawali dengan acara karpet merah yang dihadiri oleh the Mo Brothers dan aktor Oka Antara. Dua produser film tersebut yaitu Shinjiro Nishimura dari Nikkatsu, Jepang, dan Daniel Mananta juga hadir untuk meramaikan acara ini.




Produser 'Killers,' Daniel Mananta (Dok: Vena Annisa)

Film "Killers" ini merupakan film pertama dari rumah produksi Damn Inc! yang diprakarsai oleh Daniel Mananta. Daniel mengaku optimis film ini bisa diterima oleh masyarakat Indonesia dan juga internasional. “Saya bangga melihat antusiasme penonton yang ramai datang malam ini. Ada produser Hollywood juga yang ikut nonton,” papar Daniel.

Terpilihnya film "Killers" untuk diputar dalam festival film Sundance yang diprakarsai oleh aktor Robert Redfort pada tahun 1978 ini merupakan prestasi tersendiri bagi Indonesia, mengingat festival film ini sangat selektif dalam pemilihan film-filmnya. Tahun ini 12.218 film didaftarkan ke festival independen terbesar di Amerika ini. Tetapi hanya 185 film saja yang berhasil terpilih untuk diputar. Timo dan Kimo berharap dengan masuknya film "Killers" ke Sundance bisa menjadi sebuah batu loncatan berharga bagi mereka. “Kita sih berharap yang terbaik saja, apa yang bisa kita lakukan di sini,” ujar Kimo.

Kimo menambahkan walaupun "Killers" dipastikan akan tayang di Jepang, Jerman, Inggris, Turki, Hongkong, Singapura, dan Thailand, kehadiran film ini di Sundance diharapkan mampu membuat film ini bisa didistribusikan lebih luas lagi, sehingga bisa mencapai kesuksesan yang juga diraih oleh film the Raid di dunia internasional. “Distribusinya the Raid itu sangat baik sekali dan mereka mempunyai perencanaan yang cukup jelas. Kita juga akan mencoba mempelajari jalur-jalur distribusi yang harus kita raih. Itu sih yang paling utama,” tambahnya.

Aktor Oka Antara di acara Red Carpet film 'Killers' (Dok: Vena Annisa)

Hadir di Festival Film Sundance pun menjadi keuntungan bagi para pelaku film dari seluruh dunia untuk menyusun strategi agar bisa memperluas jaringan mereka. “Pastinya kita ketemu dengan beberapa distributor, perusahaan-perusahaan dari luar dan mencoba menjalin hubungan, baik itu hubungan bisnis (atau) mungkin ada beberapa proyek yang bisa kita pitch juga ke mereka,” ujar Kimo. “Jadi memang ini adalah kesempatan yang baik sekali untuk kita, Indonesia, untuk menjalin hubungan dengan Amerika, dengan jalur distribusi yang bisa dibilang mini Hollywoodnyalah,” lanjutnya.

Dari Slasher ke Thriller Piskologi

Kerjasama dengan rumah produksi Jepang ternyata adalah kebetulan yang membuahkan kesuksesan. Semua ini berawal dari keinginan Timo dan Kimo untuk segera membuat film lagi setelah kelar syuting Macabre. “Waktu itu saya dan Kimo pede banget. Kita ingin bikin film lagi cepat-cepat, tapi ternyata susah untuk mendapat gig lagi,” cerita Timo. Timo beranggapan bahwa di Indonesia mereka masih dianggap sebagai idealis.

Sampai suatu hari mereka mendapat ide dari seorang warga Jepang. “Jadi kebetulan ada orang Jepang yang sudah nonton film pendek kita, Rumah Dara, dan waktu itu dia bilang ‘kenapa kalian nggak bikin (film bergenre) slasher (pembunuhan) dengan ide dua orang yang pakai topeng badut dan saling berkompetisi untuk membunuh di internet,” tambahnya.

Timothy “Timo” Tjahjanto bersama wartawan di acara Red Carpet film "Killers" (Dok: Vena Annisa)

Kedua sutradara ini pun tertarik dengan ide tersebut. Agar filmnya bisa lebih diterima oleh penonton, Timo dan Kimo akhirnya memutuskan untuk memperluas tema film tersebut menjadi thriller psikologi. “Kita waktu itu nulisnya selama dua tahun dan kita berusaha mencari dana. Now, we’re finally here. It’s a long journey,” papar Timo.

Kimo menambahkan filmnya kali ini menjadi lebih berbeda dan bergeser dari tema slasher menjadi thriller yang menurutnya lebih bisa dinikmati oleh banyak orang. “Karena (thriller) tidak selalu mengedepankan sebuah kekerasan. Kekerasan itu ada artinya dan itu adalah sebuah hal yang lebih kompleks dan bisa diterima oleh semua orang,” jelasnya.

Duo sutradara film yang melejit lewat film bergenre slasher, Rumah Dara (Macabre), ini mengatakan bahwa "Killers" bukan hanya film thriller psikologi yang menampilkan kekerasan dan adegan menyeramkan, tetapi juga bisa mengajak penonton ikut terlarut dalam emosi dan pergolakan jiwa para pemeran utamanya.

Kolaborasi Dengan Jepang

Mengomentari tentang kerjasamanya dengan rumah produksi Jepang Timo mengatakan bahwa walaupun awalnya ada kendala bahasa, hal itu tidaklah menjadi masalah. Terbukti dengan sebuah proyek film baru yang akan dikerjakannya, bersama produser Jepang yang sama. “(Kendala bahasa) adalah bagian dari tantangan. Waktu kita di jepang pun we learn a lot how to make films, jadi waktu itu malah menjadi pengalaman yang menantang dan menarik banget,” kata Timo. “Nanti kalau kalian lihat filmnya pun kelihatan bahwa kami berusaha memperlihatkan dua pria yang memiliki latar belakang yang berbeda, yang dipersatukan oleh kekerasan,” lanjut pria berumur 34 tahun ini.

Muhammad 'Kimo' Stamboel di acara Red Carpet film "Killers" (Dok: Vena Annisa)

Kimo berharap kerjasama yang ia lakukan dengan rumah produksi Jepang bisa dijadikan contoh oleh para filmmaker di Indonesia. “Kita ingin kasih tahu juga bahwa kita bisa bikin sebuah co-production antara Indonesia dan jepang. Itu sesuatu yang kayaknya, ke depannya bisa diikuti oleh filmmaker-filmmaker Indonesia yang lainnya.”

Berkolaborasi dengan negara lain memang bisa menambah sorotan, namun menutur Timo yang lebih penting sebenarnya adalah tema film yang akan dibuat. “Tema filmnya harus menjadi sesuatu yang menggerakkan (film) ini menjadi sesuatu yang lebih internasional. Kita mencoba membuat sebuah film yang bisa diterima semua orang. “

Mengenai kekompakan, Kimo mengaku hal tersebut tidak perlu dipertanyakan lagi. Biasanya sebelum syuting, mereka selalu berdiskusi terlebih dahulu. “Semua yang kita kerjakan pasti didiskusikan dahulu dan akhirnya pada waktu di set kita udah nggak berantem lagi. Kuncinya selalu diskusi sebelum kita syuting.”