Peta Konflik Israel-Palestina dan Peran Amerika Serikat

  • Nurhadi Sucahyo

Dua orang bergandengan tangan untuk menyatukan bendera Israel dan Palestina selama demonstrasi di luar Departemen Luar Negeri AS, kantor Menteri Luar Negeri Colin Powell, di Washington, 11 April 2002. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque KL)

Konflik Israel-Palestina yang berlangsung puluhan tahun, diwarnai oleh perubahan peta politik kawasan Timur Tengah sendiri. Meski begitu, Amerika Serikat (AS) dinilai memberi warna paling dominan.

Tiga diplomat Republik Indonesia yang saat ini bertugas di Timur Tengah menjabarkan dominasi pengaruh Amerika Serikat (AS) di kawasan itu dalam sebuah diskusi daring. Ketiganya adalah Duta Besar RI untuk Lebanon Hajriyanto Y. Thohari, Duta Besar RI untuk Suriah Wajid Fauzi, dan Wakil Duta Besar RI di Mesir, M Aji Surya.

Dalam diskusi dan halalbihalal daring yang digelar oleh Departemen Antarbudaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Rabu (19/5), Hajriyanto Y. Thohari mengatakan bahwa nasib bangsa Palestina, ada di pundak Amerika Serikat.

Duta Besar RI di Lebanon, Hajriyanto Y.Thohari. (Foto: Dok Pribadi)

“Saya melihat bahwa, kemerdekaan Palestina ada di beberapa pundak, tetapi yang pertama dan utama adalah Amerika karena Amerika yang paling bertanggung jawab sampai sekarang ini. Amerika makin dominan dan menjadi penulis skenario, apa yang terjadi di Timur Tengah,” ujar Hajriyanto.

Perubahan Prioritas
Mengutip pendapat diplomat Amerika Serikat, Chas W. Freeman Jr, Hajriyanto membandingkan pengaruh AS dan dunia Arab dalam konflik Israel-Palestina. Amerika Serikat, kutip Hajriyanto, adalah negara tunggal yang bertindak dengan kehendak tunggal. Sementara bangsa Arab adalah 23 negara yang secara politik semakin beragam, saling bersaing satu sama lain, dan jarang bersatu.

Di sisi lain, Hajriyanto memaparkan bagaimana tiga perubahan dunia Arab yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap apa yang dihadapi Palestina. Dalam buku “Being Arab” jurnalis Lebanon Samir Kassir menyebut bahwa Arab sedang mengalami malaise, istilah kesehatan yang menggambarkan kondisi kurang sehat secara umum.

Pendukung pro-Palestina berdemonstrasi di seberang jalan dari Konsulat Israel menyusul maraknya kekerasan Israel-Palestina di New York City, New York, AS, 18 Mei 2021. (Foto: REUTERS / Carlo Allegri)

“Yang kedua, negara-negara Arab tidak lagi memandang Palestina sebagai prioritas politik luar negerinya. Ketiga, negara-negara Arab telah mendefinisikan ancaman terhadap Arab berubah,” ujar Hajriyanto.

Penulis Philip Khuri Hitti, dalam bukunya “History of the Arabs” memang menyatakan bahwa ancaman terhadap dunia Arab kini bukan lagi zionisme Israel. Sejumlah negara Arab, bahkan kini cenderung melihat Iran sebagai ancaman bagi mereka.

AS telah mendampingi Israel dalam sejumlah perjanjian dengan negara-negara di sekitarnya. Dalam penilaian Hajriyanto, AS telah menjadi mediator dan broker perdamaian, dan pelaku paling aktif sekaligus pengambil inisiatif.

BACA JUGA: Netanyahu Tolak Seruan Biden untuk Kurangi Serangan terhadap Militan di Gaza

“Apakah dengan demikian, Israel yang mempengaruhi Amerika, atau Amerika yang mempengaruhi Israel? Tetapi yang pasti, bahwa keinginan-keinginan Israel itu diwujudkan oleh Amerika. Pertanyaannya adalah, mengapa Amerika tidak menciptakan produk berikutnya, yaitu kemerdekaan Palestina?” lanjut Hajriyanto bernada tanya.

Pengaruh Arab Spring

Duta Besar RI untuk Suriah Wajid Fauzi menyebut perubahan besar terjadi pasca perang dingin, setelah bubarnya Uni Soviet. Praktis, hanya tinggal AS yang bertahan di ladang perebutan pengaruh di Timur Tengah.

Duta Besar RI di Suriah, Wajid Fauzi. (Foto: Courtesy/Kemlu)

Perubahan sikap dan dukungan negara-negara di sekeliling Israel terhadap Palestina, menurut Wajid, juga dipengaruhi perpecahan atau perebutan pengaruh di internal Palestina. Hamas dan Jihad Islam beradu di Gaza dan Fatah di Tepi Barat. Kondisi itu memperumit keadaan di Timur Tengah. Apalagi, negara-negara itu juga menghadapi persoalan di dalam negeri.

