Pemerintah Pakistan dan Partai Islam Radikal Sepakat Akhiri Rapat Umum

  • Associated Press

Para pendukung partai Islam radikal Tehreek-e-Labiak di Pakistan berunjuk rasa menuntut pembebasan pemimpin partai itu di Karachi, Pakistan, 24 Oktober 2021. (Foto: Rizwan TABASSUM / AFP)

Pemerintah Pakistan dan sebuah partai Islam radikal yang dilarang, Minggu (31/10), mengatakan telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri rapat umum 10 hari, yang kadang-kadang disertai aksi kekerasan yang menelan korban jiwa. Kedua pihak juga menyerukan ditutupnya kantor Kedutaan Prancis dan pembebasan para pemimpin partai itu.

Dalam konferensi pers di Ibu Kota Pakistan, Islamabad, Menteri Luar Negeri Shah Mahmood Qureshi, dan pemimpin agama Muneebur Rehman tidak memberi rincian lebih jauh tentang perjanjian itu. Namun keduanya menyebut kesepakatan itu sebagai kemenangan bagi Pakistan dan Islam, dan Rehman mengatakan akan memberikan penjelasan lebih lanjut.

Sejak 22 Oktober lalu ribuan pendukung partai terlarang Tehreek-e-Labiak Pakistan berjalan dari Lahore menuju ke Islamabad, menuntut pengusiran utusan khusus Prancis di Pakistan atas penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW di Prancis.

Bentrokan antara para pengunjuk rasa dan polisi menewaskan sedikitnya tujuh petugas polisi dan empat demonstran.

Aksi kekerasan pecah sehari setelah pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan mengatakan tidak akan menerima tuntutan kelompok Islamis itu untuk menutup kantor Kedutaan Prancis di Islamabad dan mengusir utusan khusus Prancis.

Belum jelas kapan partai itu akan menyudahi pawai dan aksi politik mereka. [em/jm]