Tautan-tautan Akses

PM Israel: Tidak Berubah, Larangan Yahudi Berdoa di Al-Aqsa 


Seorang demonstran Palestina mengenakan masker, memegang batu saat berlangsungnya bentrokan dengan pasukan keamanan Israel di kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Jumat, 18 Juni 2021. (AP Photo/Mahmoud Illean)

Peraturan yang melarang orang-orang Yahudi berdoa di sebuah lokasi yang diperebutkan di Yerusalem tidak akan diubah oleh PM Israel Naftali Bennett. Pernyataan itu dikeluarkan kantor perdana menteri, Senin (19/7), sebagai penegasan bahwa ia menarik kembali komentar yang memicu reaksi marah sehari sebelumnya.

Bennett, perdana menteri baru Israel, telah menimbulkan kekhawatiran pada hari Minggu ketika ia mengatakan bahwa Israel berkomitmen untuk melindungi kebebasan beribadah orang-orang Yahudi di kompleks di puncak bukit itu. Di bawah praktik lama, orang-orang Yahudi diizinkan mengunjungi, tetapi tidak untuk berdoa di lokasi yang mereka sebut sebagai Bukit Bait Suci, dan oleh umat Islam merupakan tempat suci Masjid Al Aqsa.

Orang-orang Palestina dan otoritas Islam di situs tersebut khawatir bahwa Israel perlahan-lahan mencoba untuk menguasai daerah tersebut, dan pernah mengeluhkan bahwa orang-orang Yahudi terus berdoa di sana. Ketegangan masih tetap tinggi di sana setelah kerusuhan turut memicu perang 11 hari Israel-Hamas Mei lalu.

Terlepas dari ungkapan Bennett, status quo tetap berlaku, menurut seorang pejabat di kantor perdana menteri yang tidak berwenang untuk berbicara ke publik dan meminta namanya dirahasiakan.

Sejumlah perempuan Palestina berteriak ke arah jemaah Yahudi setelah sempat bentrok antara polisi Israel dan warga Palestina di Masjid Alaqsa mengenai kunjungan jemaah Yahudi di Kuil Suci, di Yerusalem, Minggu, 18 Juli 2021. (Foto: Ammar Awad/Reuters)
Sejumlah perempuan Palestina berteriak ke arah jemaah Yahudi setelah sempat bentrok antara polisi Israel dan warga Palestina di Masjid Alaqsa mengenai kunjungan jemaah Yahudi di Kuil Suci, di Yerusalem, Minggu, 18 Juli 2021. (Foto: Ammar Awad/Reuters)

Klarifikasi dari kantor Bennet muncul setelah hari yang menegangkan di mana ratusan peziarah Yahudi mengunjungi kompleks di bawah penjagaan ketat polisi untuk memperingati Tisha B'Av, hari berkabung dan pertobatan, sewaktu orang-orang Yahudi merenungkan penghancuran Bait Suci Pertama dan Kedua. Mereka meyakini, kompleks di puncak bukit itu merupakan lokasi di mana Bait-bait yang disebut dalam Alkitab pernah berdiri dan merupakan situs tersuci dalam ajaran Yudaisme.

Muslim menghormati situs tersebut sebagai Al-Haram al-Sharif (Tempat Suci Mulia), lokasi Masjid Al Aqsa dan tempat suci ketiga dalam Islam. Minggu pagi, jemaah Muslim sempat bentrok dengan pasukan keamanan Israel di lokasi tersebut.

Tidak ada korban cedera yang dilaporkan, tetapi insiden itu kembali meningkatkan ketegangan. Insiden itu terjadi hanya beberapa hari sebelum umat Islam merayakan Idul Adha, atau Hari Raya Kurban. [ab/uh]

Lihat komentar (10)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG