Tautan-tautan Akses

Sukarelawan Sakit, Johnson & Johnson Jeda Uji Vaksin Covid-19 Tahap Akhir


Seorang teknisi lab bekerja selama penelitian tentang virus corona, di anak perusahaan Johnson & Johnson Janssen Pharmaceutical di Beerse, Belgia, Rabu, 17 Juni 2020. (Foto: AP)

Perusahaan farmasi raksasa AS Johnson & Johnson menghentikan sementara uji klinis vaksin Covid-19 tahap akhirnya setelah seorang partisipan didiagnosis dengan penyakit yang tidak dijelaskan.

Penghentian ini pertama kali dilaporkan pada hari Senin (12/10) oleh situs berita layanan kesehatan Stat, yang mendapatkan dokumen yang dikirim perusahaan itu kepada para peneliti luar.

Johnson & Johnson baru meluncurkan tes skala luas terhadap vaksin eksperimental dosis tunggalnya. Uji tersebut melibatkan 60 ribu sukarelawan di lebih dari 200 lokasi di dalam dan di luar Amerika Serikat, termasuk Argentina, Brazil, Chili, Meksiko dan Afrika Selatan.

Perusahaan itu mengemukakan dalam suatu pernyataan bahwa apa yang disebut “kejadian tidak menguntungkan” seperti sakit dan kecelakaan merupakan bagian yang diperkirakan terjadi dalam suatu uji klinis, khususnya dengan partisipan dalam jumlah besar. Disebutkan pula bahwa penghentian itu merupakan “jeda penelitian” dan bukan “penangguhan klinis” yang diberlakukan oleh badan regulator kesehatan resmi.

Karena dapat diberikan dalam dosis tunggal, vaksin Johnson & Johnson memiliki keunggulan signifikan atas tiga vaksin potensial lainnya, yang memerlukan dua dosis. Vaksin dosis tunggal tidak perlu harus dibekukan dalam suhu sangat dingin, membuatnya mudah digunakan dalam kampanye imunisasi massal.

Uji coba vaksin Johnson & Johnson ini adalah yang kedua yang dihentikan setelah seorang sukarelawan jatuh sakit usai mendapat vaksin itu. Perusahaan farmasi raksasa berbasis di AS, AstraZeneca, menghentikan uji tahap akhir vaksin yang dikembangkan dengan Universitas Oxford awal bulan lalu setelah seorang sukarelawan di Inggris didiagnosis dengan myelitis transversa, suatu sindrom peradangan yang mempengaruhi sumsum tulang belakang dan kerap dipicu oleh infeksi virus.

Uji tahap akhir vaksin itu telah dimulai kembali di Inggris, Brazil, India dan Afrika Selatan, tetapi masih ditangguhkan di AS.

Sementara itu, suatu studi baru menunjukkan seseorang yang terinfeksi Covid-19 masih rentan terhadap penyakit itu. Suatu laporan yang diterbitkan pada hari Senin (12/10) di jurnal medis The Lancet Infectious Diseases mengungkapkan seorang lelaki berusia 25 tahun di Nevada pertama kali positif Covid-19 pada bulan April, dan kedua kalinya pada bulan Juni dengan gejala lebih parah yang membuatnya harus dibantu dengan oksigen.

Para peneliti menyatakan lelaki itu terinfeksi dua jenis virus corona yang berbeda, tetapi tidak dapat dipastikan mengapa infeksi kedua lebih parah. Ia mungkin terpapar virus dalam dosis lebih tinggi pada penularan kedua, atau versi kedua itu lebih ganas daripada yang pertama.

Ini adalah kasus terkonfirmasi pertama seseorang terjangkit lagi Covid-19 di AS, dan yang kelima di dunia. Yang lainnya ditemukan di Belgia, Belanda, Hong Kong dan Ekuador. Para peneliti menyatakan terjangkitnya lagi seseorang dengan Covid-19 menunjukkan bahwa terpapar virus corona sebelumnya “bukan berarti akan menjamin imunitas total.”

Penelitian The Lancet tampaknya mendukung peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai strategi mengupayakan imunitas kelompok untuk menghentikan pandemi virus corona, seraya menyebut gagasan itu tidak etis.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, 3 Juli 2020. (Foto: Reuters)
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, 3 Juli 2020. (Foto: Reuters)

Pada konferensi pers di Jenewa pada hari Senin (12/10), Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan para pejabat kesehatan seharusnya hanya mengupayakan imunitas melalui vaksinasi, tidak dengan membuat orang terpapar virus.

Imunitas kelompok terjadi sewaktu suatu populasi terlindungi dari virus itu karena ambang imunitas telah dicapai di kelompok tersebut.

“Belum ada dalam sejarah kesehatan masyarakat, imunitas kelompok digunakan sebagai strategi menanggapi wabah, apalagi pandemi. Secara ilmiah dan etika ini bermasalah,” kata Dr. Tedros.

WHO memperkirakan sekitar 10 persen penduduk dunia telah tertular virus corona. Belum diketahui berapa persentase tingkat infeksi yang diperlukan untuk mencapai imunitas kelompok.

Tedros mencatat bahwa untuk mencapai imunitas kelompok dari campak, sekitar 95 persen populasi harus diimunisasi, sedangkan untuk polio, ambangnya adalah 80 persen. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG