China Perketat Pengawasan Ebola

  • William Ide

Petugas kesehatan China memberikan pengarahan soal gejala Ebola kepada polisi di bandara Qingdao, provinsi Shandong (foto: dok).

Pemerintah China akhirnya buka suara tentang dugaan kasus Ebola di negaranya, dengan melaporkan adanya 43 orang di propinsi Guandong, China Selatan yang hasil uji medisnya baru-baru ini terbukti negatif-Ebola.

Media China melaporkan negara itu meningkatkan langkah-langkah untuk mencegah masuknya virus mematikan itu ke China.

Laporan singkat yang dirilis kantor berita China Xinhua Selasa (21/10) malam hanya berisi beberapa rincian, tetapi angka yang diungkapkan sangat mengejutkan.

Menurut Xinhua, sejak akhir Agustus lalu lebih dari 8.600 orang telah melakukan perjalanan dari negara-negara Afrika Barat yang sedang dijangkiti Ebola ke Guandong – China Selatan.

Dari jumlah itu, lebih dari 5.400 orang telah dinyatakan sehat dan tidak perlu diawasi secara medis. Namun laporan itu tidak memberikan rincian tentang status orang lainnya. Juga tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan “pengawasan medis” atau merinci negara-negara asal mereka yang melakukan perjalanan itu.

Seorang pejabat di Kedutaan Liberia mengatakan pemerintah China belum menginformasikan kepada mereka adanya dugaan kasus Ebola apapun. Sementara pejabat-pejabat di Kedutaan Sierra Leone tidak dapat ditemui untuk dimintai keterangan.

Canton Fair – pameran dagang terbesar di China – dibuka di Guangzhou pekan lalu dan berlangsung hingga awal November.

Media China melaporkan, pemeriksaan kesehatan di lokasi pameran telah ditingkatkan dengan disediakannya fasilitas-fasilitas pemeriksaan suhu tubuh. Laporan itu juga mengatakan mereka yang berasal dari negara-negara Afrika Barat yang dilanda wabah dijangkiti Ebola dan datang ke pameran itu, telah diminta untuk tinggal di beberapa hotel yang ditunjuk dan suhu tubuh mereka dimonitor.

Adams Bodomo – pakar Afrika di Universitas Wina – mengatakan ketika ia datang ke Beijing baru-baru ini, ia harus melewati suatu jalur khusus karena ia memegang paspor Ghana. Bodomo kemudian melakukan perjalanan dengan kereta api dari Hong Kong ke Guangzhou.

Menurut Bodomo, di stasiun kereta api Guangzhou juga ada suatu jalur khusus bagi penumpang yang membawa paspor negara-negara Afrika Barat.

“Karena Guangzhou memiliki komunitas Afrika terbesar di China, pemerintah China mungkin mengira jika virus Ebola datang ke negara itu maka yang paling besar kemungkinannya adalah lewat Guangzhou,” ujarnya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying belum menanggapi permintaan informasi tentang situasi di Guangzhou dan penanganan warga yang diduga tertular Ebola.