Tautan-tautan Akses

Resmikan “Tol Langit” Palapa Ring, Jokowi Ingatkan Jangan Salah Gunakan Internet


Presiden Joko Widodo hari Senin (14/10) meresmikan Palapa Ring “Tol Langit” di Istana Merdeka Jakarta (Courtesy: Setpres RI).
Presiden Joko Widodo hari Senin (14/10) meresmikan Palapa Ring “Tol Langit” di Istana Merdeka Jakarta (Courtesy: Setpres RI).

Palapa Ring “Tol Langit” hari Senin (14/10) diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. “Tol Langit” ini dibuat oleh pemerintah guna mengatasi ketimpangan jaringan internet selama ini, utamanya di wilayah timur Indonesia.

Konekvitas internet yang tidak merata, membuat pemerintah selama lima tahun terakhir ini menggenjot pembangunan “Palapa Ring.” Hasilnya, “Palapa Ring” di bagian barat, timur dan tengah hari Senin (14/10) diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta. “Palapa Ring” adalah proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang direncanakan akan menjangkau 34 propinsi, 440 kota/kabupaten, dengan total panjang kabel laut mencapai 35.280 kilometer dan kabel di darat sejauh 21.807 kilometer. Finalisasi proyek ini mengalami keterlambatan sejak kuartal kedua tahun ini.

“Dan untuk memperkuat perdagangan, kita menghubungkan produk-produk UMKM ke jaringan pasar nasional, bahkan pasar global. Kalau nanti ini bisa dikoneksikan, dari daerah disambungkan ke marketplace nasional, masuk lagi ke marketplace global. Keinginan kita itu. Dan juga untuk memperkuat industri kita, agar dapat berkompetisi dan kompetitif,” ujar Jokowi.

“Palapa Ring” diharapkan akan menjawab ketimpangan konektivitas internet di seluruh Indonesia.

Presiden Akui Jaringan Internet di Sebagian Indonesia Masih Lambat

Presiden Jokowi mengatakan merasakan langsung lambatnya konektivitas internet di sebagian wilayah, terutama di Indonesia Timur ketika melakukan kunjungan kerja ke sana.

“Sekali lagi, jangankan mengirim video, gambar, sambungan teks saja lambat, sambungan suara juga terputus putus, itu pun sudah harus mendekat di bawah BTS (Base Transceiver Station, red). Yang biasa masyarakat sebut sebagai pohon SMS. Deket deket biar bisa SMS, deket pohon yang gede tinggi. Dan mungkin sekarang bukan pohon SMS, mungkin pohon WA (WhatsApp). Oleh karena itu pemerintah berkomitmen untuk menuntaskan Palapa Ring sebagai infrastruktur tol langit kita. Ada tol, jalan tol darat, ini tol langit. Tidak hanya memajukan sektor ekonomi, tetapi kita ingin ini bisa berguna bagi sektor ekonomi, tapi memajukan sektor sosial, budaya, politik, dan pemerintahan kita,” jelasnya.

Presiden Joko Widodo meresmikan Palapa Ring “Tol Langit” guna mengatasi ketimpangan jaringan internet selama ini, utamanya di wilayah timur Indonesia, Senin 14/10. (Setpres RI)
Presiden Joko Widodo meresmikan Palapa Ring “Tol Langit” guna mengatasi ketimpangan jaringan internet selama ini, utamanya di wilayah timur Indonesia, Senin 14/10. (Setpres RI)

Presiden Ingatkan Masyarakat untuk Tak Salahgunakan Internet Berkecepatan Tinggi

Namun mantan walikota Solo ini juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menyalahgunakan internet berkecepatan tinggi ini untuk hal-hal negatif, apalagi jika bertujuan memecah belah persatuan.

“Namun demikian harus diingat perkembangan teknologi digital dan konektivitas yang semakin cepat tidak boleh disalahkan gunakan. Ujaran kebencian misalnya, enggak boleh dipakai untuk itu. Tidak boleh untuk fitnah, untuk hoaks, untuk fakenews. Ini yang harus dicegah. Saling menjelekkan, saling mencela di media sosial harus dihentikan. Termasuk mencegah kejahatan siber dan kejahatan lainnya agar tidak semakin berkembang di negara kita,” tegasnya.

Rudiantara: Meski Sudah Ada “Palapa Ring,” Tetap Harus Bangun Satelit Baru

Dalam kesempatan yang sama Menkominfo Rudiantara mengibaratkan “Palapa Ring” seperti jalan tol untuk internet berkecepatan tinggi yang aksesnya dihubungkan melalui operator-operator telekomunikasi yang ada di Indonesia. Berkat “Palapa Ring” ini sebanyak 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia kini sudah memiliki internet berkecepatan tinggi.

