Kelompok Teroris Santoso Diduga Pecah

  • Yoanes Litha

Kabid Humas Polda Sulawesi Tengah, AKBP Hari Suprapto di Mapolres Poso memperlihatkan foto dari 2 DPO teroris anggota Kelompok Santoso yang ditangkap di desa Taunca, Poso Pesisir selatan, Kabupaten Poso 15 April lalu (VOA/Yoanes).

Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah menduga kuat telah terjadi perpecahan di dalam kelompok teroris Santoso di Poso, Sulawesi Tengah. Hal ini tampak dari keterangan sejumlah anggota yang melarikan diri dan ditangkap aparat.

Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Hari Suprapto dalam konferensi pers di Mapolres Poso – Sulawesi Tengah Selasa sore (19/4) mengatakan kuat dugaan telah terjadi perpecahan di dalam tubuh organisasi Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso.

Dugaan ini didasarkan dari keterangan dua anggota kelompok yang melarikan diri dan ditangkap aparat keamanan di desa Taunca, kecamatan Pesisir Selatan hari Jum’at lalu (15/4). Keduanya diidentifikasi sebagai Ibadu Rohman alias Ibad alias Amru yang berusia 21 tahun dan Muchamad Sonhaji alias Fakih yang berusia 18 tahun.

Hari Suprapto mengatakan, “Alasan dari pada mereka melarikan diri itu berdua hampir mirip, yang pertama bahwa Santoso sudah tidak lagi sesuai dengan ajaran awal yang disampaikan, kemudian yang kedua adanya kehadiran para perempuan perempuan yang diakui sebagai istri bertiga antara Santoso, Basri dan Ali Kalora, ini membuat semacam kaya' Ratu begitu.”

Sejauh ini hasil pemeriksaan polisi terhadap Ibadu Rohman dan Muchamad Sonhaji menunjukkan bahwa keduanya bertugas mencari kebutuhan logistik, bahan makanan dan informasi bagi kelompok itu. Aparat masih melakukan interogasi lebih mendalam untuk mengetahui keberadaan Santoso, yang tiga tahun terakhir ini memimpin sejumlah aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah.

Pihak berwajib melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan yang memasuki desa Pantangolemba, Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (VOA/Yoanes).

AKBP Hari Suprapto mengatakan tidak tertutup kemungkinan ada anggota lain kelompok itu yang juga ingin melarikan diri karena semakin intensifnya patroli, razia dan operasi inteljen yang merupakan bagian dari Operasi Tinombala 2016.

Dalam konferensi pers itu aparat juga mengatakan telah memasukkan tiga perempuan dalam daftar pencarian orang atau DPO terkait keterlibatan mereka dalam kelompok Santoso, yaitu Jamiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima yang diketahui sebagai istri Santoso, Nurmi Usman alias Oma yang merupakan istri Basri, dan Tini Susantika alias Umi Farel yang merupakan istri Ali Kalora. Basri dan Ali Kalora adalah beberapa orang yang disegani dalam kelompok itu.

“Santoso kan pada awalnya mengatakan untuk berjihad meninggalkan keluarga ternyata dia membawa yang diakui sebagai istri … Jadi apabila kita lihat bahwa karena para ahwat atau wanita wanita perempuan ini dari Bima, ada dugaan Santoso lebih mempercayai pada Bima. Sehingga yang kelompok Jawa kalau dari beberapa yang sudah lepas paling tidak menyatakan ada perbedaan baik di dalam bentuk pekerjaan, beban tugas, termasuk jatah makan maupun yang lain lain,” tambah Hari Suprapto.

Pasca tertangkapnya dua anggota kelompok Santoso itu, Satgas Operasi Tinombala 2016 menambah jumlah pos pemeriksaan untuk mengawasi lalu lintas orang dan barang yang menggunakan sepeda motor dan mobil, menuju ke desa Taunca – Pantangolemba dan Padalembara di Kecamatan Poso Pesisir Selatan. Satgas itu juga menambah kekuatan pasukan dengan memindahkan puluhan personil pasukan Brimob dari kecamatan Lore Selatan ke wilayah itu. [yl/em]