Jokowi Akui Daya Beli Masyarakat Turun di Masa Pandemi

Pasokan bahan pangan segar berupa sayuran menumpuk di salah satu lapak pedagang pasar Gede Solo. (Foto : VOA/ Yudha Satriawan)

Presiden Joko Widodo mengakui daya beli masyarakat menurun saat ini. Apa yang akan dilakukan pemerintah guna mengatasi hal ini?

Wabah virus corona memang berdampak signifikan terhadap lesunya perekonomian Indonesia. Presiden Joko Widodo mengatakan hal ini terlihat dari turunnya daya beli masyarakat terhadap bahan kebutuhan pokok.

“Saya lihat laporan dari BPS bulan April bahan pangan justru mengalami deflasi sebesar 0,13 persen. Ini ada indikasi penurunan permintaan bahan-bahan pangan artinya daya beli masyarakat menurun,” ungkapnya dalam telekonferensi pers di Istana Bogor, Rabu (13/5).

Guna mengatasi hal tersebut, pemerintah kata Jokowi telah meluncurkan berbagai program, mulai dari bantuan sosial tunai untuk sembilan juta keluarga, bantuan langsung tunai (BLT) desa dari dana desa untuk 11 juta keluarga, kartu sembako, hingga padat karya tunai. “Kita harapkan ini akan meningkatkan daya beli masyarakat,” imbuhnya.

Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, 18 Maret 2020. (Foto: Twitter/@jokowi)

Dalam kesempatan ini, mantan Walikota Solo ini juga menyoroti harga sejumlah bahan pokok pangan yang masih saja mahal. Ia mempertanyakan mengapa harga bawang merah di lapangan masih Rp51.000 per kilogram. Harga tersebut jauh dari harga acuannya yaitu Rp32.000.

Kemudian ia juga melihat harga gula pasir yang masih berkisar Rp17.000-Rp17.500 per kilogram. Padahal harganya seharusnya bisa berada pada kisaran Rp12.500 per kilogram. Menurutnya, ia akan terus memonitor harga-harga ini. Pihaknya tidak ingin ada oknum yang mempermainkan harga pada masa pandemi ini.

Your browser doesn’t support HTML5

Jokowi Akui Daya Beli Masyarakat Turun di Masa Pandemi

“Oleh sebab itu, saya ingin ini dilihat masalahnya di mana, apakah masalah distribusi atau stoknya kurang atau ada yang sengaja permainkan harga untuk sebuah keuntungan yang besar? Saya minta betul-betul dicek di lapangan dikontrol, sehingga harga semuanya bisa terkendali dan masyarakat bisa naikkan daya belinya,” jelasnya.

Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, harga gula pasir yang masih mahal dikarenakan sejumlah negara asal pengimpor gula, masih memberlakukan lockdown.

Suasana operasi pasar gula pasir di Solo, Sabtu (9/5) di tengah mahalnya harga komoditas pangan tersebut selama pandemi corona. (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

“Tentu ini ada pengalihan dari gula yang untuk makanan atau gula rafinasi ke pasar. Diharapkan dengan pengalihan ini, harga bisa ditekan ke bawah. Memang itu yang menjadi salah satu persoalan akibat hal tersebut,” jelas Airlangga.

Sementara itu untuk bawang merah, kata Airlangga, pemerintah mengakui tidak meratanya distribusi menjadikan harga di sejumlah daerah tinggi. Padahal, katanya,stoknya bisa dikatakan melimpah, dan pemerintah pun tidak berencana untuk melakukan impor bawang merah.

“Dan kemudian bawang merah, tidak ada rencana impor karena sebetulnya ada daerah yang berproduksi besar. Kita ketahui bawang merah di Jawa rata-rata Rp49.000-Rp47.000 danRp45.000. Tetapi memang kalau kita lihat di Jayapura memang masih ada yang Rp64.000, di Banda Aceh Rp65.000, Sultra Rp53.750,” paparnya.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat meresmikan pasar murah bawang putih impor dan cabai di Solo, Kamis, 13 Februari 2020. (Foto : VOA/ Yudha Satriawan)

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa stok bawang merah nasional hingga saat ini mencukupi, yakni 78.700 ton. Maka dari itu, ia pun akan segera mendistribusikan bawang merah tersebut secara merata ke berbagai penjuru Indonesia agar harga bisa stabil.

“Ini hari juga kita kerja pak untuk mempersiapkan di mana titik-titik yang harus didistribusi. Tadi ada penegasan dari Presiden untuk kami gunakan fasilitas TNI melakukan ini menerobos ini. Sekali lagi kenaikan harga lebih banyak disebabkan oleh distribusi yang tidak normatif. tetapi kami jika sudah diserahkan ke satu wilayah, maka stabilitasnya langsung bisa kita jaga,” jelas Syahrul.