Menkominfo Rudiantara (Foto: FMB9)
Menkominfo Rudiantara (Foto: FMB9)

Menurutnya konsep “Palapa Ring” tersebut sebenarnya bukanlah konsep yang baru. Konsep ini sudah ada sejak taun 2005, namun baru terealisasi setelah tahun 2015 dengan menggunakan sistem Kerjasama Pemerintah-Badan usaha (KPBU).

Ia mengatakan meskipun “Palapa Ring” sudah beroperasi, namun Indonesia harus terus membangun satelit baru agar setiap daerah di Indonesia bisa mendapat jaringan internet berkecepatan tinggi secara merata, yang pada akhirnye mendorong pembangunan ekonomi digital. Sejauh ini, ujar Rudiantara, Indonesia masih kalah dengan negara tetangga dalam hal belanja infrastruktur teknologi komunikasi dan informasi (ICT).

Menurutnya, Indonesia hanya membelanjakan 0,1 persen dari PDB untuk ICT (information and communications technology). Sedangkan negara tetangga seperti Thailand 0,3 persen dari PDB dan Malaysia 0,6 persen dari PDB.

“Ini adalah tantangan kita ke depan membangun infrastruktur ICT. Untuk pertumbuhan ekonomi digital tidak bisa “sak det sak nyet” (tidak semudah membalik telapak tangan.red) tetapi kita harus jangka panjang. Oleh karenanya kepada Bu Sri Mulyani untuk average payment-nya untuk membangun satelit. Satelit ini bukan satelit yang saat ini beroperasi, tapi satelit khusus untuk internet berkecepatan tinggi yang akan menghubungkan 214 ribu (sekolah), melengkapi 14 ribu sekolah di Indonesia SD, SMP, SMA, semua puskesmas, RS, fasilitas kesehatan. Semua desa, satelitnya baru akan ada pada akhir tahun 2020, itu satelit pertama. Kita harus tetap membangun satelit, kita butuh 1,5 terabytes, agar yang titik-titik tadi bisa betul-betul menikmati internet kecepatan tinggi minimal 10 Mega bytes per second, jadi satelit kedua harus disiapkan, satelit ketiga juga harus disiapkan,” jelasnya.

Hingga tahun 2020 nanti, pemerintah, kata Rudiantara, berencana membangun 4.000 BTS (Base Transceiver Station). Dengan penambahan BTS tersebut, diharapkan seluruh Indonesia sudah bisa teraliri jaringan internet.

“Kedua, diharapkan pada 2020 nanti sudah bebas sinyal karena ada daerah yang blind spot di mana pemerintah bersama dengan operator. Jadi operator membangun, pemerintah membangun. pemerintah menambah 4.000 BTS lagi sampai akhir 2020. Jadi diharapkan sudah merdeka sinyal. Tapi tentunya kalau desa di hutan, tentunya tidak bisa terjangkau. Tapi kalau yang ada masyarakatnya itu bisa dikejar pakai sinyal seluler maupun akses internet, karena akses internetnya sekarang sudah 4.000 dibangun oleh Kominfo melalui BAKTI.”

Darmin: “Palapa Ring” Diharap Dorong Geliat Perekonomian Daerah

Sementara itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa dampak “Palapa Ring” akan menumbuhkan geliat perekonomian daerah, sehingga bisa berkontribusi bagi perekonomian bangsa ke depannya.

“Apalagi ke daerah itu dampaknya besar, kalau di Jakarta mungkin dari dulu juga sudah jalan, tapi ke daerah itu sama sekali masih sangat lambat. Tapi dengan itu, sebenarnya, yang kita anggap akan besar dampaknya, bukan hanya pariwisata, tapi logistik,” ujar Darmin.

“Palapa Ring Barat” sudah menjangkau wilayah Riau, Kepulauan Riau sampai Natuna. “Palapa Ring Tengah” terdiri dari Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara hingga ke Kepulauan Sangihe-Talaud. Sementara “Palapa Ring-Timur” dibangun sejauh 4.450 kilometer yang terdiri dari kabel bawah laut sejauh 3.850 km dan kabel di darat sepanjang 600 KM di 21 kota/kabupaten. Wilayah timur meliputi Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat dan Papua. (gi/em)

Recommended

XS
SM
MD
LG