Tautan-tautan Akses

Warga Keturunan Asia Menderita Stres Khusus COVID-19


Komunitas keturunan Asia dalam acara di Las Vegas, Nevada, AS (foto: ilustrasi).
Komunitas keturunan Asia dalam acara di Las Vegas, Nevada, AS (foto: ilustrasi).

Tidak ada kelompok masyarakat atau pun etnis yang terhindar dari gejala depresi yang semakin bertambah sejak awal pandemic. Akan tetapi para peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Boston menemukan lonjakan lima kali lipat di kalangan warga Amerika keturunan Asia.

Tae Kim adalah warga Amerika keturunan Korea, pemilik restoran.

“Seperti malapetaka besar rasanya, mungkin sepanjang hidup saya kini. Baru saja mendengar dari berita bahwa banyak orang sekarat, namun beberapa orang di sekitar saya telah meninggal, didiagnosis menderita COVID-19, rasanya mengerikan.”

Tidak ada kelompok masyarakat atau etnis yang dapat terhindar dari depresi yang meningkat selama pandemi. Akan tetapi pada April 2020, para peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Boston menemukan peningkatan lima kali lipat gejala depresi yang dialami warga keturunan Asia, dibanding dengan kenaikan hanya tiga kali lipat dari keseluruhan masyarakat.

“Terpapar pemicu stress, ada anggota keluarga yang di-PHK, kehilangan pekerjaan, kesulitan membayar sewa rumah, semuanya berhubungan dengan depresi. Dalam penelitian ditemukan bahwa mereka yang diidentifikasi sebagai orang Asia non-Hispanik, lebih mungkin mengalami pemicu stres tersebut,” ujarnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berharap segera melakukan perjalanan ke Wuhan untuk menyelidiki keyakinan meluas bahwa virus corona berasal dari kota di China tengah itu. Tetapi banyak warga Amerika menyalahkan dan menarget China terkait virus tersebut.

Sejumlah warga China dan keturunan Asia mendapat cemooh rasial yang menambah tekanan secara kolektif.

Jasminn Ong adalah seorang mahasiswi Amerika keturunan Tionghoa. “Saya merasakannya di kampus, yang kedatangan banyak mahasiswa internasional dari China, sekitar Februari atau Maret, pada awal tahun ini. Menurut saya, mereka diserang dengan sangat keras.”

Meskipun gejala depresi mengalami lonjakan paling tinggi di antara warga Asia-Amerika, kelompok Hispanik memiliki proporsi tertinggi dengan 34 persen memiliki gejala depresi. Warga Amerika yang berusia lebih muda dan yang berpenghasilan rendah dilaporkan memiliki tingkat yang sama berdasarkan survei para peneliti tersebut.

“Berbicara tentang warga Amerika keturunan Asia, yang dibutuhkan adalah solidaritas - bukan menyalahkan,” kata Alison Holman, dosen ilmu keperawatan dan psikologi pada University of California Irvine.

“Bantulah orang mengatasinya sehingga mereka benar-benar dapat berperilaku dan terlibat dalam proses yang diperlukan untuk menstabilkan lonjakan pandemi sekaligus melindungi kesehatan individu dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan,” tukasnya.

Menjelang libur akhir tahun, Holman mengantisipasi tekanan mental atau stress bertambah.

Warga keturunan Vietnam Thu Ung yang tinggal di Amerika menilai pentingnya memiliki ikatan kekeluargaan yang kuat untuk meningkatkan semangat dan rasa percaya diri. “Kontaklah keluarga meskipun kalian tidak bertemu langsung. Face Time, Skype dapat membantu. Tetap jaga hubungan dengan semua orang. Dan semoga, pandemi ini akan segera berakhir.” [mg/ka]

XS
SM
MD
LG