Tautan-tautan Akses

Tiongkok akan Segera Luncurkan Laboratorium Antariksa


Model dari laboratorium antariksa buatan Tiongkok pertama "Tiangong 1" yang dipamerkan dalam pameran teknologi antariksa di kota Zhuhai, provinsi Guangdong (16/11/2010).
Model dari laboratorium antariksa buatan Tiongkok pertama "Tiangong 1" yang dipamerkan dalam pameran teknologi antariksa di kota Zhuhai, provinsi Guangdong (16/11/2010).

Tiongkok merencanakan mengembangkan sebuah stasiun antariksa berawak, yang diharapkan akan beroperasi penuh tahun 2020.

Tiongkok dijadwalkan akan meluncurkan laboratorium antariksanya Tiangong 1 dalam beberapa hari mendatang. Sebuah negara yang baru delapan tahun lalu mengirimkan astronot pertamanya ke orbit, dalam delapan tahun kedepan bisa menjadi satu-satunya negara yang memiliki stasiun antariksa dengan awak permanen.

Media Tiongkok melaporkan bahwa Tiangong 1, atau “Istana Surga”, sedang dipersiapkan untuk lepas landas dari fasilitas peluncuran Jiuquan di Mongolia Dalam. Modul itu adalah elemen pertama dari rencana Tiongkok mengembangkan sebuah stasiun antariksa berawak, yang diharapkan akan beroperasi penuh tahun 2020.

Profesor Kwing-Lam Chan dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hong Kong terlibat dalam analisa program penyelidikan bulan oleh Tiongkok. Ia menjelaskan tujuan misi pertama Tiangong itu:

Chan mengatakan, “Ini adalah laboratorium untuk uji coba hubungan antara pesawat ruang angkasa. Shenzhou 8 mungkin akan diluncurkan tahun ini dan akan digabungkan dengan Tiangong 1 untuk uji coba, tetapi belum akan mengangkut manusia.”

Media pemerintah melaporkan bahwa program antariksa Tiongkok bertujuan memperkuat “kemajuan, kekuatan dan reputasi” negara itu. Dibawah kewenangan militer, Tiongkok telah berkembang cepat meskipun ada embargo dari Uni Eropa dan Amerika dalam perdagangan teknologi terkait pertahanan dengan Tiongkok.

Pesawat ruang angkasa Shenzhou dikembangkan dari teknologi Soyuz milik Rusia pada akhir tahun 1990an. Misi antariksa berawak pertama oleh Tiongkok terjadi tahun 2003, dan menjadikan astronot Kolonel Yang Liwei sebagai pahlawan nasional.

Profesor K.L. Yung dari Universitas Politeknik Hong Kong membantu mengembangkan peralatan yang akan digunakan Tiongkok di bulan tahun depan. Ia mengatakan meskipun program antariksa Tiongkok tidak lebih maju dari negara-negara berteknologi tinggi lainnya, sebuah tim insinyur dan ilmuwan elit disana sedang membuat kemajuan bertahap dan hemat biaya.

“Alasan utama jelas adalah gaji di Tiongkok tidak terlalu tinggi. Alasna lainnya adalah mereka mengembangkan banyak komponen sendiri karena ada embargo teknologi; dan itu justru membantu mereka,” demikian Profesor Yung.

Karena Stasiun Ruang Angkasa Internasional – yang dibiayai Rusia, Amerika, Kanada, Jepang dan UE – akan dipensiunkan tahun 2020, Profesor Yung mengatakan Tiongkok bisa segera muncul sebagai satu-satunya negara yang punya stasiun ruang angkasa berawak permanen.

XS
SM
MD
LG