Para Menteri NATO Debatkan Peran di Libya

Seorang pemberontak mengamati serangan roket kubu Gaddafi di luar Ajdabiya, Libya, Selasa (12/4). Negara-negara NATO masih belum sepaham mengenai keterlibatan mereka di negara ini.

Inggris dan Perancis ingin NATO meningkatkan operasi militer di Libya, sementara Amerika Serikat telah berusaha membatasi peran NATO.

Para menteri luar negeri NATO bertemu di Berlin untuk membicarakan misi militer mereka di Libya, sementara para pejuang pemberontak meminta lebih banyak bantuan pasukan udara dari persekutuan ini.

Para anggota NATO terpecah mengenai gagasan peningkatan pemboman terhadap pasukan-pasukan yang setia kepada pemimpin Moammar Gaddafi. Inggris dan Perancis menghendaki agar NATO meningkatkan operasi militer di Libya, sementara Amerika Serikat telah berusaha membatasi peran NATO.

Pembicaraan di Berlin dimulai sehari setelah sebuah Contact Group, kelompok internasional yang bergabung dengan mitra-mitra Amerika Serikat, Eropa dan Arab, menjanjikan dukungan moneter dan politik yang lebih besar untuk oposisi Libya pada sebuah pertemuan di Doha.

Juru bicara pemberontak Libya mengatakan kepada para delegasi di pertemuan tersebut bahwa NATO tidak berbuat cukup untuk melindungi kaum sipil. Ia juga menyerukan keterlibatan Amerika yang lebih besar dalam operasi udara NATO.

Dalam pernyataan terakhir mereka, Contact Group meminta kepada Gaddafi agar melepaskan kekuasaan, dengan mengatakan ia dan pemerintahnya telah kehilangan keabsahan.