Tautan-tautan Akses

Petani Pakistan dapat Petunjuk Lewat SMS


Seorang petani mengumpulkan kol yang dipanen dari ladang di pinggiran Peshawar, Pakistan, hari Minggu, 24 Januari 2016 (foto: AP Photo/Mohammad Sajjad)

Telepon selular dan satelit menjadi alat pertanian terbaru yang digunakan dalam pekerjaan sehari-hari di Pakistan untuk memanfaatkan data satelit memberikan estimasi berapa banyak air yang dibutuhkan sebuah ladang dan kemudian mengirimkan sms informasi ini kepada para petani.

Alat pertanian terbaru yang digunakan dalam pekerjaan sehari-hari di Pakistan adalah telepon selular dan satelit. Sebuah program baru dengan memanfaatkan data satelit memberikan estimasi berapa banyak air yang dibutuhkan sebuah ladang, dan kemudian mengirimkan sms informasi ini kepada para petani.

Harapannya adalah untuk mencegah pengairan berlebih. Laporan tahun 2013 dari Asian Development Bank menyebut Pakistan “sebagai salah satu dari negara yang paling kesulitan air di dunia,” dengan kapasitas cadangan air 30 hari, jauh di bawak kapasitas yang disarankan yaitu 1.000 hari. Sumber air per kapita sejajar dengan Suriah, dimana kekeringan telah membantu memicu perang saudara.

Wanita petani Pakistan menanam bibit sayur mayur di Lahore, Pakistan, 13 Juni 2014.
Wanita petani Pakistan menanam bibit sayur mayur di Lahore, Pakistan, 13 Juni 2014.

Krisis air dipicu oleh beragam faktor: perubahan iklim, meningkatnya populasi, salah manajemen di tingkat lokal, dan permintaan lebih pesar pada para petani. Kondisi ini mengancam untuk mendestablikan hubungan antara Pakistan dan India, yang berbagi sumber air dari Sungai Indus.

Menutup keran

Kelebihan pengairan berdampak pada biaya tinggi pada para petani yang sedang berupaya untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Sementara Pakistan terus menderita kelangkaan bahan bakar yang kronis, para petani harus menggunakan motor diesel untuk memompa air tanah ke ladang-ladang mereka. Semakin rendah permukaan air tanah, semakin banyak bahan bakar yang dibutuhkan untuk memompanya ke permukaan.

Kelebihan pengairan juga mengurangi hasil panen. Namun banyak dari para petani yang lebih tua mempelajari keahliannya saat air masih mudah di dapat, dan risiko dari kekurangan pengairan begitu besar sehingga para petani terebut masih berbuat kekeliruan dengan mengaliri ladangnya dengan air yang berlimpah. Pakistan Council of Research in Water Resources (PCRWR) mendapati petani padi menggunakan air tiga kali lebih banyak dari apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

PCRWR menghubungi kelompok peneliti Sustainability, Satellites, Water, and Environment (SASWE) di the University of Washington, berharap untuk dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk dapat menginformasikan berbagai pilihan irigasi yang tersedia.

Program ini diluncurkan oleh Pakistan musim semi lalu dengan 700 petani perintis. Terhitung bulan Januari, sudah 10.000 petani yang menerima pesan seperti ini: “Sahabat petani, kami ingin menginformasikan kepada anda kebutuhan irigasi untuk tanaman pisang anda setinggi 2 inci untuk pekan lalu.”

Pesan-pesan ini berasal dari sistem yang sepenuhnya otomatis yang melakukan segalanya dari mengunduh data satelit yang tersedia secara publik hingga mendistribusikan sms dengan menggunakan model untuk menghitung seberapa banyak air yang dibutuhkan masing-masing petani untuk mengirigasikan ladangnya.

Warga berpartisipasi dalam sholat untuk minta hujan di Peshawar, Pakistan, 30 Des 2016. Langkanya hujan musim dingin di negara itu telah menimbulkan masalah bagi para petani
Warga berpartisipasi dalam sholat untuk minta hujan di Peshawar, Pakistan, 30 Des 2016. Langkanya hujan musim dingin di negara itu telah menimbulkan masalah bagi para petani

Upaya seantero negeri

PCRWR berencana untuk meningkatkan program ini untuk dimanfaatkan di seantero negeri, dan berharap jutaan petani bersedia untuk berpartisipasi. Namun pertama-tama mereka mengkaji sistem ini dahulu. Mereka ingin tahu seberapa mudah sistem ini dapat digunakan oleh para petani, dan berapa banyak petani yang benar-benera mengikuti petunjuk untuk pengirigasian. Dan mereka ingin mengetahui seberapa akurat sistem ini dan seberapa efektif sistem ini dapat menghemat uang petani.

Mereka mengumpulkan masukan dari petani lewat telepon.

“Saya belum melihat laporannya,” ujar Faisal Hossain dari SASWE kepada VOA, namun “kami mendengar cerita bulan lalu bagaimana salah satu petani bercerita pada kami bagaimana ia mampu mendapatkan panen 700 kilogram gandum lebih banyak untuk setiap lahan seluas 4.047 meter persegi dibandingkan tetangganya.” Petani tersebut memberi pujian pada arahan yang kami berikan.

Ada banyak tantangan untuk perluasan program ini. Masih banyak yang harus mereka kerjakan untuk meyakinkan para petani untuk mempercayai teknologi ini. Karena banyak petani menggunakannya pada lahan-lahan pertanian yang lebih sempit dengan medan yang lebih bervariasi, resolusi data satelit mungkin tidak cukup teliti untuk memberikan ukuran yang akurat. Dan beberapa petani kecil mungkin masih belum merasa nyaman untuk mengandalkan teknologi telepon selular.

Namun sebagian ebsar, telepon selular sudah tersedia luas di Pakistan. Tahun lalu, pemerintah daerah Punjab melaporkan mereka akan membagikan 5 juta telepon pintar pada para petani. [ww]

XS
SM
MD
LG