Tautan-tautan Akses

Protes di Belarus Berlanjut, Puluhan Ditangkap


Aksi massa menentang Presiden Alexander Lukashenko berlanjut di Minsk, Belarus hari Minggu (27/9).

Aksi massa menentang Alexander Lukashenko, yang mengklaim kemenangan dalam pemilihan presiden negara itu lebih dari sebulan lalu, berlanjut untuk hari ke-50. Polisi Belarus hari Minggu (27/9) menahan puluhan demonstran di Minsk. Pasukan keamanan di Homel menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstran.

Protes di Minsk, Homel, dan kota-kota lain itu terjadi setelah Lukashenko, yang berkuasa sejak tahun 1994, dilantik pada 23 September dalam upacara yang diadakan diam-diam. Negara-negara anggota Uni Eropa dan Amerika merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa mereka tidak mengakui legitimasinya.

Juru bicara Komisi Eksekutif Regional Homel, Departemen Urusan Dalam Negeri, mengatakan "perangkat teknis" digunakan untuk menyebabkan ledakan keras dan kilatan cahaya. Gas air mata digunakan "karena sebagian orang bertindak tidak pantas," kantor berita RFE/RL seksi Belarus melaporkan.

Puluhan ribu orang, dengan mengibarkan bendera oposisi merah dan putih, berbaris di kota Minsk dalam demonstrasi terbaru sejak Lukashenko dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden 9 Agustus. Demonstran berencana mengadakan "pelantikan rakyat" untuk mendukung Svyatlana Tsikhanouskaya, calon oposisi yang mengasingkan diri ke Lituania.

Tsikhanouskaya mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada saat-saat terakhir setelah pencalonan suaminya pupus karena dipenjara. Ia menyatakan menang dalam pemilihan 9 Agustus itu dengan 60 hingga 70 persen suara. Ia meminta warga Belarus berdemonstrasi hari Minggu menuntut "pemilu baru yang jujur dan, sebagai hasilnya, pelantikan resmi yang sah".

Di Minsk, polisi anti huru hara dengan mengenakan topeng hitam hari Minggu menangkap puluhan demonstran dan memaksa mereka masuk ke mobil polisi. Sebelumnya, polisi menahan lebih dari 100 demonstran dalam pawai perempuan.

Ratusan ribu warga Belarus turun ke jalan-jalan dalam tujuh pekan ini. Mereka menuntut Lukashenko mundur dan pemilu baru diadakan.

Lukashenko memerintahkan tindakan brutal pasca pemilu sebagai tanggapan atas aksi-aksi massa itu, termasuk penangkapan, pemukulan, dan penganiayaan serta pengusiran wartawan asing. Ia membantah tudingan bahwa pemilu itu dicurangi.[ka/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG