Tautan-tautan Akses

Presiden Prancis, Pimpinan WHO Umumkan Pembentukan Akademi WHO


Presiden Prancis Emmanuel Macron, kanan, dan Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran, ketiga kanan, menunggu Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat mereka tiba untuk memimpin upacara pembukaan Akademi WHO di Lyon, Prancis tengah,
Presiden Prancis Emmanuel Macron, kanan, dan Menteri Kesehatan Prancis Olivier Veran, ketiga kanan, menunggu Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat mereka tiba untuk memimpin upacara pembukaan Akademi WHO di Lyon, Prancis tengah,

Situasi pandemi menekankan kebutuhan dunia akan pentingnya layanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang memadai. Kesadaran ini telah menciptakan lembaga pendidikan kesehatan bagi profesional dan tenaga medis. Pemerintah Prancis bekerja sama dengan WHO membentuk Akademi WHO yang berpusat di Lyon.

Akademi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah pusat pembelajaran seumur hidup tercanggih dari Organisasi Kesehatan Dunia, dilengkapi dengan inovasi terbaru dalam pembelajaran orang dewasa untuk kesehatan global.

WHO, yang didukung oleh Prancis, sekarang sedang membangun sebuah akademi yang akan meningkatkan pembelajaran melalui program pembelajaran online, tatap muka, dan gabungan, yang menjangkau jutaan petugas kesehatan dan lainnya di seluruh dunia, demikian seperti dilaporkan kantor berita AP.

Presiden Prancis Emmanuel Macron dan sekretaris jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada minggu terakhir September telah memulai pembangunan "WHO Academy" bernilai jutaan dolar untuk mendidik petugas kesehatan secara langsung dan virtual, setelah COVID-19 mengubah sistem pendidikan di seluruh dunia.

Macron dan Tedros ikut serta dalam upacara peletakan batu pertama di lokasi gedung akademi itu di Lyon, kota di Prancis tenggara, menjelang pembukaan kampus yang direncanakan pada tahun 2024.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, kanan, berbicara dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat pembukaan Akademi Organisasi Kesehatan Dunia di Lyon, Prancis tengah, Senin, 27 September 2021. (Foto: Ludovic Marin via AP)
Presiden Prancis Emmanuel Macron, kanan, berbicara dengan Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat pembukaan Akademi Organisasi Kesehatan Dunia di Lyon, Prancis tengah, Senin, 27 September 2021. (Foto: Ludovic Marin via AP)

“Kita perlu melatih tenaga kesehatan dari semua negara di dunia. Kita perlu mengkonsolidasikan perawatan kesehatan utama di semua negara di dunia. Jangan menganggap masalah kesehatan akan hilang ketika pandemi berakhir. Itu salah, tapi justru sebaliknya. Jadi, pelatihan dan konsolidasi sistem layanan kesehatan sangat penting. Akademi akan berperan penting tetapi pengembangan dan kebijakan kita juga harus berbuat lebih banyak. Itu penting. Jangan lupakan itu," papar Macron.

Akademi WHO berharap untuk menghasilkan 100 "program pembelajaran utama" pada tahun 2023 – melalui kelas online – dan menggunakan realitas virtual, permainan edukatif, dan kecerdasan buatan untuk membantu tenaga kerja dan petugas kesehatan serta pendidik WHO secara global.

Program utama akan mencakup kesetaraan vaksin untuk vaksin virus corona, asuransi kesehatan universal dan keadaan darurat kesehatan yang semuanya merupakan proyek utama WHO.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berbicara saat pembukaan Akademi Organisasi Kesehatan Dunia di Lyon, Prancis tengah, Senin, 27 September 2021. (Foto: Denis Balibousevia AP)
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus berbicara saat pembukaan Akademi Organisasi Kesehatan Dunia di Lyon, Prancis tengah, Senin, 27 September 2021. (Foto: Denis Balibousevia AP)

"Kita perlu mencari cara untuk memastikan pedoman WHO diterapkan lebih cepat dan memberikan hasil lebih cepat. Untuk itu, kita harus memastikan bahwa petugas kesehatan bisa mengakses kesempatan belajar yang akan membantu mereka menerapkan pedoman WHO terbaru dan membuat perbedaan nyata dalam kehidupan. orang-orang yang mereka layani," ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus, pimpinan WHO.

Ia juga menekankan pandemi telah mengajarkan kepada dunia betapa pentingnya tenaga kesehatan.

"Pandemi COVID-19 merupakan pengingat keras betapa pentingnya tenaga kesehatan dan mengapa mereka membutuhkan investasi, pekerjaan yang layak, informasi terkini, kompetensi, dan saranauntuk menjaga komunitas mereka tetap sehat dan aman. Tantangan global terus berkembang dan begitu pula cara kita belajar," katanya.

Akademi WHO bertujuan untuk menjangkau jutaan orang, bukan hanya mereka yang berada di dunia perawatan kesehatan, untuk membantu mengimbangi kecepatan perubahan ilmiah dalam perawatan kesehatan.

Akademi tersebut dipimpin oleh mantan menteri kesehatan Prancis Agnes Buzyn, dan Prancis telah menyumbangkan lebih dari $140 juta untuk proyek tersebut.

Situs WHO menyebut kampus Akademi WHO di Lyon, Prancis yang direncanakan selesai pembangunannya pada tahun 2024 ini akan mencerminkan nilai dan ambisi WHO: menjadi fasilitas yang cerdas, mudah diakses, ramah lingkungan, dan interaktif di jantung distrik bio-medis Lyon

Kampus Akademi WHO itu dirancang akan memiliki ruang berteknologi tinggi untuk desain pembelajaran kolaboratif, penelitian pendidikan, dan inovasi. Kampus ini juga akan menjadi pusat simulasi darurat kesehatan kelas dunia yang akan menggunakan teknologi terbaru untuk memungkinkan petugas kesehatan mempertajam kompetensi mereka di tengah skenario realistis termasuk korban massal dan wabah penyakit.

Sebagai Negara Anggota WHO dan pemain penting dalam kesehatan global, Prancis adalah investor utama dalam pengembangan Akademi itu, mendukung pendirian dan infrastrukturnya. Pencapaian ini dimungkinkan berkat tindakan kolektif, komitmen dan dukungan keuangan dari Kota Lyon serta wilayah Auvergne-Rhône-Alpes, yang menyumbang 25 juta euro dari total investasi.

Wilayah itu akan menjadi pemilik kampus dan menyewakannya kepada WHO. [my]

XS
SM
MD
LG