Tautan-tautan Akses

AS

Trump: Libya Bukan Contoh Kesepakatan AS dengan Korut


Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC, 16 Mei 2018.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, Amerika Serikat dan Korea Utara masih terus mempersiapkan KTT bulan depan, meskipun muncul retorika keras dari kedua pihak. Trump membantah klaim penasihatnya bahwa AS akan menggunakan kesepakatan nuklir dengan Libya pada 2003 sebagai contoh kesepakatan yang akan diberlakukan dengan Korea Utara.

Penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, sebelumnya membuat marah para pemimpin Korea Utara terkait pernyataan kerasnya mengenai kesepakatan denuklirisasi sehingga mereka mengancam akan membatalkan KTT.

Berbicara pada sebuah konferensi pers bersama dengan Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg, Kamis, Trump mengakui adanya ketidakpastian mengenai rencana pertemuan dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

"Kami terus berunding mengenai lokasi, menyangkut di mana pertemuannya, bagaimana pertemuannya, ruangan-ruangannya, dan segala hal. Mereka masih terus berunding seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Tapi, kalau Anda baca surat kabar, sepertinya itu tidak akan terjadi. Saya belum bisa memastikan saat ini. Saya akan beritahu segera,” jelasnya.

Sejumlah pejabat tinggi Korea Utara mengecam keras penasihat Trump, John Bolton, karena menyiratkan Libya kemungkinan akan digunakan sebagai contoh untuk membujuk Korea Utara mengakhiri program senjata nuklirnya. Pemimpin Libya Moammar Gaddafi secara sukarela menghentikan program senjata kimia dan nuklir negaranya setelah invasi pimpinan AS di Irak. Namun kemudian, pemimpin Libya itu tewas terbunuh. Trump mengatakan, kesepakatan dengan Libya tidak mencakup mempertahankan Gaddafi dalam kekuasaan.

"Kesepakatan dengan Korea Utara akan mempertahankan posisi Kim Jong-un. Ia akan tetap berada di negaranya. Ia akan memimpin negaranya. Negaranya akan sangat kaya. Rakyatnya sangat rajin bekerja,” jelasnya.

Gaddafi dibunuh pasukan pemberontak yang didukung oleh AS pada 2011. Trump memperingatkan, akan ada konsekuensi jika Korea Utara tidak menghentikan program nuklirnya.

"Tapi jika kita membuat kesepakatan, saya kira Kim akan sangat, sangat gembira,” imbuh Trump.

Pekan lalu, pemimpin Korea Utara Kim Jong-un mengadakan pertemuan kembali dengan Presiden China Xi Jinping menjelang KTT yang direncanakan dengan Trump. China adalah sekutu terdekat Korea Utara, namun tidak jelas seberapa besar pengaruh China terhadap pemimpin muda itu.

"Ada perbedaan besar sejak pertemuan kedua Kim dengan Presiden Xi. Sikap saya menghadapi fakta itu, apapun yang terjadi, terjadilah.”

Stoltenberg mengatakan, ketidakpastian mengenai pembicaraan itu menunjukkan mengapa penting mempertahankan tekanan ekonomi dan politik terhadap Korea Utara sebelum ada kemajuan nyata mengenai denuklirisasi.

"Saya yakin ini merupakan tantangan besar, dan ada ketidakpastian sewaktu kita melihat ke depannya, namun kami mendukung usaha itu dan kami sangat yakin Korea Utara seharusnya memanfaatkan peluang bersejarah ini untuk mencari solusi damai bagi konflik di Semenanjung Korea,” kata Stoltenberg.

Pembicaraan terakhir dengan Korea Utara berakhir pada 2008 setelah Pyongyang menolak usulan rencana verifikasi yang mencakup kunjungan ke fasilitas-fasilitas yang dirahasiakan dan pengambilan sampel-sampel untuk pengujian. [ab/lt]

XS
SM
MD
LG