Gedung Putih Umumkan ‘Era Baru’ dalam Kebijakan Terhadap Korea Utara

Gedung Putih di Washington DC (Foto: dok).

Dengan keprihatinan yang meningkat mengenai program nuklir dan rudal balistik Korea Utara yang semakin maju dengan pesat, para pejabat Gedung Putih mengisyaratkan sikap baru yang agresif terhadap Pyongyang. Tetapi, sejauh ini tidak jelas apa maksud dari kebijakan demikian.

Kehadiran pasukan Amerika dan Korea Selatan di zona demiliterisasi dengan Korea Utara merupakan unjuk kekuatan. Dengan tentara Korea Utara yang berada hanya beberapa ratus meter jaraknya, Wakil Presiden Amerika Mike Pence menyampaikan pesan secara pribadi kepada Korea Utara bahwa kebijakan Amerika telah berubah.

Dalam kesempatan itu Pence mengatakan, “Era kesabaran strategis telah berlalu.”

Pernyataan itu singkat tetapi berimplikasi besar, bahwa Amerika tidak akan lagi menunggu sementara pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un memperluas program nuklir dan misilnya, seperti dipamerkan dalam parade militer baru-baru ini.

Namun langkah berikutnya yang hendak diambil oleh Presiden Amerika Donald Trump tidak jelas. Trump telah mengisyaratkan bahwa Amerika bisa bertindak sendiri melawan Korea Utara.

Untuk mendukung ancaman tersebut, armada kapal induk Amerika menuju ke wilayah lepas pantai semenanjung Korea.

Trump juga telah berusaha membujuk pemimpin China Xi Jinping agar memberikan tekanan ekonomi lebih besar pada negara sekutunya itu.

Tapi langkah-langkah itu merupakan variasi strategi yang telah digunakan oleh pemerintahan-pemerintahan sebelumnya, sehingga menimbulkan pertanyaan: seberapa banyak kebijakan Amerika akan berubah di bawah Trump?

Christopher Hill, mantan duta besar Amerika untuk Korea Selatan dan perunding utama dalam perundingan nuklir dengan Korea Utara, mengatakan bahwa tidak mudah menjawabnya.

“Ada sejumlah hal yang bisa dilakukan oleh seseorang. Jadi, dalam diplomasi, saya tidak mengharapkan ada seseorang yang tiba-tiba melakukan tindakan mendadak di luar perkiraan orang lain," kata Christopher Hill.

Hill, yang berbicara lewat Skype, juga mempertanyakan strategi Trump yang tidak dapat diprediksi.

Pertanyaan itu mengacu pada keteguhan sikap Trump bahwa dia tidak akan mengumumkan langkah yang hendak diambilnya, dan bahwa semua pilihan dipertimbangkan.

“Ketidakpastian bisa sangat bagus jika kita bermain sepak bola atau bola basket dan pihak lainnya tidak tahu apa yang hendak kita lakukan untuk mencetak gol. Tapi itu juga bisa menyebabkan banyak masalah, terutama jika mitra-mitra kita tidak mengenal kita dengan baik dan tidak tahu insting kita, serta tidak begitu mengerti tentang cara yang kita sukai untuk melakukan sesuatu,” lanjut Chris Hill.

Juru bicara Gedung Putih, Sean Spicer, juga mendeklarasikan era baru kebijakan terhadap Korea Utara tetapi tidak bersedia memberikan rinciannya.

“Presiden telah sangat jelas bahwa tidak mengesampingkan berbagai pilihan akan memberi kita posisi yang lebih kuat,” kata Sean Spicer.

Apa yang akan dilakukan oleh Trump dengan posisi yang kuat itu masih merupakan teka-teki.

Pemerintahan Trump telah dengan jelas menunjukkan pendekatan yang lebih keras terhadap Korea Utara dalam beberapa hari ini, dengan mengatakan bahwa pihaknya telah kehilangan kesabaran dengan kekerasan pendirian Pyongyang dalam menghadapi tuntutan lama agar mengekang ambisi nuklirnya.

Kunjungan Pence ke Asia timur laut itu dilakukan sementara penasihat keamanan nasional presiden, Letnan Jenderal H.R. McMaster, mengatakan kepada jaringan televisi ABC News “semua pilihan kami pertimbangkan” terkait Korea Utara. Namun, McMaster menyatakan harapan tidak perlu serangan militer terhadap Korea Utara.

Dalam cuitannya lewat Twitter baru-baru ini, Presiden Donald Trump menyebut rezim Pyongyang sebagai “ancaman” yang “mencari masalah.” Dengan menyindir pendekatan yang dilakukan oleh mantan Presiden Barack Obama, dia menulis, “Sembilan puluh hari pertama masa kepresidenan saya telah mengungkapkan kegagalan total dari kebijakan luar negeri selama delapan tahun terakhir.” [lt/uh]