“Konflik kepentingan sejak munculnya Arab Spring sudah sangat mempengaruhi peta politik negara- negara kawasan Timur Tengah, khususnya negara Teluk dalam mendukung Palestina. Kalau kita amati selintas, mereka cenderung lebih fokus pada menjaga kepentingan dalam negeri,” kata Wajid dalam acara diskusi yang sama.

Wajid juga mengingatkan, sejumlah negara Arab telah menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel. Negara-negara itu, antara lain Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan. Jauh sebelumya, Yordania, Mesir dan Turki sudah memiliki perjanjian damai dengan Israel. Secara teori, lanjut Wajid, negara-negara Arab yang tergabung dalam Liga Arab maupun Organisasi Konferensi Islam (OKI), dipercaya akan terus memberikan dukungan perjuangan kepada Palestina.

Seorang anggota organisasi buruh Indonesia memegang bendera Palestina saat melakukan aksi protes terhadap Israel di luar gedung PBB di Jakarta, 18 Mei 2021. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

“Namun, dapat kita catat bahwa intensitas dukungan tersebut nampaknya akan bervariasi, karena mengalami tarik ulur jika dikaitkan dengan kepentingan dalam negerinya,” kata Wajid.

Kondisi ini juga menjadi konsekuensi perubahan persepsi terhadap ancaman di kalangan negara Arab, dari Israel ke Iran.

“Dalam keadaan demikian, kita lihat bersama bahwa posisi Palestina semakin lemah, apalagi setelah Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan memindahkan kedutaan besarnya kesana. Di samping itu, juga menghentikan bantuan kepada pengungsi Palestina yang tersebar di Jalur Gaza, Tepi Barat, Yordania dan Lebanon,” tambah Wajid.

Your browser doesn’t support HTML5

Peta Konflik Israel-Palestina dan Peran Amerika Serikat

Aman Dikelilingi Sekutu

Wakil Duta Besar RI di Mesir M. Aji Surya menggolongkan negara-negara yang berubah sikap politiknya, dalam tiga kategori. Kategori pertama, adalah negara-negara yang berada dalam posisi vital, seperti Mesir dan Maroko karena terkait perjanjian wilayah. Kategori kedua adalah negara-negara yang memiliki peran sangat penting, seperti Yordania sebagai penyuplai air. Kategori ketiga, negara-negara yang masuk dalam kategori penting, seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain.

“Inilah perjalanan dari tahun 1979 ke 2020. Secara pelan tapi pasti, sebanyak enam negara sudah melakukan hubungan erat dengan Israel,” ujar Surya.

BACA JUGA: Menlu RI: Palestina Satu-satunya Negara yang Masih Dijajah

Dengan kondisi itu, lanjutnya, Israel telah memiliki perasaan aman karena posisinya yang dikelilingi sejumlah negara yang relatif bersahabat. Bahkan, disamping hubungan yang cukup baik dengan enam negara tersebut, Israel juga merasa relasinya kian baik dengan sejumlah negara lain, seperti Arab Saudi, Oman, Mauritania, Djibouti dan Komoro.

“Israel kini bukan negeri yang terkucil lagi. Tetapi negeri yang dilingkupi relatif oleh teman-teman dekatnya,” ujar Surya.

Perjalanan konflik Israel selama 73 tahun dapat disederhanakan dalam beberapa peristiwa penting. Pada 1948, Israel masih dianggap musuh bersama, tetapi kemudian dunia Arab kalah dalam perang. Begitupun pada 1967, ketika konflik kembali dimenangkan Israel.

Petugas pemadam kebakaran Palestina memadamkan api di gudang cat yang menurut saksi terkena serangan Israel, di tengah pertempuran Israel-Palestina, di Rafah di Jalur Gaza selatan 18 Mei 2021. (Foto: REUTERS/Bassam Masoud)

Pada 1979, Mesir memilih untuk berdamai. Tahun 1991 patut dicatat karena ada kejatuhan Uni Soviet yang mengubah peta kekuatan pengaruh di Timur Tengah. Pada 1994, Yordania juga memilih untuk berdamai. Di era Presiden Donald Trump, AS memindahkan kedutaannya ke Yerusalem. Dua tahun kemudian, Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan dan Maroko melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

“Pertanyaan terakhir, adalah bagaimana masa depan Israel? Saya hanya akan mengatakan kumaha (bagaimana.red) Amerika Serikat wae (saja.red), gimana suka-sukanya Amerika,” ujarnya. [ns/ft]