Tautan-tautan Akses

Panas Tak Tertahankan: Studi Simpulkan Peningkatan Suhu Bumi Makin Memburuk


Anak-anak mendinginkan diri mereka dengan air yang bocor dari selang di luar Lincoln Memorial di Washington Mall pada foto yang diambil pada 5 Juli 2012 ini (foto: REUTERS/Jason Reed)

Ilmuwan memperkirakan akan terjadi lebih banyak gelombang panas yang terjadi di hari-hari mendatang.

Suhu panas yang mematikan makin memburuk, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil studi.

Gelombang panas yang mematikan seperti sekarang yang sedang melanda bagian Barat Amerika adalah pembunuh yang lebih mematikan dibandingkan yang diperkirakan sebelumnya dan mereka akan lebih sering terjadi, menurut sebuah studi komprehensif terkait kondisi suhu panas yang dapat berakibat fatal. Namun demikian, peningkatan suhu tersebut tidak akan terlalu mematikan di waktu-waktu mendatang, karena orang-orang sudah menjadi lebih terbiasa.

Sebuah tim peneliti mempelajari 1.949 kasus gelombang panas yang mematikan di seluruh dunia sejak 1980 untuk mengamati tren yang ada, menentukan kapan suhu panas begitu parah sehinga menimbulkan kematian dan memperkirakan kondisinya di masa depan. Mereka menemukan hampir satu dari tiga orang sekarang mengalami suhu panas yang mencapai tingkat mematikan selama 20 hari dalam setahun.

“Amerika Serikat akan terasa seperti sebuah oven,” ujar Camilo Mora dari the University of Hawaii, seorang peneliti utama pada studi yang dipublikasikan hari Senin lewat jurnal Nature Climate Change.

Studi ini muncul karena sebagian besar AS dilanda suhu tinggi yang mencapai tiga angka (dalam Fahrenheit). Temperatur memecahkan rekor setinggi 106, 105, dan 103 Fahrenheit (41, 40, dan 39 derajat Celsius) masing-masing di Santa Rosa, Livermore, dan San Jose, California pada hari Minggu, saat gelombang panas diperkirakan akan terus terjadi hingga pertengahan pekan. Akhir Mei, temperatur di kota Turbat, Pakistan meningkat hingga 53,5 derajat Celsius; apabila dipastikan, ini bisa jadi satu dari lima temperatur tertinggi yang terukur secara akurat di bumi, ujar Jeff Masters, direktur meteorologi dari Weather Underground.

Tahun lalu 22 negara atau kawasan memecahkan atau menyamai rekor untuk tempertur terpanas mereka, ujar Masters, yang bukan menjadi bagian dari studi ini. Sejauh ini tahun ini sudah tujuh negara yang memecahkan atau menyamai rekornya.

“Ini sudah buruk. Kami sudah tahu itu,” ujar Mora. “Data empiris menunjukkan kondisinya menjadi jauh lebih buruk.”

Mora dan para koleganya menciptakan sebuah peta global interaktif dengan gelombang panas yang terjadi di waktu lampau dan simulasi komputer untuk menentukan seberapa akan jauh lebih sering gelombang panas itu akan melanda dalam kondisi skenario polusi karbon dioksida yang berbeda. Peta tersebut menunjukkan di bawah kondisi polusi yang ada saat ini, seluruh kawasan timur Amerika Serikat akan mengalami hari-hari dengan suhu tinggi yang mematikan dalam jumlah yang signifikan. Angka yang bahkan akan lebih tinggi lagi diprediksi untuk AS bagian tenggara, sebagian besar Amerika Tengah dan Selatan, Afrika tengah, India, Pakistan, sebagian besar Asia dan Australia.

Mora dan kalangan ilmuwan dari luar mengatakan studi dan peta dimaksud kurang memperhatikan gelombang panas yang terjadi di waktu lampau di kawasan-kawasan miskin dimana rekaman pencatatan kurang mendapat perhatian. Di kawasan yang lebih kaya seperti Amerika Serikat dan Eropa, tingkat akurasi catatan suhu lebih tinggi.

Apabila tingkat polusi terus seperti ini, ujar Mora, menjelang akhir abad ini Amerika Serikat bagian tenggara selama musim panas akan dilanda oleh kondisi suhu tinggi yang mematikan.

Suhu yang lebih tinggi di dunia tidak selalu berarti terjadi tingkat kematian yang lebih tinggi di berbagai kawasan, ujar Mora. Karena yang ia temukan sejalan berjalannya waktu kondisi yang sangat panas yang dibarengi dengan tingkat kelembaban tidak menimbulkan terlalu banyak kematian dibandingkan di waktu lampau, karena adanya pendingin ruangan dan tindakan pemerintah yang lebih tepat dalam menjaga warganya agar tidak mati karena kepanasan. Jadi meskipun panas dapat menimbulkan kematian dan terjadi peningkatan suhu, orang-orang akan beradaptasi, meskipu di kebanyakan negara yang mampu untuk melakukannya. Dan mereka yang tidak mampu untuk mengambil tindakan yang tepat kemungkinan akan mengalami suhu tinggi yang lebih buruk di masa yang akan datang.

“Hasil studi ini menegaskan proyeksi yang mengkhawatirkan terkait semakin seringnya hari dengan suhu yang tinggi pada dekade mendatang – cukup panas untuk mengancam jiwa dalam skala yang sangat luas,” ujar Dr. Howard Frumkin, seorang profesor di bidang kesehatan lingkungan di the University of Washington yang tidak menjadi bagian dari studi ini.

Mora mendokumentasikan adanya lebih dari 100.000 kematian sejak 1980, namun mengatakan kemungkinan jumlahnya jauh lebih tinggi karena ada daerah-daerah dengan data yang kurang memadai. Tidak semuanya disebabkan oleh perubahan suhu yang diakibatkan oleh ulah manusia.

Cukup satu kali gelombang panas melanda – di Eropa tahun 2003 – telah menimbulkan korban jiwa lebih dari 70.000 orang. [ww]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG