Tautan-tautan Akses

PM Inggris Johnson: Pembicaraan Damai Ukraina Gagal karena "Buaya" Putin


Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bertemu di sela-sela KTT Libya di Berlin, Jerman, 19 Januari 2020. (Foto: Sputnik/Aleksey Nikolskyi/Kremlin via REUTERS)
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson bertemu di sela-sela KTT Libya di Berlin, Jerman, 19 Januari 2020. (Foto: Sputnik/Aleksey Nikolskyi/Kremlin via REUTERS)

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan setiap pembicaraan damai mengenai Ukraina kemungkinan akan gagal. Ia menganalogikan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin ibarat bernegosiasi dengan seekor buaya.

Johnson mengatakan berurusan dengan Putin seperti "buaya ketika kaki Anda berada di rahangnya" dan mengatakan sangat penting bahwa Barat untuk terus mempersenjatai Ukraina.

Johnson mengatakan hal itu saat dia menuju ke India, di mana dia akan mendorong PM India Narendra Modi untuk mengakhiri netralitasnya atas perang di Ukraina. Dia mengecilkan kemungkinan bahwa India akan mengakhiri hubungan lama dengan Rusia.

Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace, kedua kiri, dan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, kedua kanan, berbicara satu sama lain selama pertemuan mereka di Moskow, Rusia, Jumat, 11 Februari 2022. (Foto: via AP)
Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace, kedua kiri, dan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu, kedua kanan, berbicara satu sama lain selama pertemuan mereka di Moskow, Rusia, Jumat, 11 Februari 2022. (Foto: via AP)

"Sangat sulit untuk melihat bagaimana Ukraina dapat bernegosiasi dengan Putin sekarang karena kurangnya itikad baik yang nyata," kata Johnson. "Strateginya, yang terbukti, adalah mencoba menelan dan merebut sebanyak mungkin (kota-kota di) Ukraina dan mungkin melakukan semacam negosiasi dalam posisi yang kuat."

Johnson mengatakan para pemimpin dunia, termasuk Presiden AS Joe Biden, menyetujui imbauan yang dilakukan pada minggu ini bahwa mereka akan terus memasok Ukraina dengan senjata, termasuk artileri. Hal tersebut dilakukan ketika Rusia mengintensifkan serangannya di Ukraina Timur.

Ukraina dan Rusia tidak mengadakan pembicaraan damai secara tatap muka sejak 29 Maret, dan suasana keduanya telah memburuk akibat tuduhan Ukraina bahwa pasukan Rusia melakukan kekejaman di kota Bucha dekat Kyiv. Moskow telah membantah klaim tersebut.

Rusia merebut kota pertamanya di Ukraina timur sebagai bagian dari serangan terkini yang dilakukan minggu ini. Pejabat Ukraina menggambarkan serangan tersebut sebagai Pertempuran Donbas.

Netralitas India

Johnson mengatakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan kepadanya bahwa dia yakin akan menghalau pasukan Rusia keluar dari wilayah Donbas timur. Meski demikian Zelenskyy memastikan pasukannya tidak mungkin merebut kembali Krimea, yang dianeksasi Rusia delapan tahun lalu.

“Pandangan Presiden Ukraina, jika saya memahaminya dengan benar setelah banyak pembicaraan yang kami lakukan, ialah dia sebenarnya ingin pasukan Rusia diusir dari posisi mereka yang ada di Donetsk dan Luhansk. Jadi itu adalah capaian yang cukup maksimal, namun (merebut kembali) Krimea tampaknya tidak mungkin," katanya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, kiri, dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, berjabat tangan di pusat kota Kyiv, Ukraina, Sabtu, 9 April 2022. (Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via AP)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, kiri, dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, berjabat tangan di pusat kota Kyiv, Ukraina, Sabtu, 9 April 2022. (Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via AP)

Putin telah menjelaskan bahwa dia ingin mencaplok lebih banyak wilayah Ukraina dan dapat menggempur Ibu Kota negara itu, Kyiv, kata Johnson.

"Bagaimana Anda bisa bernegosiasi dengan buaya ketika kaki Anda berada di rahangnya? Itulah kesulitan yang dihadapi Ukraina. Kami hanya harus terus menjalankan strategi, terus memasok mereka dengan senjata," katanya.

Johnson mengatakan ketika dia bertemu Modi di New Delhi pada Jumat (23/4), dia akan mendorong India untuk mendukung Ukraina. Namun dia menerima bahwa India kemungkinan besar akan mempertahankan hubungannya dengan Rusia.

"Saya sudah berbicara dengan Narendra Modi tentang Ukraina dan sebenarnya orang India mengutuk apa yang terjadi di Bucha," katanya. “Namun, Inggris khususnya, harus mengakui bahwa ada hubungan bersejarah yang dimiliki India dengan Rusia. Saya pikir kita harus menerima itu, saya khawatir dengan hanya menunjukkan di mana Putin berada akan membuat Rusia kecewa.”

India, yang merupakan pembeli terbesar senjata Rusia dan mengimpor minyaknya, abstain dalam pemungutan suara PBB yang mengutuk invasi tersebut dan belum menjatuhkan sanksi terhadap Moskow. [ah/rs]

XS
SM
MD
LG