Norwegia Kecam Dekrit Taliban Afghanistan Terkait Pakaian Perempuan

Seorang perempuan Afghanistan mengenakan burqa berjalan melalui pasar burung sambil menggendong anaknya, di pusat kota Kabul, Afghanistan, Minggu, 8 Mei 2022. (Foto: AP)

Norwegia mengecam dekrit Taliban Afghanistan terbaru yang menuntut perempuan menutupi seluruh tubuhnya di depan umum dan memperingatkan bahwa penguasa baru Afghanistan mengarahkan negara itu menuju bencana kemanusiaan, ekonomi dan HAM.

Dekrit Taliban, yang diumumkan pada hari Sabtu (7/5), memerintahkan semua perempuan Afghanistan mengenakan burka tradisional di depan umum. Burka tradisional pada prinsipnya adalah pakaian yang menutup seluruh tubuh, dari kepala hingga ujung kaki. Taliban akan menghukum kerabat laki-laki mereka bila mereka tidak mematuhi dekrit tersebut.

Dekrit terbaru ini serupa dengan yang diberlakukan oleh Taliban selama pemerintahan mereka sebelumnya di Afghanistan, pada 1996 hingga 2001.

BACA JUGA: Taliban Perintahkan Perempuan Tutup Kepala Hingga Kaki

Sebelumnya tahun ini, Taliban memutuskan untuk tidak membuka kembali sekolah untuk anak perempuan di atas kelas enam, mengingkari janji sebelumnya dan memilih untuk menenangkan basis pendukung garis keras mereka. Keputusan itu telah menuai kecaman internasional dan mengganggu upaya Taliban, yang merebut kekuasaan di Afghanistan Agustus lalu, untuk mendapatkan pengakuan dari donor-donor internasional potensial pada saat negara itu terperosok dalam krisis kemanusiaan yang memburuk.

“Saya marah mengetahui ada pengumuman yang memperingatkan bahwa perempuan di Afghanistan harus menutupi wajah mereka di depan umum, tidak bisa mengendarai mobil dan hanya meninggalkan rumah bila diperlukan,'' kata Henrik Thune, Wakil Menteri Luar Negeri Norwegia, Minggu (8/5).

Thune mengatakan bahwa dekrit tersebut “sama sekali tidak dapat diterima'' dan menekankan bahwa meskipun Taliban berkuasa, “mereka masih merupakan pemerintah yang terisolasi dan tidak representatif.”

Sejumlah perempuan bercadar menunggu di depan toko roti untuk mendapatkan donasi roti di Kabul. (Foto: AFP)

''Kebijakan Taliban terus menindas perempuan dan anak perempuan, bukannya mengatasi krisis ekonomi dan kebutuhan akan pemerintahan yang inklusif,'' katanya.

Norwegia menjadi tuan rumah pembicaraan tertutup selama tiga hari pada bulan Januari antara Taliban, para diplomat Barat dan delegasi-delegasi di pegunungan yang tertutup salju di atas Ibu Kota Norwegia, Oslo.

Pembicaraan itu -- yang pertama di Eropa sejak pengambilalihan oleh Taliban -- berfokus pada bantuan kemanusiaan untuk Afghanistan dan HAM. Menteri luar negeri yang ditunjuk Taliban, Amir Khan Muttaqi, mengatakan diskusi "berjalan sangat baik." Pembicaraan itu juga termasuk diskusi antara Taliban dan anggota masyarakat sipil Afghanistan.

BACA JUGA: Taliban Peringatkan Masalah Perbedaan Pendapat, Aktivisme Hak-hak Perempuan

Thune mengatakan perlu untuk melakukan dialog, “meski jika Taliban memiliki nilai-nilai yang jauh berbeda dengan nilai-nilai yang kita junjung." Ia menambahkan bahwa tanpa dialog, “kita tidak memiliki kesempatan untuk mempengaruhi mereka yang berkuasa.''

Ia mendesak Taliban untuk sekali lagi menepati janji mereka kepada perempuan dan anak perempuan Afghanistan. ''Perempuan dan anak perempuan Afghanistan sedang menunggu hak mereka untuk menikmati hidup sepenuhnya dan tidak dikucilkan dari masyarakat,'' katanya. [ab/uh]