Airlangga Sebut Harga Bahan Pokok Pangan Masih Fluktuatif

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, harga bahan pokok masih berfluktuasi. Dijelaskannya, harga beras masih relatif stabil seperti beras medium Rp11.750 per kilogram, beras premium Rp12.700 per kilogram.

Seorang penjual sayur menerima uang dari pembeli di sebuah pasar tradisional di Jakarta, 2 Mei 2019. (Foto: Reuters)

Harga daging sapi masih berada pada kisaran Rp118.000 per kilogram, cabe rawit Rp32.600 per kilogram, cabe merah Rp27.850 per kilogram, bawang merah Rp51.950 per kilogram, bawang putih Rp37.100 per kilogram, minyak goreng Rp12.000 per kilogram, minyak goreng kemasan Rp14.750 per kilogram, lalu daging ayam Rp31.000 per kilogram, dan telur ayam ras Rp24.000 per kilogram.

“Dan kemudian kami disampaikan bahwa stok bulog per April ini relatif aman dengan jumlah barang yang dipegang tentu bulan Mei adalah masih dalam masa panen. Dan bulog ada jumlah di atas 1,3 juta ton stok per 31 april. Sehingga tentunya diharapkan stok pangan relatif aman,” jelasnya.

Kasus Corona di Indonesia Capai 15.438

Juru bicara penanganan kasus virus corona Dr Achmad Yurianto, Selasa (13/5) kembali melaporkan penambahan kasus COVID-19 sebanyak 698. Total kasus virus itu kini dikukuhkan menjadi 15.438.

Update Infografis percepatan penanganan COVID-19 di Indonesia per tanggal 13 Mei 2020 Pukul 12.00 WIB. #BersatuLawanCovid19 (Foto: Twitter/@BNPB_Indonesia)

Sebanyak 224 pasien sudah diperbolehkan pulang, sehingga total pasien yang telah pulih mencapai 3.287 orang. Sayangnya, korban jiwa masih berjatuhan. Tercatat, sebanyak 21 orang meninggal dunia. Total yang meninggal pun menjadi 1.028 .

Adapun jumlah orang dalam pemantauan (ODP) juga terus bertambah menjadi 256.299. sedangkan untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) tercatat 33.042.

Pengamat: Indonesia Sedang Menuju Puncak Pandemi COVID-19

Penambahan kasus positif virus Corona masih terus terjadi di Tanah Air. Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengatakan penambahan kasus harian tersebut dikarenakan masyarakat sampai detik ini tidak mematuhi kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Pakar Epidemiologi UI, Dr. Pandu Riono. (VOA/Yudha).

Khusus di bulan Ramadan ini, kata Pandu, masyarakat masih sering keluar rumah untuk sekedar membeli takjil berbuka puasa dengan mengabaikan physical distancing dan sering kali lupa untuk mencuci tangan. Ia juga khawatir bahwa pada hari raya Idul Fitri nanti, masyarakat tetap berbondong-bondong untuk melakukan Salat Eid dan tetap melakukan silaturahmi.

“Yang saya khawatirkan itu pada waktu menjelang Idul Fitri ini. Larangan solat berjamaah tidak dipatuh. Sebenarnya kan gak wajib Salat Eid, tapi karena silaturahmi, kan orang sukanya kumpul-kumpul. Karena ini bagian dari tradisi dan budaya orang tidak paham, karena katanya kan setahun sekali. Jadi dari segi, prediksi ya akan terjadi terus peningkatan, gak bisa ditekan. Seharusnya diimbaulah, sekarang itu para ulama harus turun gunung semua untuk membantu menyadarkan umatnya,” ungkap Pandu kepada VOA.

BACA JUGA: Sulitnya Prediksi Akhir Corona dan Potensi Gelombang Kedua Corona

Ia memprediksi Indonesia sedang mendekati puncak COVID-19 pada lebaran nanti. “Jadi kita memang lagi mendaki puncak ini. Menjelang lebaran ini kita lagi mendaki puncak. Puncak kurva pandeminya ini lagi naik terus. Mudah-mudahan ini puncaknya cuma satu, terus nanti tinggal turun kan,” imbuhnya.

Ia juga memperingatkan pemerintah untuk senantiasa meningkatkan kapasitas tes real time PCR untuk mendeteksi kasus positif di tengah-tengah masyarakat. Dengan begitu laju penyebaran virus ini bisa ditekan.

“Lihat saja laporan jumlah testing. Dibandingkan kemarin-kemarin meningkat gak? Jadi kita harus melihat jumlah testing, dan lihat juga tren jumlah PDP nya, tren PDP nya masih naik gak? Itu kan artinya kan harus konsisten,” paparnya. [gi/ab]