Tautan-tautan Akses

Singapura Perpanjang Visa Mantan Pemimpin Sri Lanka


(FILES) Dalam file foto yang diambil pada 17 November 2019, Presiden terpilih Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa melambaikan tangannya kepada para pendukungnya saat meninggalkan kantor komisi pemilihan di Kolombo.(Ishara S. KODIKARA / AFP)
(FILES) Dalam file foto yang diambil pada 17 November 2019, Presiden terpilih Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa melambaikan tangannya kepada para pendukungnya saat meninggalkan kantor komisi pemilihan di Kolombo.(Ishara S. KODIKARA / AFP)

Singapura memperpanjang visa kunjungan singkat untuk presiden terguling Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, kata media lokal di negara kota itu, Rabu (27/7).

Rajapaksa meninggalkan negaranya pada 13 Juli, setelah kediaman resminya diserbu oleh ribuan pengunjuk rasa yang telah berdemonstrasi selama berbulan-bulan, mempersoalkan krisis ekonomi parah di negara pulau itu. Ia pertama kali melarikan diri ke Maladewa dengan pesawat militer dan melanjutkan perjalanan ke Singapura, di mana ia tinggal dengan izin kunjungan jangka pendek sejak 14 Juli.

Tanpa menyebut sumber informasinya, surat kabar Straits Times melaporkan, Rabu (27/7), izin kunjungan 14 hari Rajapaksa telah diperpanjang, sehingga memungkinkannya tinggal hingga 11 Agustus.

Otoritas Imigrasi Singapura belum menanggapi permintaan komentar dari kantor berita AFP.

Mantan presiden itu diizinkan memasuki Singapura dalam "kunjungan pribadi" dan tidak mencari suaka, kata pihak berwenang sebelumnya.

Juru Bicara Kabinet Sri Lanka Bandula Gunawardena mengatakan kepada wartawan di Kolombo, Selasa (26/7), bahwa Rajapaksa tidak bersembunyi dan diperkirakan akan kembali ke negaranya, tetapi menambahkan bahwa pemerintahnya belum diberitahu tentang rencana perjalanan Rajapaksa.

"Ia tidak bersembunyi dan pemahaman saya adalah ia akan kembali, tetapi jika ada yang bertentangan, otoritas negara akan memberi tahunya dan memastikan bahwa tidak ada bahaya bagi mantan presiden itu," katanya.

Para pengunjuk rasa menyalahkan pemerintah Rajapaksa karena tidak becus mengelola keuangan negara. Negara pulau itu gagal membayar utangnya sebesar $51 miliar sehingga tidak mampu mengimpor, bahkan kebutuhan yang paling dasar sekalipun.

Negara berpenduduk 22 juta orang itu telah menderita selama berbulan-bulan akibat pemadaman listrik yang berkepanjangan, kekurangan pangan dan bahan bakar yang akut, serta inflasi yang melonjak. [ab/ka]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG